redesain-navbar Portlet

null

Blog

Kenalan Yuk dengan Production Based Learning!

Foto oleh Alena Darmel dari Pexels

Production based learning  merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat menanamkan jiwa kewirausahaan atau entrepreneurship pada siswa. Product based learning atau pembelajaran berbasis produksi ini dapat diaplikasikan dalam berbagai jenjang Pendidikan. Tetapi akan lebih cocok lagi diaplikasikan di sekolah menengah kejuruan yang memang membekali siswa dengan keterampilan untuk menghasilkan produk layak jual.

Model pembelajaran ini sangat menarik karena pembelajaran berbasis produksi tidak hanya mengajarkan teori tetapi juga diikuti dengan praktik langsung sekaligus memproduksi sebuah produk. Pada tahun 2011, Sumartana  menuliskan bahwa model pembelajaran berbasis produksi yang lebih menekankan pada pembelajaran praktik ini lebih memudahkan siswa dalam memahami dan menyerap materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Harapan dari penerapan model pembelajaran product based learning adalah siswa dapat belajar secara efektif karena konsep pendekatan pembelajaran ini tidak sekedar menuntut siswa untuk mencapai standar kompetensi sesuai yang telah ditentukan, siswa juga dituntut untuk mencapai standar kompetensi dengan waktu yang telah ditentukan.

Model pembelajaran berbasis produksi akan memberikan pengalaman berharga bagaimana membuat barang atau model yang nyata diperlukan dalam dunia kerja (industri dan masyarakat). Pola pembelajaran production based learning memberikan nilai lebih dalam aspek pengalaman. Pengalaman membuat sesuatu yang nyata yang diperlukan dan akan digunakan dalam dunia kerja.

Ciri-Ciri Production Based Learning

production based learning

Foto oleh cottonbro dari Pexels

Pembelajaran production based learning menurut Ardiansah pada tahun 2014 memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Bahan untuk latihan praktik (job sheet) dirancang untuk mengakomodasikan tingkat kesulitan yang mungkin ditemui di dunia industri.

2. Bahan latihan yang digunakan merupakan standar yang cenderung untuk tidak berubah. Bahan latihan tidak harus merupakan sebuah produk yang dapat digunakan atau suku cadang tertentu.

3. Bahan latihan biasanya digunakan untuk simulasi atas suatu proses, bentuk atau tingkat kesulitan pengerjaan.

4. Hasil latihan sebagian besar biasanya produk yang belum bisa dijual.

5. Pendalaman pada materi tertentu didapatkan dari latihan yang terus-menerus sehingga keahlian seorang siswa akan terasah. Basis teknologi yang dipakai bisa bersifat konvensional maupun modern.

Hadiwaratama pada tahun 2008 mengatakan bahwa pembelajaran berbasis produksi membutuhkan peralatan dan mesin berskala produksi. Peralatan dan mesin tersebut dapat dikembangkan dalam skala pendidikan. Sekolah yang menerapkan production based learning wajib memiliki peralatan pendukung yang menyamai standar industri meskipun dalam ukuran yang relatif lebih kecil.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Produksi

Ada tiga karakteristik utama dari production based learning  menurut Gustafson 2003 dalam Mursad 2013. Karakteristik tersebut adalah:

1. Adanya asumsi bahwa produk pembelajaran tersebut diperlukan

2. Memerlukan uji coba dan revisi berulang kali hingga mantap.

3. Adanya asumsi bahwa produk tersebut harus dapat digunakan oleh berbagai pengelola pembelajaran.

Dengan adanya penerapan scientific learning 5M dalam kurikulum 2013,  menunjukkan bahwa kurikulum 2013 sangat mendukung pembelajaran berbasis produk ini. 5M tersebut adalah mengamati, menanya, menyajikan, menalar, dan mencoba. Mengamati adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang siswa saat dikelas. Menanya berhubungan dengan perihal unit produksi dapat dilakukan saat di kelas maupun di lapangan. Menyajikan adalah menyajikan data maupun menyiapkan data-data mana saja yang akan siap di produksi. Menalar adalah penalaran setiap siswa saat di lapangan setelah pembelajaran di kelas. Dan M yang terakhir adalah mencoba, yaitu setiap siswa melakukan praktik dengan cara produksi langsung.

Tahapan-Tahapan dalam Production Based Learning

production based learning

Foto oleh Julia M Cameron dari Pexels

1.       Merencanakan produk

Perencanaan produk yang dihasilkan dapat berupa benda hasil produksi atau layanan jasa. Perencanaan dapat dilakukan dengan mulai menggambar detail/sketsa. Kemudian membuat jadwal kerja/ time table, membuat perhitungan kebutuhan alat dan bahan yang dibutuhkan, dan teknik pengerjaan serta alur kerja/koordinasi kerja.

2.       Proses Produksi

Pada tahap ini siswa diajak melakukan tahapan produksi berdasarkan rencana produk berdasarkan rencana yang telah dibuat dengan seksama.

3.       Evaluasi Produk

Setelah berhasil membuat sebuah produk, siswa diajak untuk memeriksa hasil produk melalui membandingkan dengan tuntutan pada perencanaan teknis. Dalam tahap ini terjadi  proses pengendalian mutu produk yang dihasilkan.

4.       Membuat Rencana Pemasaran

Selain dilatih untuk memproduksi sebuah produk, jiwa kewirausahaan atau entrepreneurship siswa juga dilatih dalam tahap ini. Siswa harus mempersiapkan rancangan pemasaran produk yang dihasilkan. Pemasaran dapat dilakukan secara online maupun offline. Di tahap ini diharapkan siswa memiliki strategi-strategi bagaimana dapat menjual produk yang dihasilkan. Sehingga siswa tidak hanya memiliki kemampuan membuat produk yang kreatif, tetapi juga mampu menjualnya.

Jika siswa sudah terbiasa untuk menghasilkan produk dengan mempertimbangkan waktu kerja yang efisien, kelak mereka akan terbiasa pula untuk bekerja lebih produktif. 

 

00

Entri Blog Lainnya

thumbnail
thumbnail
Menambah Komentar

CssBlog

metablog-web Portlet