redesain-navbar Portlet

Blog

Cermati Depresi Sejak Dini, photo via labblog.uofmhealth.org

Cermati 5 Jenis Depresi Ini Sejak Dini

Pelajar dapat mengalami depresi tanpa menyadarinya.

Masih sekolah, tapi sudah depresi? Jangan disepelekan, Sobat. Several sources, including healthline, WebMD, as well as verywellmind, describe different types of depression. Are you interested to find out, Sobat?

 

1. Depresi Situasional

Saat mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan keadaan baru secara tiba-tiba, bisa jadi kita megalami depresi situasional. Meskipun bukan istilah teknis psikiatri, depresi situasional biasanya dirasakan pada saat-saat sulit dalam hidup misalnya ketika ada anggota keluarga yang berpulang, divonis menderita penyakit mematikan, dan lain-lain.

Depresi situasional bermula sekitar tiga bulan setelah peristiwa penyebabnya terjadi. Gejala yang dialami ketika seseorang mengalami depresi situasional antara lain sering menangis, perubahan selera makan, sulit tidur, lesu, nyeri-nyeri, sulit berkonsentrasi, hingga menarik diri dari kehidupan sosial yang wajar.

It's humane to feel devastated due to a stressful event. But when your daily activities have changed, it's the time to seek for a professional help. Psikoterapi ataupun konseling dapat membantu. Bagi psikolog, depresi situasional biasanya dirujuk sebagai sindrom respon stres.

 

2. Depresi Mayor

Depresi mayor disebut juga sebagai depresi klinis (clinical depression) atau major depressive disorder (MDD). Alih-alih fokus pada penyebabnya, depresi mayor dapat kita ketahui dari gejala yang ditimbulkannya seperti perubahan berat badan, perubahan pola tidur, letih lesu, merasa tak berharga, sulit berkonsentrasi, hingga berpikir untuk bunuh diri.

Seseorang yang mengalami depresi mayor bisa kehilangan minat pada kegiatan-kegiatan yang sebelumnya disukainya. Gejala yang muncul terkait erat dengan seberapa parah depresi yang dialami. The greater the repression, the more obstructed the daily activities.

Pada kasus yang parah, seseorang dengan depresi mayor takkan mampu bekerja, belajar, bahkan tidur dan makan. Bila terjadi setidaknya lima gejala diatas dan berlangsung selama minimal dua minggu berturut-turut, disaat itulah seorang psikiater atau psikolog dibutuhkan.

 

3. Pre-Menstrual Dysphoric Disorder (PMDD)

Are you familiar with pre-menstrual syndrom (PMS)? Ya, PMS merupakan gejala-gejala fisik dan psikis yang sering dikeluhkan perempuan sebelum menstruasi. Berbeda dari PMS, gejala PMDD jauh lebih parah.

Alih-alih menjadi lebih emosional saat PMS, seorang perempuan dengan PMDD dapat merasakan kesedihan yang luar biasa tanpa sebab yang jelas atau depresi yang dapat mengganggu kegiatannya sehari-hari. Keluhan PMDD yang lebih spesifik diantaranya perubahan perasaan mendadak, sangat mudah tersinggung, cemas, merasa kelelahan, dan lain-lain.

PMDD memang dipengaruhi oleh hormon. Akan tetapi, bila sudah timbul pemikiran untuk bunuh diri, sebaiknya keadaan tersebut dikonsultasikan dengan psikiater.

 

4. Gangguan Bipolar

Do you know that the world class celebrities live with bipolar disorder? Mariah Carey, Demi Lovato, Britney Spears, Angelina Jolie, bahkan J.K. Rowling adalah beberapa nama besar yang mengalami gangguan bipolar.

Seseorang dengan gangguan bipolar mengalami fase mania (merasa sangat bahagia luar biasa) dan fase depresi, terus-menerus secara bergantian. The mania episode must last for seven days in order for a mental illness to be called bipolar disorder.

Pada fase mania, penderita gangguan bipolar merasa sangat berenergi, tidak membutuhkan banyak waktu untuk tidur, dapat berpikir dan bergerak serba cepat, sangat percaya diri, namun juga cenderung bertingkah yang membahayakan diri sendiri. For such a serious situation, a professional help is seriously required.

 

5. Persistent Depressive Disorder (PDD)

PDD, dikenal juga sebagai dysthimia, memiliki fase atau episode seperti gangguan bipolar. Bedanya pada PDD, masing-masing fase memiliki durasi yang jauh lebih lama, hingga berbulan-bulan. PDD dapat berlangsung selama bertahun-tahun, sehingga gejalanya tampak seperti kewajaran atau kebiasaan seseorang.

Agak mengkhawatirkan juga kan, Sobat? Nah, apa saja gejala PDD? Beberapa diantara gejalanya yaitu merasa sedih yang mendalam, merasa kurang dalam segala hal, perubahan selera makan, tak bersemangat, perubahan pola tidur, hingga menarik diri dari kehidupan sosial.

Bahkan, seseorang dengan PDD dapat kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya menarik, sulit merasa bahagia pada acara-acara yang menyenangkan, sampai-sampai tidak dapat mengerjakan tugas-tugas biasa di sekolah. And the worst part is that you can't really tell whether it's a mental illness or it's just you.

 

Bila akhirnya memutuskan untuk melakukan konseling, apa saja yang perlu dipersiapkan? Ada dua hal yang perlu dicatat, Sobat: kapan pertama kali suatu gejala depresi dirasakan dan bagaimana depresi tersebut mempengaruhi kegiatan sehari-hari. Nah, semoga gangguan psikis yang dialami dapat terselesaikan melalui konseling ya, Sobat.

Lebih masukan Blog

Hindari 7 Makanan Ini Agar Otak Tetap Sehat

Sebagai pelajar, otak adalah organ tubuh yang terpenting. Bagaimana tidak, kita membutuhkan...

4 Tips Penting Menghadapi Kegagalan

Let's face it: life doesn't always go the way you want it. Inginnya lolos SNMPTN biar tak...

Menambah Komentar

Auliya llmi 3 Bulan Lalu
Terima kasih sangat membantu, bisa buat cara menghilangkan depresi nya ga ya? tolong dong
Harap sign in untuk melanjutkan.

metablog-web Portlet

popular-post-web Portlet

redesain-footer Portlet

Bersama Aku Pintar temukan jurusan kuliah yang tepat sesuai minat dan bakatmu. Mungkin kamu tertarik dengan kampus dan jurusan kuliah dibawah ini.

Aku pintar logo

Aku Pintar adalah perusahaan teknologi informasi yang bergerak dibidang pendidikan. Nama perusahaan kami adalah PT. Aku Pintar Indonesia

Kontak Kami

+62 812 2000453
info@akupintar.id

Ikuti

Facebook Instagram Youtube WhatsApp Line