redesain-navbar Portlet

Blog

Ajak Siswa Mencari Tahu Sendiri melalui Discovery Learning

Foto Oleh Agung Pandit Wiguna dari Pexels

Setiap manusia memiliki rasa penasaran. Rasa penasaran tersebut membuat manusia menjadi orang yang ingin mencari tahu tentang banyak hal. Misalnya, ketika dihadapkan pada situasi sulit yang belum pernah terjadi pada dirinya, seseorang akan berusaha untuk mencari jalan keluar agar dapat menyelesaikan persoalan sulit yang sedang dihadapinya.

Sama halnya dengan situasi di kelas. Apakah siswa sering bertanya, Guru Pintar? Apakah siswa menyenangi hal-hal yang membuatnya merasa tertantang untuk mencari tahu lebih lanjut? Apakah Guru Pintar menyukai situasi ketika siswa dapat menghasilkan pemahaman yang lebih baik terhadap materi yang sedang dipelajari? Jika iya, maka teknik pembelajaran discovery learning atau pembelajaran penemuan akan menjadi model pembelajaran yang tepat untuk kelas Guru Pintar.

Richard E. Mayer (2004) mengulas tentang discovery learning atau pembelajaran penemuan, hasil dari beberapa dekade penelitiannya. Pada pembelajaran penemuan yang terpandu, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan dieksplorasi oleh siswa dalam aktivitas belajar yang terbimbing. Pada pembelajaran tanpa panduan, siswa diperbolehkan untuk belajar dengan arahan yang minimal atau bahkan tanpa arahan sama sekali. Dari penelitiannya, Mayer menemukan bahwa pembelajaran penemuan yang terpandu mampu memberikan hasil yang lebih baik.

 

Pengertian Discovery Learning

Nah, apa itu discovery learning atau pembelajaran penemuan? Pembelajaran penemuan mengacu pada pembelajaran yang terjadi ketika siswa diminta mencari tahu atau menemukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Lalu, kapan sebaiknya pembelajaran penemuan diterapkan? Pertama, pembelajaran penemuan dapat diterapkan ketika Guru Pintar ingin agar siswa mengetahui cara berpikir dan mencari tahu berbagai hal secara individual/mandiri. Kedua, Guru Pintar yang menggunakan metode ini ingin agar siswa menemukan caranya sendiri dalam memperoleh pengetahuan. Pembelajaran penemuan membuat siswa belajar dengan mengumpulkan, mengorganisir, dan menganalisis informasi untuk mencapai kesimpulan mereka sendiri. Ketiga, pembelajaran penemuan diterapkan ketika Guru Pintar ingin agar siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis, menyintesis, dan mengevaluasi.

 

Karakteristik Discovery Learning

Selanjutnya, bagaimana cara Guru Pintar menerapkan discovery learning atau pembelajaran penemuan? Untuk itu, kita kenali dulu karakteristik dari pembelajaran penemuan.

1. Menciptakan penemuan pengetahuan

Peranan Guru Pintar tidak untuk memberikan pengetahuan secara langsung (direct), namun lebih untuk menciptakan pengalaman belajar siswa di dalam kelas. Guru berperan melibatkan siswa dalam aktivitas yang bertujuan agar mereka menemukan pengetahuan.

2. Memberikan ruang untuk eksplorasi dan pemikiran mandiri

Guru Pintar mendorong siswa untuk berpikir lebih mendalam dengan meneliti. Mereka belajar melalui penelitian yang dikerjakannya.

3. Siswa tertantang untuk menemukan beragam hal sendiri

Siswa merasa tertantang untuk menemukan pengetahuan bagi dirinya sendiri alih-alih guru yang memberikan pengetahuan tersebut. Dengan begitu, siswa merasa berdaya karena menemukan potensi pada dirinya sendiri.

4. Partisipasi dan interaksi siswa yang tinggi

Dalam pembelajaran penemuan, banyak interaksi yang dilakukan antara guru dan siswa. Dengan partisipasi siswa yang aktif, terdapat interaksi memberi dan menerima ide yang cukup intens selama pembelajaran penemuan berlangsung.

5. Siswa menjalankan pemikiran tingkat tinggi

Agar siswa dapat berpikir pada tingkat pemikiran yang lebih tinggi, guru dapat menanyakan beberapa hal seperti “Bagaimana menurut kamu?” atau “Bagaimana cara kita mencari tahu mengenai hal tersebut?” dan “Bagaimana kita mengetahuinya?”

 

Langkah/Tahapan Discovery Learning

Uraian di atas telah menjelaskan tentang pengertian, tujuan, dan karakteristik discovery learning atau pembelajaran penemuan. Lalu bagaimana caranya agar Guru Pintar dapat menerapkan pembelajaran penemuan? Terdapat tiga tahapan yang harus dijalani, yaitu tahap persiapan, penyampaian, dan penutup.

a. Tahap Persiapan

- Menentukan tujuan umum pelajaran

- Menentukan tujuan pelajaran yang spesifik (mengidentifikasi konsep, fakta, generalisasi, atau peraturan yang akan ditemukan)

- Mengumpulkan sumber daya dan materi yang berguna

- Memastikan siswa siap menggunakan metode induktif

b. Tahap Penyampaian

- Menarik minat siswa melalui serangkaian induksi

- Menyajikan situasi yang membingungkan atau menantang

- Menggunakan pertanyaan yang mendukung penemuan/eksplorasi (misal, bagaimana)

- Pastikan siswa tahu apa yang harus mereka lakukan

- Mengawasi dan membimbing aktivitas dan proses berpikir pada siswa

- Mendorong observasi, mengumpulkan dan mengorganisasi, memanipulasi, menganalisis ide-ide dan data dst.

c. Tahap Penutup

- Membantu siswa mengorganisasi dan membahasakan konsep, fakta, dst., yang telah mereka simpulkan

- Menyediakan kesempatan untuk menggunakan pengetahuan baru.

 

Ya, memang peranan guru dan siswa akan berubah secara drastis ketika Guru Pintar melaksanakan pembelajaran penemuan. Demikian juga, proses belajar siswa berubah dengan sama drastisnya. Akan tetapi, pembelajaran penemuan menjanjikan kepastian bahwa siswa Anda mampu berpikir bagi dirinya sendiri.

Agar dapat menerapkan pembelajaran penemuan secara efektif, Guru Pintar perlu meyakini akan kegunaannya. Guru Pintar harus memiliki kualitas tertentu, seperti rasa ingin tahu, optimisme, dan kepercayaan bahwa siswa mampu berpikir dan meneliti. Tak kalah penting, Guru Pintar juga harus memiliki kesabaran selama menerapkan model pembelajaran ini. Terakhir, Guru pintar harus mengetahui dan mengikuti arahan peraturan atau prosedur pembelajaran penemuan.

 

Referensi

Cruickshank, D. R., dkk. (2014). The Art of Teaching, 6th ed. McGraw-Hill Education (Asia) dan Salemba Empat.

 

Penulis: Salsabila Denita

00

Entri Blog Lainnya

thumbnail
thumbnail
Menambah Komentar

CssBlog

metablog-web Portlet