redesain-navbar Portlet

kampus_pintar_v3

ASI Esklusif Antar Mahasiswi Akbid Buton Juara di Kopertis IX

avatar penulis

Fikha Ardiani

7 September 2018

header image article

Photo by Chaitanya Tvs on Unsplash

Yayat Adriana atau yang sering disapa Yayat adalah mahasiswa semester II, pada Jurusan D.III Kebidanan, Akademi Kebidanan Buton Raya. Yayat Kelahiran Baubau 9 Agustus 1998 ini, adalah salah satu mahasiswa berprestasi 2017 diKopertis IX Sulawesi.

Dalam seleksi mahasiswa berprestasi tingkat Kopertis IX Sulawesi yang digelar 18-19 April di Kontor Kopertis, Yayat termasuk salah satu peserta dari 37 peserta utusan PTS yang ikut seleksi.

Anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Luntu (ayah) dan Jayat (ibu), dalam seleksi mahasiswa berprestasi dia membawakan materi ‘ASI Esklusi’ atau pemberian ASI kepada bayi selama enam (6) bulan tanpa makanan pendamping ASI.

Menurutnya, ASI Esklusif pada bayi ini menarik untuk diketahui, karena bayi pada usia 1 – 6 bulan, pertumbuhan motorik bayi masih lunak, sehingg sistem pencernaan bayi pada usia itu belum bisa mencerna makanan dengan baik. Makanya usia 1 – 6 ini dianjurkan pemberian ASI bagi bayi tanpa makanan pendamping.

“ASI ini mangandung kelostrum tinggi , sehingga cocok untuk perkembangan otak bagi bayi. Makanya bayi yang masih berumur 1 – 6 bulan itu dianjurkan tetap diberikan ASI,”ujar Yayat.

ASI Esklusif inilah mengantar Yayat menjadi juara dua dalam seleksi mahasiswa berprestasi Kopertis IX Sulawesi. Dikatakan, seleksi ini terbilang ketat, karena ada beberapa penilaian, selain penguasaan materi yang dibawakan, juga yang dinilai oleh tim seleksi adalah penguasaan bahasa inggris.

Sekadar diketahui Yayat sampai kuliah di Akbid Buton Raya. Awalnya memang karena diajak oleh keluarga, setelah lulus dari Pondok Pesantren Al-Manah Bungi Baubau (6 tahun).

Padahal cita-citanya sejak di pesantren setelah tamat ingin lanjut di Perguruan Tinggi yang ada di Mesir. Memang kuliah di Mesir tidak mudah, syaratnya berat. Saat mendaftar harus hafal 2 juz, dan ketika lulus harus menghapal 5 juz. Baginya tidak ada masalah karena sejak dipesantren terlatih menghapal Alquran.

Masalahnya sampai tidak jadi ke Mesir karena orang tua tidak setuju.Alasan orang tuannya, kuliah di Mesir terlalu jauh baginya. Makanya tidak setuju.

Mahasiswi yang saat ini prestasi akademiknya sungguh sangat luar biasa, memiliki IPK-nya 3,70. Awal kuliah di Akbid Buton Raya, diakui agak sedikit malas, karena masih ingat impiannya kuliah di Mesir. Seiring dengan perjalanan waktu, dia pun mulai senang dan menyukai profesi kebidanan ini.

Wanita penggemar makanan coklat ini, bermaksud setelah tamat kuliah di Akbid Buton Raya, lanjut D-IV di Stikes Mega Rezky Makassar. “Mudah-mudahan orang tua dapat mengisinkan lanjut kuliah di Makassar,”kuncinya.(nasrullah)