redesain-navbar Portlet

kampus_pintar_v3

ISBI Tanah Papua: Mengulik Cendrawasih Sebagai Perekat Bangsa

avatar penulis

Azrul Prayoga

17 April 2020

header image article

Photo by Chaitanya Tvs on Unsplash

Kurang lebih sudah 4 tahun kurang 4 bulan pria yang menjadi rektor ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Tanah Papua ini menetap di negeri burung cendrawasih itu. Selama menyelami potensi di tanah Papua, I Wayan Rai. S pun melihat banyak hal yang dapat dijadikan sebuah riset kebudayaan.

Saya melihat ada kemiripan yang sama, kalau di Bali Burung Cendrawasih itu dikatakan sebagai Manuk Dewata sebagai pengibas-ibas pada saat Upacara Pitra Yadnya sehingga burung itulah yang menghantarkan arwah itu ke surga dan di Papua sendiri burung cendrawasih itu disebut juga sebagai burung surga, paparnya lantang.

Melalui keterkaitan yang dilandasi pula dengan Api sebagai tema PKB ke-40 muncullah sebuah garapan yang bertajuk Terang Telah Tiba. Terang Telah Tiba merupakan pentas seni tradisi kontemporer yang membangkitkan semangat berkreativitas anak-anak muda Papua dimana keberadaan burung cendrawasih di tanah Papua dan di Bali menjadi benang merahnya. Sebelum garapan ini lahir, Rai pun mengungkapkan bahwa dirinya sempat melakukan Fokus Grup Diskusi perihal mencari benang merah antara Bali dan Papua melalui burung cendrawasih.

18 Juni yang lalu dengan Saba Budaya Bali di RRI kita mencari benang merah, ada apa sih Bali dengan Papua? Jadi kenapa burung itu sangat dihormati dan sakral, mudah-mudahan suatu saat nanti ada titik temu, jelasnya penuh harap. Wakil DPRD Bali, I Gusti Bagus Alit Putra yang turut hadir pada garapan ISBI Tanah Papua mengungkapkan kisah cendrawasih memang erat kaitannya dengan Bali dimana burung ini digunakan sebagai sarana upacara Pitra Yadnya dan di Papua sendiri burung ini sangat dihargai.

Sangat menarik karena kebudayaan kita beragam segala macam seni budaya itu beragam, tambahnya kala melihat garapan spesial itu. Sebagai seorang kawan dari I Wayan Rai. S dirinya pun mengungkapkan kepercayaannya akan jiwa seni yang dimiliki Rai. Saya percaya dengan beliau (I Wayan Rai. S-red) pengalamannya sungguh banyak. Bagaimana mengemas ISBI tanah Papua ini dan ide cemerlangnya guna menggali kesenian khas Papua, ungkapnya bangga.

Kesuksesan garapan yang ditampilkan, bagi Rai tak terlepas dari sinergitas seluruh pihak. Kita berangkat dari tekad, kita ingin tampil jadi apapun kendalanya kita carikan solusi. Bantuan Pak Gubernur Provinsi Bali dengan Seniman Budayawan dan Dosen ISBI serta masyarakat yang memunculkan kreativitas anak-anak kami, tuturnya. Pria yang pernah menjadi rektor ISI ini pun menambahkan keindahan negeri ini memang luar biasa untuk terus digali seni dan budayanya. Jangan lupa kembali ke kearifan lokal dan kembali ke jati diri. Mudah-mudahan melalui seni kita bisa tunjukkan bahwa keberagaman itu indah, tutupnya sembari melempar senyuman.

(denpasarkota.go.id)