redesain-navbar Portlet

kampus_pintar_v3

UB Peringkat IV Perguruan Tinggi di Indonesia, 17 di Tingkat Asean

avatar penulis

Fikha Ardiani

24 January 2018

header image article

Photo by Chaitanya Tvs on Unsplash

Universitas Brawijaya (UB) meraih peringat IV perguruan tinggi (PT) terbaik di Indonesia dan peringkat 17 di tingkat ASEAN versi 4 International Colleges & University (4ICU).

 

Wakil Rektor IV UB Moch. Sasmito Djati mengatakan raihan naik bila dibandingkan 2017 yang menempatkan UB pada peringkat IV versi 4ICU. Lembaga sering digunakan pemerintah untuk memberikan rekognisi bagi perguruan tinggi di Indonesia.

 “Untuk ASEAN, kami berharap bisa masuk 10 besar, namun tidak mudah karena PT di Singapura mutunya baik-baik, sudah berstandar internasional,” ujarnya di Malang, Selasa (23/1/2018).

Namun dengan usaha yang keras, maka target masuk 10 besar dipenuhi, setidaknya dalam lima tahun mendatang. Sedangkan untuk masuk 500 PT di dunia, diharapkan dapat tercapai pada 10 mendatang. Saat ini, posisi UB masih di kisaran 700++.

Kunci untuk masuk dalam perguruan tinggi bergengsi baik di tingkat nasional, regional ASEAN, bahkan dunia, kata dia, terutama pada sisi publisitas dan SDM.

Dari sisi publisitas, perlu terus dipacu, namun kata dia, UB tidak ingin lewat jalan instan. Publisitas harus betul-betul dengan kelembagaan yang kokoh, seperti menerbitkan sendiri jurnalnya yang diakui secara internasional.

Begitu juga hasil karya yang dipublikasi di jurnal ilmiah, idealnya merupakan hasil penelitian yang panjang dari bekerja di laboratorium. UB memang mendorong hal-hal yang berbasis fundamental berbasis laboratorium dan riset baik murni ilmiah maupun untuk kepentingan industri.

“Bisa saja untuk meningkatkan publisitas dengan menginstruksikan dosen yang mengikuti konferensi maupun seminar untuk memasukkan ke jurnal ilmiah, maka nilainya akan tinggi. Tapi kami tidak ingin seperti itu,” ujarnya.

Yang juga perlu diperhatikan, terkait dengan sumber daya manusia. Untuk tenaga administrasi, sudah mencukupi, namun untuk tenaga fungsional, seperti periset masih kurang.

Yang menjadi masalah pula, terkait dengan sistem rekruitmen tenaga dosen. Dalam merekrut tenaga dosen, kebijakan pemerintah tidak jelas.

Khawatirnya, pada tahun tertentu UB akan kekurangan dosen karena tenaga dosennya banyak yang pensiun, namun dari sisi rekruitmen dari pemerintah tidak jelas

Karena itulah, UB melakukan kebijakan rekrutmen tenaga dosen non-PNS untuk melapis jika dosen-dosen sudah memasuki masa pensiun. Mereka diberikan kesejahteraan yang layak sehingga tidak melirik untuk beralih ke profesi lainnya.

“Yang menggembirakan, kami tidak terlalu banyak digerojok dana dari pemerintah, seperti UI dan UGM. Banyak gedung yang berdiri karena CSR dari perusahaan dan bantuan dari alumni,” ujarnya.

Yang juga menggembirakan, selama 2017 sampai awal 2018, UB banyak menerima prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Ada 51 prestasi di tingkat nasional, sedangkan di tingkat internasional sebanyak 22 prestasi

(www.kabar24.berita.com)