Belajar dari Rumah yang Menyenangkan dan Memerdekakan
APSiswaNavbarV2
Tesssss Tesssss
CssBlog
redesain-navbar Portlet
metablog-web Portlet
Blog
Belajar dari Rumah, photo by Alice Hampson on Unsplash
Munculnya virus baru bernama Corona di akhir tahun 2019 mengancam kehidupan manusia. Virus ini dapat menyebabkan kematian. Pada bulan Maret 2020, pemerintah pusat mengeluarkan surat untuk meliburkan aktivitas tatap muka di sekolah, perguruan tinggi, dan perkantoran guna mencegah semakin tersebarnya virus Corona. Selanjutnya, pemerintah melakukan sosialisasi pencegahan penyebarannya. Salah satu diantaranya menjaga jarak. Keberadaan virus ini sangat berpengaruh terhadap berbagai sektor, diantaranya pendidikan.
Dalam hal pendidikan, kegiatan pembelajaran tatap muka mengalami gangguan dan berdampak pada psikologis siswa. Pemerintah pusat melalui Kemdikbud mengeluarkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang bertujuan untuk pemenuhan hak belajar murid, mencegah penularan, dan melindungi murid dari dampak virus Corona serta pemenuhan dukungan psikososial. Pendekatan yang dilakukan dalam pembelajaran ini adalah pembelajaran jarak jauh luar jaringan (luring) dan pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring).
Di daerah saya, Kabupaten Sumba Timur, NTT, istilah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) lebih dikenal dengan Belajar dari Rumah (BDR). Sebagian besar BDR di Kabupaten Sumba Timur dilaksanakan dengan luring melalui metode tatap muka di titik-titik kumpul. Siswa-siswa yang rumahnya berdekatan dikumpulkan dalam satu titik kumpul. Guru datang dan memberikan pembelajaran di salah satu rumah penduduk yang menjadi titik kumpulnya.
Photo by Sergey Zolkin on Unsplash
Proses BDR memiliki efek yang luar biasa bagi siswa, guru, dan orang tua. Imelda Y. Polin, salah satu siswa SMP mengeluhkan tugas yang diberikan guru sangat banyak. Ia juga tidak memahami materi dan tugas yang diberikan, sering bermain gawai, dan membantu orang tua bekerja. Lalu, Umbu Riada D. C, menambahkan bahwa BDR ini menyulitkannya karena guru hanya memberikan materi tetapi tidak menjelaskan terlebih dahulu. Namun ia berusaha belajar memahaminya dari buku. Itupun masih belum mengerti. Sedangkan siswa lainnya, Agnes Y. Danga, menuturkan kegiatan BDR tidak menyenangkan karena tidak adanya guru yang menjelaskan pelajaran., kondisi tempat titik kumpul yang kurang nyaman, dan siswa menjadi kurang disiplin.
Oce Dapa M, salah satu orang tua, mengatakan bahwa BDR ini menyusahkannya karena anak lebih mendengarkan perkataan gurunya daripada orang tua. Ini terbukti ketika ia menyuruh anaknya mengerjakan tugas sekolah, namun selalu banyak alasan untuk menunda tugas yang diberikan guru. Anak lebih banyak bermain game online daripada belajar dan guru banyak memberikan tugas. Sedangkan Mahyar mengatakan bahwa kegiatan BDR ini tidak terlalu menyulitkannya. Hanya saja, anak-anaknya merasakan kejenuhan karena telah sekian lama tidak bersekolah. Hal inilah yang membuat mereka rindu bertemu dengan guru dan ingin bermain dengan teman-temannya di sekolah.
Joni Mandang, guru SD, mengungkapkan masalah yang dihadapinya selama proses BDR. Guru tidak dapat melihat langsung perkembangan belajar siswa dan menilai secara obyektif setiap hasil belajar. Guru pun tidak dapat melihat karakter keseharian siswa, sementara motivasi siswa dalam belajar di rumah menurun. Siswa menjadi malas belajar karena rindu belajar di sekolah. Di sisi lain, kesibukan orang tua dalam bekerja menyulitkan mereka untuk mendampingi anak dalam belajar.
Ance A. Yiwa, salah seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMP, mengatakan masalah utama yang terjadi selama proses BDR adalah ketidakhadiran siswa. Pula, tidak semua siswa mengerjakan dan mengumpulkan tugas yang diberikan. Sedangkan bagi guru, masalah BDR terletak pada ketidakmampuannya menjangkau semua siswa di setiap titik kumpul. Mengunjungi siswa pun menjadi masalah tersendiri karena belum mengetahui letak rumahnya. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa pelaksanaan kegiatan BK tidak maksimal karena keterbatasan waktu pembelajaran. Walaupun begitu, ia berupaya melakukan kegiatan dengan cara menggali informasi tentang pengalaman siswa dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan cara belajar siswa. Tak lupa dirinya juga mengenalkan peran BK di sekolah, memberikan materi yang dirasakan esensial seperti tahap pertumbuhan dan perkembangan siswa, mulai dari masa kanak-kanak hingga remaja dan masuk ke lingkungan SMP, serta Covid-19 secara umum.
Alangkah baiknya jika Guru Pintar memberikan tugas pembelajaran yang tidak menyengsarakan siswa dan orang tua. Dalam satu hari, guru menyajikan materi paling banyak 3 mata pelajaran. Guru Pintar dapat memberi tugas yang mengeksplorasi potensi dan kemampuan siswa seperti tugas yang dapat dikerjakan bersama orang tua. Adanya kelonggaran waktu dalam mengerjakan tugas adalah hal penting agar siswa dan orang tua tidak stres.
