redesain-navbar Portlet

Blog

Guru Pintar Kesulitan Menghadapi Siswa yang Bandel? Jangan Takut! Ini Cara Mudah Menanganinya

Figure 1Photo by Husniati Salma on Unsplash

Siswa yang bandel tentu akan mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Kelas juga bisa menjadi tidak kondusif karena siswa yang bandel tersebut. Guru pun akan kewalahan menghadapi siswa yang bandel dan tidak bisa diatur. Siswa yang bandel sebenarnya merupakan siswa yang tidak dapat meregulasi tingkah laku nya di kelas karena berbagai penyebab. Akan tetapi, ada lho cara mudah untuk mengatur siswa yang bandel dan mengatur mereka.

1. Planned Ignoring

Planned ignoring atau secara sengaja tidak mengindahkan siswa yang bandel tersebut bisa dilakukan. Ada siswa bandel atau memiliki masalah perilaku sebenarnya diakibatkan oleh keinginannya untuk diperhatikan dan menjadi pusat perhatian. Oleh karena itu, jika guru tidak memberikan perhatian yang diinginkannya, maka tingkah laku tersebut lama-lama akan hilang.

2. Signal

Signal merujuk kepada tanda atau gerakan kecil yang guru lakukan untuk membantu regulasi tingkah laku siswa. Signal bisa berupa tatapan mata kepada siswa yang bandel, atau guru bisa berdehem sebagai. Signal hanya bisa dilakukan pada saat masalah tingkah laku baru mulai muncul karena signal berfungsi sebagai pengingat bahwa guru ada dan memperhatikan seluruh tingkah laku siswa.

3. Proximity dan touch control

Proximity merupakan kedekatan jarak secara fisik. Dengan menggunakan cara regulasi tingkah laku berupa proximity, guru dapat mendekatkan diri secara fisik kepada siswa yang bandel atau memiliki masalah tingkah laku. Sedangkan, touch control merupakan saat guru menyentuh secara fisik siswa yang bandel tersebut. Guru bisa menyentuh pundak maupun lengan siswa untuk mengingatkannya untuk tenang. Biasanya, proximity dan touch control dilakukan secara bersamaan dan bisa menjadi signal yang lebih kuat sehingga siswa tahu siapa yang sedang diperhatikan oleh guru.

4. Interest boosting

Terkadang, siswa yang bandel merupakan siswa yang cerdas dan tidak mendapatkan stimulasi yang cukup di kelas. Pelajaran yang tidak lagi menarik perhatian mereka membuat siswa melakukan hal-hal lain yang akhirnya, akan mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru harus dapat peka dan mengetahui kapan siswa mulai kehilangan minat pada pelajaran kelas dan memberikan stimulasi baru yang menarik perhatian siswa.

5. Humor

Humor bisa menjadi cara yang baik untuk membantu siswa meregulasi tingkah lakunya. Siswa yang bandel tidak harus selalu dimarahi dan dihukum, guru dapat menanggapinya dengan humor juga. Kemarahan guru dan hukuman yang diterima siswa terkadang malah membuat siswa bandel tersebut semakin menjadi-jadi. Selain itu, emosi negatif dapat terbentuk dalam diri siswa tersebut kepada guru dan sekolah. Oleh karena itu, humor bisa dijadikan substitusi oleh guru untuk mengatur kelas dengan lebih baik.

6. Helping over hurdles

Siswa yang bandel di kelas bisa terjadi karena siswa tersebut tidak mengerti pelajaran yang sedang dipelajari. Minat mereka terhadap pembelajaran di kelas menurun yang kemudian membuat mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak seharusnya dilakukan selama jam kelas sedang berlangsung. Dengan membantu siswa tersebut memahami pelajaran dengan lebih baik, diharapkan fokus siswa dapat kembali kepada pembelajaran yang sedang berlangsung dan tidak melakukan tindakan yang mengganggu jalannya kelas.

7. Program restructuring

Jika proses pembelajaran di kelas sudah terbukti tidak efektif, maka diharapkan guru dan sekolah dapat mengubah program tersebut. Jika tidak mungkin bagi sekolah untuk mengubah program pembelajaran secara keseluruhan, guru bisa mengubah metode pengajaran di kelas. Guru bisa mengubah metode pengajaran konvensional menjadi diskusi kelas, atau menggunakan gim. Guru dituntut kreatif menemukan cara terbaik agar siswa tetap dapat belajar dan memahami materi tanpa menjadi bosan.

8. Antiseptic bouncing

Antiseptic bouncing adalah kegiatan yang dilakukan untuk memberikan siswa bandel waktu untuk menenangkan diri atau biasa disebut dengan time-out. Siswa bandel yang kesulitan melakukan regulasi tingkah laku akan diminta untuk keluar kelas dan menenangkan diri selama sekian waktu. Kunci penting dari kegiatan ini adalah guru tidak menyertakan emosi kemarahan dan menggunakan time-out sebagai hukuman. Time-out bisa saja dikamuflase menjadi kegiatan lain seperti, siswa tersebut diminta untuk mengambil spidol papan tulis yang baru dari tata usaha. Kuncinya adalah siswa tersebut harus tahu bahwa waktu yang diberikan guru untuk mengambil spidol tersebut harus ia gunakan untuk menenangkan diri dan harus kembali dengan fokus yang lebih baik di kelas. Oleh karena itu, guru harus menyatakan tujuan time-out tersebut ke siswa yang bermasalah.

9. Defining limit

Sering sekali siswa bandel tersebut tidak mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan di kelas khususnya, siswa dengan usia yang lebih muda. Kenakalannya merupakan cara siswa tersebut untuk mengetahui batas toleransi guru atas perilakunya. Oleh karena itu, guru harus tegas dalam menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di kelas. Cara defining limit biasanya akan dilakukan bersama dengan direct appeal.

10. Direct appeal

Tidak hanya memperjelas batas-batas di kelas, guru juga harus menjelaskan konsekuensi dari tingkah laku yang siswa lakukan. Penjelasan tingkah laku beserta konsekuensinya harus dilakukan sebelum proses belajar mengajar dimulai atau sebelum siswa tersebut melakukan tindakan tersebut. Sebagai contoh, siswa yang mulai membuat keributan akan diingatkan oleh guru bahwa bisa saja dihukum jika tidak segera tenang. Dengan begitu, diharapkan siswa dapat meregulasi tingkah lakunya jika mengetahui konsekuensi yang akan dihadapinya.

Itulah beberapa cara manajemen kelas yang dapat dilakukan guru khususnya, saat menghadapi siswa bandel yang kesulitan meregulasi tingkah laku nya. Terdapat beberapa poin yang lebih mudah dilakukan dibandingkan yang lain namun penting sekali bagi guru untuk mengetahui penyebab kenakalan siswa sehingga dapat menggunakan cara yang terbaik.

 

Daftar Pustaka

Snowman, McCown & Biehler. (2012). Psychology Applied to Teaching (13th Ed.). Wadsworth.

 

Penulis : Brendha Christie Tanujaya

00

Entri Blog Lainnya

thumbnail
thumbnail
Menambah Komentar

CssBlog

metablog-web Portlet