redesain-navbar Portlet

null

Blog

Guru, Mari Perkaya Siswa dengan Soal-Soal Berbasis PISA!

Photo by Pixabay

Berdasarkan laporan PISA yang dirilis pada tahun 2018, skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 dari 77 negara. Skor matematika Indonesia ada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan skor sains ada di peringkat 70 dari 78 negara. Jika dibandingkan hasil tes PISA pada tahun 2015, skor PISA Indonesia tahun 2018 mengalami penurunan di semua bidang. Saat itu,  skor membaca Indonesia ada di peringkat 65, skor sains peringkat 64, dan skor Matematika peringkat 66.

Di Asia Tenggara, Indonesia berada paling bawah bersama Filipina yang mendapat peringkat terakhir dalam membaca dan skor sebelum terakhir di dua bidang lainnya. Singapura patut berbangga karena hasil tes PISA-nya konsisten mendapat peringkat teratas di tiga bidang. Singapura berhasil mengalahkan Jepang dan Korea Selatan yang juga mendapatkan peringkat tinggi.


 

Apa Itu PISA?

PISA adalah singkatan Programme Internationale for Student Assesment. Pisa merupakan program penilaian berskala Internasional yang dibuat oleh negara-negara yang tergabung dalam OECD (Organization for Economic Co-operation Development) atau organisasi untuk kerjasama dan Pembangunan Ekonomi.

PISA menguji kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah dalam realitas kehidupan masyarakat berdasarkan kemampuan siswa pada batasan usia 15 tahun. Tujuan PISA adalah  untuk menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia. Hal ini dimaksudkan melihat sejauh mana kemampuan siswa di sebuah negara sehingga dapat dijadikan pijakan untuk meningkatkan metode-metode pembelajaran atau memperbaiki sistem Pendidikan.

Selain PISA, tes yang sering digunakan untuk menjadi standar kualitas Pendidikan suatu negara adalah TIMSS. TIMSS adalah kependekan dari Trends in International Mathematics and Science Study.  TIMSS yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali ini merupakan sebuah studi internasional tentang kecenderungan atau arah perkembangan matematika dan sains.

TIMSS ditujukan kepada siswa kelas 4 SD dan kelas 8 SMP. Kerangka penilaiannya terbagi menjadi dua dimensi, yaitu dimensi konten dan dimensi kognitif dengan memperhatikan kurikulum yang berlaku di negara bersangkutan. Dimensi konten terdiri dari: Bilangan, Geometri/Pengukuran, dan Penyajian Data. Sedangkan dimensi kognitif terdiri dari: Pengetahuan, Penerapan, dan Penalaran.

TIMSS memiliki persamaan dengan ujian Nasional (UN). Keduanya sama-sama menilai kemampuan kognitif pada level pengetahuan dan pemahaman, aplikasi dan penalaran, serta konten atau lingkup materi yang diuji sesuai kurikulum di sekolah. Sedangkan PISA memiliki perbedaan dengan UN yang biasanya diadakan di Indonesia. PISA menilai kemampuan kognitif siswa yang mencakup komponen proses dan konten yang diuji mengacu penerapan matematika dalam kehidupan. Persamaan PISA dan TIMSS adalah keduanya menghadirkan soal yang membutuhkan penyelesaian tidak hanya sekadar mengingat (menghafal) namun lebih pada menganalisa dan memecahkan masalah.

Fokus Penilaian PISA

Fokus penilaian tes PISA adalah Mathematics (matematika), science (Ilmu pengetahuan), dan reading (membaca). Sejak tahun 2018, Tes PISA juga menilai global competency (kompetensi global) dan finance literacy (literasi keuangan).

 Bentuk Soal Tes PISA

Guru pintar pasti sering bertanya-tanya, mengapa skor PISA Indonesia selalu rendah? Jawabannya adalah karena siswa-siswa belum terbiasa mengerjakan soal-soal model PISA. Soal-soal pada tes PISA mendorong siswa-siswa untuk memiliki kemampuan problem solving (pemecahan masalah, critical thinking (berpikir kritis), creative thinking (berpikir kreatif), reasoning (penalaran), dan decision making (pengambilan keputusan). Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bagian dari keterampilan abad 21 yang saat ini lebih dikenal dengan HOTS (higher Order Thinking skill)  atau kemampuan berpikir tingga tinggi.

Dapat dikatakan bahwa soal-soal berbasis PISA sudah pasti berbentuk HOTS. Untuk membekali siswa kemampuan ini harus dilakukan saat proses pembelajaran, tidak hanya saat tes dilakukan. Nah, Guru pintar harus mulai memikirkan strategi pembelajaran yang mendorong siswa berpikir tingkat tinggi jika ingin mendapatkan skor PISA yang tinggi.

Soal berbasis PISA bidang matematika meliputi 3 komponen: konten, konteks dan proses.Komponen konten terdiri dari: perubahan dan hubungan (change and relationships), ruang dan bentuk (space and shape), bilangan (quantity), dan ketidakpastian dan data (uncertainty and data). Komponen konteks matematika PISA terdiri dari: pribadi (personal), pekerjaan (occupation), umum (societal), dan ilmiah (scientific).

Soal literasi atau membaca PISA juga memiliki karakteristik  yang fokus pada kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pada soal berbasis PISA aspek kompetensi membaca dikategorikan tiga jenis yang mencakup: kemampuan mengungkapkan kembali informasi (retrieving Information), mengembangkan interpretasi (developing an interpretation), dan merefleksikan dan mengevaluasi teks.

Soal berbasis PISA aspek sains juga sama seperti soal berbasis PISA matematika dan membaca. Semuanya tidak hanya menanyakan apa, bagaimana, dan kapan, tetapi lebih banyak soal yang menanyakan mengapa. Guru pintar yang mengajar sains harus lebih banyak menyuguhkan  fenomena alam untuk dieksplorasi sehingga wawasan siswa dimerdekakan, dan akhirnya terbentuk suatu konsep.

 

 

00

Entri Blog Lainnya

thumbnail
thumbnail
Menambah Komentar

CssBlog

metablog-web Portlet