redesain-navbar Portlet

Blog

Belajar dari Jepang Bagaimana Menghargai Guru Setelah Perang Dunia 2 (Bom Atom)

Peranan penting guru dalam kebangkitan Jepang setelah tragedi Hiroshima dan Nagasaki

Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels

Kaisar Hirohito tercatat dalam sejarah kekaisaran Jepang sebagai kaisar Jepang yang paling lama hidup dan paling lama memerintah sebuah monarki. Kekaisaran Jepang yang sampai saat ini masih memegang status sebagai monarki tertua di dunia, telah mengalami dinamika yang luar biasa sebagai sebuah negara pada awal abad ke-20. Di masa itu Kaisar Hirohito berkuasa, negara yang terkenal dengan sebutan Negeri Matahari Terbit itu mengalami kebangkrutan akibat perang besar, dan pada akhirnya bangkit lagi bahkan dapat menempatkan posisinya sebagai salah satu adikuasa ekonomi dunia.

Pada tahun 1945, tepatnya pada saat perang dunia ke 2, bom atom dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima yang menjadi klimaks serangan udara AS. Peristiwa ini dicatat dalam sejarah sebagai sebuah peristiwa besar yang memporak-porandakan negara Jepang . Akibatnya, barang-barang kebutuhan menjadi langka, inflasi melesat naik, transportasi lumpuh, industri mandek, dan sudah barang tentu perekonomian Jepang berada pada titik nadir. Tidak hanya itu, pada saat yang sama ancaman serangan dari Uni Soviet usai dipatahkannya pakta netralitas kedua negara juga tengah membayang-bayangi.

Kondisi Jepang pasca bom atom sungguh sangat memprihatinkan. Sejarah bom atom Hiroshima dan Nagasaki membuat dunia tercengang. Di saat keadaan negara sudah sedemikian hancurnya, bukannya bertanya tentang berapa tantara yang tersisa, kaisar Hirohito justru menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa saat pertama kali mendengar negaranya telah luluh lantak oleh bom nuklir yang dijatuhkan tantara Amerika Serikat itu.

Pada awalnya para jenderal menjawab dengan tegas kepada Kaisar bahwa mereka mampu menyelamatkan dan melindungi Kaisar tanpa bantuan guru. Mereka heran mengapa sang kaisar justru mempertanyakan tentang guru alih-alih kondisi kemiliteran mereka. Kemudian Kaisar Hirohito menjelaskan kepada mereka bahwa Jepang telah jatuh dan hal itu dikarena karena mereka tidak belajar. Jepang memang kuat dari segi persenjataan dan strategi perang. Tapi nyatanya mereka tidak mengetahui bagaimana cara membuat bom yang dahsyat seperti yang telah membumi hanguskan kota Hiroshima dan Nagasaki. Kaisar berpendapat kalau mereka semua tidak dapat belajar,  bagaimana mungkin mereka akan mengejar ketertinggalan mereka dan bangkit lagi dari keadaan ini.

Alasan Jepang memanggil guru pasca perang
Foto oleh DSD dari Pexels

Mendengar hal tersebut, maka akhirnya dikumpulkanlah sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kota. Jumlah guru yang tersisa pada saat itu kurang lebih 45.000 guru saja. Kaisar Hirohito dengan penuh harapan mengatakan kepada seluruh pasukan dan juga rakyat Jepang bahwa kepada gurulah sekarang mereka akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan. Hal ini menunjukkan betapa bernilainya seorang guru di mata Kaisar. Momen ini pulalah yang menjadi tonggak kebangkitan Jepang sehingga menjadi salah satu negara maju hanya dalam kurun waktu 20 tahunan. Padahal dengan kondisinya yang hancur lebur saat itu, dunia memprediksi paling tidak Jepang membutuhkan waktu kurang lebih 50 tahun untuk dapat bangkit kembali.

Dari sejarah di atas dapat dikatakan bahwa mengumpulkan guru setelah perang menjadi salah satu faktor Jepang menjadi negara maju seperti sekarang ini. Hal ini menjadi bukti bahwa kemajuan sebuah bangsa, melibatkan peran besar guru-guru. Meskipun bergelar sebagai pahlawan tanda jasa, namun jasa seorang guru tidak dapat dipandang sebelah mata.


Foto oleh Ben Cheung dari Pexels

Guru adalah jembatan masa depan. Di belahan dunia manapun, di mata orang-orang sukses, dan di mata orang-orang pandai, sosok yang berjasa dan memiliki andil dalam pencapaian mereka tak lain adalah guru. Alasan jepang mengumpulkan guru setelah bom atom patut dicontoh oleh negara manapun yang ingin maju. Nah, sudah saatnya kita belajar dari Jepang bagaimana mereka menghargai dan mengakui peran besar guru untuk kelangsungan negaranya. Untuk itu, segala upaya dalam mensukseskan tugas guru merupakan hal yang dipandang perlu mendapatkan perhatian bersama.

Kepedulian terhadap nasib guru, kesejahteraan guru merupakan bentuk perhatian terhadap guru. Dengan demikian para guru dapat mendedikasikan diri sepenuh hati untuk mendidik generasi penerus bangsa ini.

 

 

00

Entri Blog Lainnya

thumbnail
thumbnail
Menambah Komentar

CssBlog

metablog-web Portlet