Ance mengatakan bahwa bukan hanya guru mata pelajaran saja yang membuat materi semenarik dan sesederhana mungkin, akan tetapi guru BK juga harus lebih kreatif mengemas materi sehingga dapat mengurangi kejenuhan siswa. Tak kalah pentingnya, pembelajaran life skill perlu diberikan agar siswa belajar mengenai kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, siswa mampu mengembangkan karakter positif dan memiliki kecakapan hidup.
Berdasarkan data KPAI bersama Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), sebanyak 53% guru berorientasi pada penyelesaian kurikulum. Padahal, selama masa pandemi ini, guru tidak perlu mengejar dan menyelesaikan target kurikulum. Guru perlu memberitahukan kepada siswa mengenai kompetensi dasar setiap mata pelajaran yang dinilai essensial dan berpengaruh pada pendidikan di tingkat selanjutnya.
Lagi pula, pemerintah melalui Kemdikbud sudah membuat opsi-opsi pelaksanaan pembelajaran untuk satuan pendidikan. Kemdikbud memberikan kemerdekaan bagi satuan pendidikan dalam memilih dan menggunakan kurikulum di masa pandemi ini. Pilihan yang tersedia misalnya menggunakan kurikulum yang tetap mengacu pada kurikulum nasional, menggunakan kurikulum darurat, atau melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah menyederhanakan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap jenjang per mata pelajaran. Perlu dipahami juga bahwa tujuan essensial pendidikan adalah agar siswa memiliki kompetensi dalam hal siap hidup, mampu menalar, melaksanakan ujian bermakna, dan mencapai kemandirian.
Photo by Ketut Subiyanto on Pexels
Siswa adalah anak. Anak-anak tetaplah anak-anak. Selain mendapat pendidikan, mereka juga berhak untuk bermain. Adanya kombinasi belajar dan bermain bagi siswa berdampak baik bagi psikologis anak. Tugas mata pelajaran yang diberikan tidak menjadi beban bagi siswa, melainkan bisa menjadi tantangan yang harus dikerjakan.
Peran orang tua tak kalah pentingnya. Proses BDR ini sebenarnya memiliki keuntungan tersendiri. Joni mengatakan bahwa orang tua yang mau menyisihkan waktunya, sabar, dan terlibat dalam mendampingi anak dalam belajar berarti ia peduli terhadap pendidikan anaknya. Kepedulian ini dapat terlihat dari capaian atau hasil belajar anak.
Keuntungan lain yang diperoleh orang tua yakni mengetahui aneka jenis alat teknologi yang digunakan dalam proses pembelajaran. Orang tua pun belajar dan terlibat dalam proses penggunaan alat teknologi, sehingga mampu memanfaatkan teknologi untuk kegiatan belajar anak. Mahyar menambahkan bahwa dalam BDR ini orang tua dapat memantau perkembangan belajar anak secara langsung serta mengetahui sejauh mana anak memahami pelajaran dan tugas yang diberikan guru.
Selain itu, orang tua lebih mengenal karakter anaknya dalam proses pembelajaran. Orang tua mengetahui pola pikir anaknya dalam memecahkan masalah dan mengerjakan tugas. Dengan mengetahui bakat, minat, kemampuan, dan potensi yang dimiliki anaknya, orang tua dapat mengarahkan pendidikan lanjutan bagi anak nantinya. Intinya, orang tua lebih mengenal pribadi anaknya secara mendalam.
Sejatinya, pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab Guru Pintar semata. Akan tetapi, Ortu Pintar bertanggung jawab secara penuh akan pendidikan anaknya karena lingkungan terdekat anak adalah keluarganya, orang tuanya. Pendidikan pertama kali yang dikecap oleh anak berasal dari orang tuanya. Kolaborasi yang baik antara anak, orang tua, sekolah (guru dan kepala sekolah), serta pemerintah dalam menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan dan memerdekakan bagi semua pihak yang terlibat akan sangat berdampak luar biasa bagi perkembangan anak di masa depannya.
Sumber :
http://www.kpai.go.id
http://www.gurubelajar.kemdikbud.go.id
Written by :
Maria Bernadette IKP, S.Pd
Guru SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu
Kab. Sumba Timur, NTT
Editor: Deni Purbowati
ArtikelTerkaitV3
Dari Bangku Kuliah ke Ruang Operasi: Begini Perjalanan Seru
Halo, Sobat Pintar! Punya mimpi jadi dokter? Atau sekadar penasaran dengan perjalanan panjang yang harus dilalui sebelum bisa memakai jas putih dan stetoskop? Yuk, simak cerita seru tentang perjalanan pendidikan dan karier menjadi dokter, mulai dari kulia...
Baca Selengkapnya
4 Bulan Menuju SNBT-UTBK 2026: Strategi Belajar Kilat yang B
Hai, Sobat Pintar! Ujian SNBT-UTBK 2026 sudah di depan mata, dan kamu hanya punya waktu sekitar 4 bulan untuk mempersiapkannya. Jangan panik! Dengan strategi yang tepat, waktu 4 bulan ini bisa kamu manfaatkan sebaik mungkin untuk meraih nilai tinggi. Yuk,...
Resolusi 2026: Rahasia Sukses Siswa Pintar untuk Gapai Targe
Hai, Sobat Pintar! Sudah punya rencana buat tahun 2026? Jangan cuma jadi penonton, yuk jadi pemain utama di hidupmu dengan menyusun resolusi yang smart! Buat kamu yang masih duduk di bangku sekolah, ini saatnya mempersiapkan diri untuk kuliah dan karir im...
Hai Sobat Pintar,
Yuk Cobain Aplikasi Aku Pintar Sekarang Juga!
Jutaan siswa sudah menemukan minat, bakat dan kampus impian bersama Aku Pintar. Sekarang giliran kamu Sobat!
BannerPromoBlog