Ayo Cari Tahu: Tipe-Tipe Gangguan Kepribadian
APSiswaNavbarV2
Tesssss Tesssss
CssBlog
redesain-navbar Portlet
metablog-web Portlet
Blog
Ayo Cari Tahu Tipe-Tipe Gangguan Kepribadian, photo via www.borderline-personality-disorder.com
Pernah dituduh paranoid, Sobat? Atau justru Sobat pernah memberi label paranoid pada orang lain? Did you know that it's not so easy to call someone paranoid? Paranoid termasuk kedalam salah satu jenis gangguan kepribadian. Ingin tahu jenis-jenis gangguan kepribadian yang lain?
1. Paranoid
Dibanding tipe gangguan kepribadian yang lain, paranoid terbilang yang paling familiar ditelinga kita. Seseorang yang paranoid menganggap orang lain, sekalipun teman atau keluarga sendiri, berbahaya. Oleh sebab itu, seorang paranoid akan terus-menerus merasa curiga, bahkan mencari-cari alasan untuk membenarkan prasangkanya.
Seseorang yang paranoid akan dengan mudah merasa bahwa dirinya dijauhi, ditolak, atau tidak disukai. Sesuatu yang dianggap biasa oleh orang kebanyakan dapat dianggap memalukan bagi seorang paranoid. Karena senantiasa memendam rasa jengkel, seorang paranoid cenderung memiliki hubungan interpersonal yang kurang baik.
Seorang paranoid mempertahankan egonya dengan menyematkan pikiran dan perasaan negatifnya pada orang lain. Laman Psychology Today menyebutkan bahwa kondisi kejiwaan paranoid terjadi karena faktor lingkungan, namun faktor genetika pun memiliki andil didalamnya.
Ilmu kejiwaan menempatkan paranoid kedalam kluster A. Selain paranoid, schizoid dan schizotypal termasuk kedalam kluster yang sama.
2. Antisosial
Selain paranoid, antisosial juga cukup akrab ditelinga, bukan? Antisosial tak ada kaitannya dengan relasi sosial, Sobat. Rather, antisocial is a type of personality disorder.
Seseorang disebut antisosial bila tindakan dan kata-katanya sangat abai akan perasaan orang lain. Seorang antisosial cenderung mengabaikan aturan dan kewajiban sosial yang berlaku, mudah tersinggung, bersikap agresif, impulsif, bahkan tak mudah merasa bersalah.
Gangguan kepribadian ini berada didalam kluster B, bersama dengan gangguan kepribadian ambang, histrionik, dan narsisistik. Is the last one the most familiar to you, Sobat?
Kita dengan mudah melontarkan 'tuduhan' narsis walaupun dalam konteks bercanda. Padahal, seseorang yang memiliki gangguan kepribadian narsisistik punya satu ciri mencolok, yaitu egois. Ia suka mencari perhatian dan pujian, namun pilih-pilih siapa yang layak dan pantas untuk menjadi temannya.
3. Obsesif Kompulsif
Seseorang disebut obsesif kompulsif ketika pikiran-pikiran negatifnya sendiri membuatnya merasa takut, khawatir, dan gelisah sehingga timbul obsesi berlebihan untuk menghilangkan kecemasannya. Obsesi tersebut dapat tertuju pada detail, pengaturan, jadwal, tataurutan, bahkan aturan.
Obsesi yang timbul memang mirip dengan sikap perfeksionisme. Tapi bagi seorang obsesif kompulsif, perfeksionisme yang dikejarnya sangat berlebihan sampai-sampai tak ada pekerjaan yang dapat dituntaskan. Kesungguhannya dalam bekerja pun sampai mengorbankan waktu santai dan hubungan interpersonalnya.
Kita dapat mengenali seorang obsesif kompulsif ketika ia terlalu berhati-hati dan kaku dalam segala hal. An obsessive compulsive person needs to control everything. Ketika ada hal yang tak bisa dikendalikan atau dipahami, kencenderungan obsesif kompulsifnya akan membuatnya semakin cemas.
Karena kebutuhannya untuk serba mengambil kendali, seorang obsesif kompulsif biasanya sulit mentolerir. Lebih mudah baginya untuk menggolongkan baik atau buruk alih-alih memahami segala fenomena yang memang terjadi. Tak jarang, tuntutan yang tak masuk akal merusak hubungan interpersonalnya dengan teman dan keluarga.
Obsessive compulsive personality disorder belongs to cluster C. Didalam kelompok yang sama ini juga terdapat gangguang kepribadian avoidant (cemas menghindar) dan dependent (ketergantungan).
The majority of those with personality disorder deny their mental health condition. Padahal, tanpa penanganan yang tepat, gangguan kepribadian akan tetap melekat. Melalui berbagai macam terapi psikologi, seperti family-focused therapy, interpersonal therapy, atau terapi psikologi yang lain, gangguan kepribadian sebenarnya dapat diatasi.
ArtikelTerkaitV3
Misteri Banjir di Dataran Tinggi: Kok Bisa Ya, Sobat Pintar?
Belakangan ini, Kota Malang yang terkenal dengan udara sejuk dan pemandangan pegunungannya justru dilanda banjir. Wah, padahal kan Malang itu dataran tinggi, kok bisa kebanjiran? Nah, biar nggak penasaran, yuk kita kupas tuntas alasan di balik fenomena in...
Baca Selengkapnya
LPG vs DME: Kompor di Rumah Harus Dimodifikasi atau Bisa Lan
Wacana Pemerintah: LPG Bakal Diganti DME, Apa Bedanya? Sobat Pintar, pemerintah sedang gencar mendorong penggunaan Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk mengurangi impor energi. Tapi, apa benar kompor LPG di rumah bis...
China Bangun Pabrik Kelapa di Morowali: Ini Peluang Emas bua
Sobat Pintar, baru-baru ini viral kabar tentang rencana pembangunan pabrik kelapa oleh investor asal China di Morowali. Kabar ini bukan cuma penting buat dunia bisnis, tapi juga buat kita yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah. Kenapa? Karena ini ...
Hai Sobat Pintar,
Yuk Cobain Aplikasi Aku Pintar Sekarang Juga!
Jutaan siswa sudah menemukan minat, bakat dan kampus impian bersama Aku Pintar. Sekarang giliran kamu Sobat!
BannerPromoBlog