redesain-navbar Portlet

kampus_pintar_v3

Mahasiswa Akademi Kebidanan Adila Wajib Tinggal di Asrama

avatar penulis

Anggi Maulinda

23 October 2018

header image article

Photo by Chaitanya Tvs on Unsplash

Menjadi salah satu kampus kebidanan ternama di Provinsi Lampung dengan visi ‘Terwujudnya Akademi Kebidanan Yang Unggul Di Bidang Asuhan Kebidanan Komunitas dan berdaya saing tinggi pada 2019’, Yayasan Adila, Akademi Kebidanan Adila Bandarlampung punya cara tersendiri untuk menarik minat calon mahasiswa baru.

Berbeda dengan kampus kebanyakan, yang selalu membuka penerimaan mahasiswa baru dengan Ujian Tulis yang dilakukan secara serentak dengan waktu yang sudah ditentukan, Akademi Kebidanan Adila Bandarlampung justru membuka pendaftaran dalam durasi yang cukup panjang, Januari sampai September.

Wakil Direktur I Bidang Akademik, Ahmad Dahro saat disambangi Lentera Swara Lampung Kamis (27/7) menjelaskan, cara yang sangat berbeda itu dilakukan dengan pertimbangan bahwa kalender akademik semester ganjil dimulai bulan September.

Namun demikian, para calon mahasiswa tetap harus mengikuti ujian tulis dan wawancara, langsung saat selesai mengisi formulir pendaftaran. Bahkan pengumuman kelulusan langsung disampaikan usai mengikuti tes tertulis dan wawancara.

"Semua mahasiswa yang lulus wajib tinggal di asrama selama menempuh pendidikan di Akademi Kebidanan Adila,” terang Dahro.

Mengapa ujian tulis dilakukan secara langsung saat pendaftaran? Dahro menjelaskan, agar mereka terbiasa menghadapi segala situasi saat praktik nantinya.

“Di sini kita tekankan disiplin. Karena mereka nantinya kan terjun di masyarakat, jadi harus dilatih sejak awal. Praktek dimulai sejak semester III sampai selesai,” jelas Dahro yang juga Ketua Harian Polmas Kabupaten Pesawaran.

Terkait kurikulum pendidikan, Akademi Kebidanan Adila menggunakan kurikulum inti Pendidikan Diploma III kebidanan Kementerian Kesehatan RI Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Pusat Pendidikan dan pelatihan Tenaga Kesehatan 2014.

“Dosen di sini ada 36 orang, kebanyakan S2, dibiayai yayasan dan juga mandiri. Hasilnya, sejak 2006 hingga sekarang kami sudah meluluskan sebanyak 1 200 orang,” kata Dahro.

Untuk biaya pendaftaran pertama masuk, kata Dahro, berkisar Rp20 juta, yang dikembalikan dalam bentuk fasilitas untuk mahasiswa.