redesain-navbar Portlet

kampus_pintar_v3

Link and Match Perguruan Tinggi Vokasi dengan Industri

avatar penulis

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita

13 November 2020

header image article

Photo by Chaitanya Tvs on Unsplash

SEKOLAH Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretaris Tarakanita (STARKI) Jakarta ikut dalam seminar online yang diadakan oleh Perhimpunan Akademik dan Politeknik Katolik Indonesia (PAPKI) mengangkat tema “Strategi Membangun Kemitraan antara Perguruan Tinggi Vokasi dengan Dunia Industri”, Rabu, 21/10/2020. Hadir sebagai nara sumber salah satunya Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan Indonesia Wikan Sakarinto. Seminar yang diadakan pada masa pandemi ini diikuti oleh beberapa Dosen STARKI.

Dirjen Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi yang menaungi pendidikan tinggi seperti Politeknik, Akademi, Universitas, Institut dan Sekolah Tinggi yang memiliki Prodi Vokasi D1, D2, D3, D4, S2T, S3T dalam seminar ini berharap agar tercipta Strategi Utama Link and Match antara pendidikan tinggi vokasi  dengan Idustri. Mereka berharap agar kampus-kampus vokasi serta lembaga keterampilan di Indonesia bisa “menikah” dengan dunia industri dan dunia kerja.

Link and Match atau pernikahan antara Pendidikan Vokasi dan Dunia Industri/Dunia Kerja bisa terwujud jika tercapai unsur-unsur seperti: Kurikulum dalam pendidikan tinggi disusun bersama industri; materi training  dan sertifikasi di industri diharapkan secara resmi masuk ke dalam kurikulum di kampus; Dosen Tamu dari industri diharapkan dapat rutin mengajar di kampus minimal 50 Jam per prodi dan per semester; Berkaitan dengan Magang atau Prakerin, diharapkan program ini dapat ditata secara terstruktur dan dikelola bersama dengan baik antara industri dan perguruan tinggi dan dapat dilakukan minimal 1 semester; Berkaitan dengan penyerapan lulusan, diharapkan juga ada komitmen kuat dan resmi dari pihak industri untuk menyerap lulusan dari pendidikan tinggi vokasi; Baik juga adanya adanya program beasiswa dan ikatan dinas bagi mahasiswa antara perguruan tinggi dengan pihak industri; Pihak Industri diharapkan juga bisa memberikan training atau memperkenalkan teknologi dan proses kerja industri yang diperlukan para dosen; Adanya sertifikasi kompetensi bagi lulusan, diberikan oleh Pendidikan Tinggi bersama industri; Pihak industri diharapkan juga bisa memberikan bantuan peralatan laboratorium kepada kampus; dan terjadinya Joint Research atau riset terapan dosen yang berasal dari kasus nyata di industri.

Dengan adanya unsur-unsur yang diharapkan ini, maka profil lulusan perguruan tinggi diharapkan juga bisa memiliki persyaratan kelulusan seperti memiliki Ijazah, transkrip nilai, sertifikasi kompetensi, dan memiliki English Proficiency seperti TOEFL, TOEIC, IELTS, atau TEVOCS.

Untuk menyukseskan program Link and Match dari perguruan tinggi dan industri ini nara sumber menggambarkan langkah program ini seperti seorang koki yang sedang memasak makanannya. Dalam memasak, seorang Koki akan menyiapkan “Resep” atau dalam dunia pendidikan perguruan tinggi akan menyiapkan kurikulum yang dibuat bersama dengan pihak industri. Usai kurikulum ditentukan, para mahasiswa “Dimasak” atau diajar/dididik bersama, bahkan dalam kegiatan praktek juga dibantu untuk bisa Magang atau Prakerin di dunia industri. Setelah dididik, para mahasiswa perlu juga “Dicap” atau dibuatkan sertifikasi agar siap direkrut oleh pihak dunia industri. Dalam proses pendidikan diharapkan pihak industri juga berkenan untuk memberikan training bagi Dosen juga memberikan donasi atau beasiswa studi atau penilitan untuk mahasiswa dan Dosen. Sebagai langkah penutup, juga diperlukan riset terus menerus untuk menyempurnakan proses yang sudah dibangun antara penguruan tinggi vokasi dengan pihak industri.

Berdasarkan data dari beberapa perusahaan, saat ini terdapat kekurangan dari lulusan perguruan tinggi yang kadang tidak seusai dengan permintaan pengguna tenaga kerja. Umumnya para lulusan ini kurang tahan menghadapi tekanan dalam dunia kerja; kurang dapat bekerjasama dalam sebuah Tim; kurang dapat berkomunikasi secara lisan dan tulisan dengan baik; dan kurang inisiatif serta mudah bosan. Oleh karena itu, para pengguna tenaga kerja berharap agar pihak perguruan tinggi mengatasi permasalahan yang sering dihadapi dalam dunia industri ini dengan meningkatkan Softskill dan pengembangan karakter untuk para mahasiswanya. Perguruan Tinggi Vokasi dirasa memang perlu mengembangkan softskill para mahasiswanya supaya bisa mudah diterima dalam dunia kerja. Dengan softskill yang mumpuni tersebut, diharapkan pihak industri bisa puas bekerjasama dengan Perguruan Tinggi Vokasi dalam menyediakan dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja pada industri mereka.