redesain-navbar Portlet

kampus_pintar_v3

Unikama Malang, Tularkan Strategi Bisnis pada Pengrajin Dupa

avatar penulis

Fikha Ardiani

31 August 2018

header image article

Photo by Chaitanya Tvs on Unsplash

TIMESINDONESIA, MALANG – Unikama Malang (Universitas Kanjuruhan) mengembangkan industri kecil dupa di Desa Petungsewu Kecamatan Wagir Kabupaten Malang melalui skema Program Pengembangan Desa Mitra dari Kemristekdikti.  Kegiatan tersebut merupakan pelaksanaan pengabdian masyarakat sebagai salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dr. Endi Sarwoko, Ketua Pelaksana Pengabdian menjelaskan bahwa tujuan Program Pengembangan Desa Mitra ini adalah untuk meningkatkan peranan Universitas Kanjuruhan Malang bagi masyarakat.

Selain itu juga membangun kemitraan antara Universitas Kanjuruhan dengan desa Petungsewu, membantu desa Petungsewu dalam percepatan pembangunan, serta membantu menyelesaian permasalahan masyarakat khususnya pengrajin dupa melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Diketahui, wilayah Desa Petungsewu Kecamatan Wagir sudah terkenal sebagai daerah penghasil dupa.

Umumnya dupa yang dihasilkan masyarakat adalah dupa setengah jadi. Kondisi inilah yang melatarbelakangi dipilihnya desa Petungsewu untuk pelaksanaan Program Pengembangan Desa Mitra.

Salah satu kegiatan dari Program Pengembangan Desa Mitra ini adalah dilaksanakan pelatihan dan pendampingan bagaimana cara membuat dupa wangi. 

Diharapkan dengan memproduksi dupa wangi mampu meningkatkan nilai tambah produksi dupa dan pendapatan masyarakat meningkat. 

Tim pelaksana Program Pengembangan Desa Mitra dari Unikama mendatangkan trainer Iwan sebagai pengusaha dupa yang sukses. Para peserta sangat antusias selama mengikuti pelatihan karena pelatihan dikemas sangat interaktif tidak hanya materi tetapi juga praktik langsung bagaimana agar dihasilkan wangi dupa yang khas dengan alat sederhana dan biaya yang murah.

Pada kesempatan itu Iwan juga memberikan motivasi kepada para peserta pelatihan dengan melakukan simulasi biaya dan penerimaan yang akan diterima para pelaku usaha dupa antara menjual dupa setengah jadi dengan menjual dupa wangi yang sudah dikemas.

Pemasaran juga menjadi kendala yang dihadapi secara umum oleh pelaku usaha mikro dan kecil. Demikian juga pengrajin dupa di Desa Petungsewu, selama ini dupa setengah jadi dijual kepada pengepul atau distributor untuk dikirim ke Bali.