PinpointBlog

website-baru-feed-banner Portlet

Informasi Terkini Seputar Dunia Pendidikan

Informasi terbaru

Logo Aku Pintar

Daftar Beasiswa Kuliah di Aplikasi Aku Pintar

Ada puluhan beasiswa sedang dibuka. Ayo buruan!

website-baru-navbar Portlet

Blog

photo credit Getty Images

Let's be Positive, Gen Z!

Tips Pelajar dan Mahasiswa

Galau... Apapun alasannya, apapun keadannya, mudah sekali kita bilang, "Lagi galau, nih." Padahal sebenarnya, nggak segitunya juga kali, kita bisa meng­abuse atau menyalahgunakan kata 'galau' ini. Tapi apapun itu, biar kita punya pandangan yang lebih positif, atasi kegalauanmu dengan tips ini.

 

1. Stop Ngaret

Tiap pagi kamu ditunggu guru Tatib di gerbang sekolah? Diakui atau tidak, datang terlambat memang sudah menjadi budaya kita. Tapi nggak setiap budaya itu baik dan nggak perlu diubah, kan? Jadi, hentikan kebiasaan ngaret ini.

Mungkin tak berdampak besar bagimu saat ini sebagai pelajar, apalagi mahasiswa yang punya tenggat waktu keterlambatan maupun ketidakhadiran. Akan tetapi, kebiasaan ngaret ini bisa merembet pada hal-hal lain seperti terlambat mengumpulkan tugas yang efeknya ditolak oleh dosen dan nggak lulus matakuliah, terlambat menyelesaikan kuliah, terlambat janji temu dengan calon bos yang efeknya gagal di­hire dan dapat pekerjaan,... lanjutin sendiri aja, deh.

Bagi orang yang terbiasa tepat waktu, berurusan dengan si pengaret tuh bikin betenya bisa sampai keubun-ubun, lho. Seandainya kamu terlambat 10 menit saja dalam suatu janji temu dengan klien dari Jepang atau Eropa, yang kereta atau bis umum terlambat lima menit saja bisa jadi heboh di negaranya, boleh jadi kamu udah ditinggal. Bagi mereka, terlambat datang bisa dianggap: satu, kamu tidak berminat dan dua, kamu nggak respek. So, why wasting time on you?

 

2. Bertanggung Jawab atas Kesalahan yang Kamu Bikin

Cerita umum, nih. Main bola, kamu nendang bola, kena jendela kaca di rumah orang, trus bilang temenmu yang nendang bola dan bikin tuh kaca pecah. Basi, tau?

Memang kita semua punya insting untuk menyelamatkan diri, tapi enggak gitu juga, keles. Itu namanya menimpakan kesalahan dan mengorbankan orang lain, padahal kita sendiri yang bikin salah. Kitalah yang seharusnya bertanggung jawab.

Tapi kan, jadi kena masalah? Gini, deh. Pada analogi cerita bola diatas, kalau kamu melempar kesalahan pada orang lain, setidaknya ada tambahan satu orang lagi yang terlibat: teman, yang akan segera jadi musuhmu – yang mungkin bisa nambah kawan lain untuk memusuhimu atau mengadu pada orang tuanya yang akan mengadu pada orangtuamu. Tambah melebar kan, urusannya? Sebaliknya, kalau kamu mengaku pada yang punya rumah bahwa itu kesalahanmu dan kamu akan bertanggung jawab dengan konsekuensi mengganti kacanya, maka collateral damagenya bisa terkendali. Bahkan mungkin kamu bisa nego waktu yang sekiranya sesuai dengan kondisi finansialmu.

Pilihan solusinya, kamu bisa melibatkan orangtua untuk memperoleh tambahan dana (sekaligus mungkin dimarahi sebentar?) atau gunakan uang tabunganmu. Lebih baik ambil pilihan kedua karena berarti kamu belajar untuk menjadi dewasa, mengatasi permasalahnmu secara mandiri, dan menanggung konsekuensi dari setiap tindakanmu – itulah sebagian makna dari bertanggung jawab.

 

3. Segala Sesuatu Akan Indah pada Saatnya

"Kenapa aku nggak bisa juara kelas seperti Dani?"

"Kenapa Ika bisa terpilih ikut olimpiade, tapi aku enggak?

Kamu bisa lanjutin bikin kalimat bernada negatif yang lain. Tapi trus, apa hasilnya? Setelah mengeluh tentang Dani, apa kamu jadi juara kelas? Setelah menggerutu tentang Ika, apa kamu akan dikirim untuk ikut olimpiade?

Alih-alih bersikap negatif atas keberhasilan kawanmu, berilah ucapan selamat. Mungkin terasa berat untuk mengawalinya, tapi seiring waktu kamu akan merasa lebih baik – pulih lebih cepat dari kegalauanmu. Sebaliknya, jika kamu memilih untuk tetap bete dengan prestasi temanmu, perasaan itu akan tetap bersamamu untuk waktu yang cukup lama.

Bagaimana kalau mengubah fokusmu? Alih-alih dengki pada hal baik yang terjadi pada orang lain, perhatikan saja apa yang telah dan ingin kamu lakukan. And do it! Then, keep doing it. Tinggal tunggu waktu aja, pada saat yang tepat, kamupun akan secemerlang atau mungkin lebih dari mereka.

 

4. Temukan Alasan Kenapa Kamu Harus Melakukan Sesuatu

Kenapa kamu ingin kuliah Kedokteran? Karena kamu mau? Atau karena ingin membuat bangga orang tua?

Membuat bangga orang tua adalah alasan yang baik dan mulia untuk mengejar impian menjadi dokter. Tapi kalau kamu sendiri nggak hepi melakukannya, selalu ada kemungkinan kamu kehabisan niat (kehilangan motivasi) ditengah jalan.

Sama seperti olahraga, kenapa kamu mau bangun lebih pagi untuk jogging, berpeluh keringat dan pegal-pegal setelahnya? Demi pujian berat badan yang ideal? Atau karena kamu merasa hepi dan bisa tersenyum lebar sesudahnya?

Alasan yang mendasari setiap tindakanmu dapat mempengaruhi seberapa ajeg kamu akan melakukan sesuatu. Alasan atau motivasi yang muncul dari dalam diri sendiri biasanya akan membuatmu bertahan, seberat apapun perjuangan yang harus dilakukan.

 

Tak perlu banyak teori untuk menjadi Gen Z yang lebih positif. Semuanya diawali dari diri sendiri, dan untuk dirimu sendiri. Jika kamu menawarkan tangan hangat penuh persahabatan, maka kamupun akan mendapatkan uluran tangan yang sama pula.

Lebih masukan Blog

Pakai Soft Lens? Sudah Tahu tentang Ini, Belum?

Kamu pengguna soft lens atau kontak lensa? Atau sedang mempertimbangkan untuk mengganti...

6 Kesalahan Umum Berbahasa Inggris – Sudah Tahu?

Karena nggak menggunakan Bahasa Inggris sehari-hari, wajar saja bila kita membuat berbagai...

metablog-web Portlet

popular-post-web Portlet

Terpopuler

Terbaru