redesain-navbar Portlet

kampus_pintar_v3

Belum Kompetitif, Perlu Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidik

avatar penulis

Anggi Maulinda

24 September 2018

header image article

Photo by Chaitanya Tvs on Unsplash

Belum Kompetitif, Perlu Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidik

Membangun semangat belajar, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) dan Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan (STKIP) Al Amin Indramayu menggelar Stadium General, Sabtu (4/3).

Diikuti seluruh mahasiswa dan dosen, stadium general kali ini mengusung tema besar Mewujudkan Indonesia Emas melalui Pendidikan yang Bermutu. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu Ali Hasan sreta Ketua STKIP Al Amin Indramayu, Masduki Duryat didaulat menjadi narasumber.

Penyelenggara, Lukman menyampaikan, stadium general penting untuk diadakan guna memompa semangat belajar baik mahasiswa maupun dosen. Karena ada informasi yang aktual baik dari sisi teori maupun implementatifnya.

“Kegiatan semacam ini akan diselenggarakan secara periodik, di samping mahasiswa juga melakukan kajian-kajian ilmiah melalui diskusi dan kegiatan mahasiswa lainnya,” terang Lukman.

Dimoderatori Dulwahid, stadium general berlangsung cukup menarik. Diawali dengan pembicara pertama dalam panel diskusi dari Masduki Duryat dengan membawakan makalah Academic Excellent dalam Pendidikan (Islam) Antara Asa dan Realita.

Masduki menyampaikan banyak problem yang dihadapi dunia pendidikan (Islam) menyangkut SDM, metodologi, kebijakan dan materi. Dia menyebut contoh globalisasi, liberalisme, hedonisme, pendekatan input-oriented dan macro-oriented, krisis etika dan moral, inefesiensi-missmatch, krisis keteladanan dan SDM yang rendah.

“Ketika dikomparasikan dengan dunia pendidikan negara lain, kita berada di bawah Malaysia, Thailand bahkan Vietnam. Dari sisi kelembagaan kualitas Perguruan Tinggi Indonesia juga belum kompetitif, UI yang kita banggakan misalnya berada di peringkat 250, di bawah UKM peringkat 185,” sebutnya.

Kualitas input guru di Indonesia juga masih di bawah standar. Hal ini berdasarkan survei data Balitbang Depdiknas dari 6.164 calon guru Biologi ketika dites rata-rata skornya hanya 44,96; dari 396 calon guru Kimia ketika dites rata-rata skornya hanya 43,55.

Kemudian dari 7.558 calon guru Bahasa Inggris rata-rata skornya hanya 37,57; dari 7.863 calon guru Matematika rata-rata skornya hanya 27,67; dan dari 1.164 calon guru Fisika rata-rata skornya hanya 27,35.

“Sedangkan dari sisi metodologis, kita terjebak pada doktrinal yang bertumpu pada pencapaian kecerdasan dari sisi kognitif,” ujarnya.

Sedangkan Ali Hasan menegaskan, mahasiswa harus sering dan rajin membaca dengan merelevansikannya dengan realitas di masyarakat. Sehingga apa yang dipelajari akan betul-betul aplikatif dan fungsional.

Diperlukan agenda kegiatan dengan menghadirkan siswa-siswa dari tingkat dasar sampai SLTA untuk mengukur kemampuan mereka dari sisi intelektual, sikap maupun motoriknya. Sehingga ini bisa menjadi bahan kajian dalam diskusi di perkuliahan.

“Ini sangat bermanfaat, karena perguruan tinggi memiliki misi untuk mendekatkan dunia teoretik dengan realitas,” katanya.

Dalam konteks Indramayu menurutnya, peluang lulusan lembaga keguruan sangat besar karena pada kondisi tertentu Indramayu akan mengalami pensiun massal.

“Sehingga kuliah pada prodi keguruan adalah sebuah pilihan yang tepat. Tinggal tugas kita meningkatkan mutu, dan performa calon guru, supaya dapat menghasilkan tenaga guru yang lebih baik,” tandasnya.

http://www.radarcirebon.com/belum-kompetitif-perlu-peningkatan-kualitas-tenaga-pendidik.html