redesain-navbar Portlet

Blog

Pertimbangkan Alasan Ini  sebelum Curhat melalui Akun Medsosmu, photo via www.intouchcrm.com

Pertimbangkan 3 Alasan Ini sebelum Curhat melalui Akun Medsosmu

Bersikap bijak dalam menggunakan media sosial dapat meningkatkan kualitas hidup.

At one point, kita semua pernah merasa sedih dan terpuruk. At one point, kita semua pernah membutuhkan seseorang untuk berbagi dan mencurahkan isi hati – curhat. Nah, pada saat sepert ini, seberapa besar peluang Sobat untuk menuliskan isi hati sebagai status pada media sosial?

But, wait! Sebaiknya jangan dilanjutkan curhat melalui media sosial, Sobat. Setidaknya, pertimbangkan tiga alasan berikut ini sebelum mulai meng-update statusmu dengan curhat pribadi.

 

1. Privasi Diri Sendiri

Menurut KBBI, privasi adalah keleluasaan pribadi. Tapi konteksnya bukan berarti kita memiliki keleluasaan pribadi untuk menuliskan apapun yang diinginkan pada akun media sosial ya, Sobat.

Bila mengacu pada jawaban paling cerdas pada Brainly, privasi diartikan sebagai kerahasiaan pribadi. Nah, dalam hal ini privasi merupakan kemampuan kita untuk menutup atau melindungi kehidupan dan urusan personal dari publik. Pada intinya, melindungi privasi berarti menjaga seberapa banyak yang diketahui publik tentang diri kita.

Kenapa kita harus membatasi informasi tentang diri kita? Karena ketika kita mengutarakan sesuatu untuk dikonsumsi publik, maka setiap orang dapat menyampaikan pendapatnya dengan bebas. How frustrating it will be when something so trivial in our daily life becomes so heavyweight to argue about.

Misalnya, Sobat membuat status tentang menu sarapan pagimu. Apapun curahan hatimu, bersiaplah bila nantinya akan ada yang mengatakan bahwa menu tersebut kurang sehat, kurang bervariasi, murahan, tak mengenyangkan, atau apapun pendapat lain yang muncul. Everyone out there is free to say something, even judge, about you.

 

2. Dampak pada Diri Sendiri dan Sekitar

Lantas, bagaimana agar status media sosial kita tetap proporsional? Sobat Pintar dapat menggunakan fitur private mode agar hal pribadi tak perlu digunjingkan publik – meskipun cara ini tak dapat dijamin ampuh.

Sayangnya, cara tersebut tidak lantas menyelesaikan persoalan yang mungkin timbul. Let's say, you write something on your social media account. Personal ataupun tidak status tersebut, tetap saja kita akan tertarik untuk memeriksa bagaimana tanggapan orang atas status tersebut. Bila ada tanggapan, kita pun perlu membalas, dan begitu seterusnya.

Bisa jadi kita berulang kali memeriksa tanggapan atas status tersebut, bisa jadi pula kita sibuk menanggapi. And what's going on around you as you're busy checking and replying? Kemungkinan besar, kita mengabaikan orang-orang disekitar kita – baik orang tua, kakak, adik, maupun sahabat.

Now, social media are supposed to connect people, aren't they? Then, why are we losing connection with those around us?

Ada pula pertimbangan masa depan yang perlu diperhatikan. Bagaimana bila kelak Sobat mengajukan beasiswa atau melamar pekerjaan? Bagaimana bila akun media sosialmu digunakan sebagai salah satu rujukan? You don't want to make yourself look unprofessional, do you?

 

3. Dampak pada Masalah dan Keadaan

Lebih buruk lagi, mencurahkan masalah pribadi pada status media sosial belum tentu dapat membawa solusi yang tepat. Justru dengan simpang siurnya tanggapan yang muncul, sepertinya persoalan yang kita sampaikan jadi semakin rumit – apalagi, bila persoalan yang kita curahkan berkaitan dengan orang lain.

Misalnya Sobat Pintar punya perbedaan pendapat dengan seorang teman. Wajar saja bila kita merasa benar dengan pendapat diri sendiri. Tapi ketika mencurahkan perbedaan pendapat tersebut agar diketahui publik melalui media sosial, perbedaan yang ada justru semakin besar.

­As opposed to including more people into the discussion, why don't we just talk the differences out? Dengan membahasnya lebih lanjut bersama orang yang bersangkutan, besar kemungkinan kita dapat menemukan jalan tengah dengan lebih mudah.

Namun memang tak selalu mudah untuk menghadapi orang lain dan berdiskusi dengan sehat – apalagi, bila kita sudah memendam beraneka ragam emosi. Dalam keadaan seperti ini, Sobat Pintar dapat menggunakan bantuan Konselor.

Seorang Konselor tak hanya membantu kita mengurai kusutnya benang emosi yang terpendam. Boleh jadi, kita pun memperoleh tips dalam memperbaiki komunikasi dengan orang lain.

Even better, stop spilling out your personal life on social media and talk your problem out with a counselor. Bukankah lebih baik menggunakan fitur Konseling Aku Pintar dan menemukan solusi yang tepat alih-alih meng-update status dengan keluhan dan berbagai ungkapan frustrasi?

Lebih masukan Blog

12 Prospek Kerja Sarjana Sistem Informasi

Sobat Pintar tertarik untuk belajar tentang IT atau bisnis? Tak perlu memilih, Sobat dapat...

Anak Kos Mudah Mengalami 3 Sakit ini

Meninggalkan rumah dan tinggal di kos menjadi satu babak hidup yang tak terelakkan – for some...

metablog-web Portlet

popular-post-web Portlet

redesain-footer Portlet

Bersama Aku Pintar temukan jurusan kuliah yang tepat sesuai minat dan bakatmu. Mungkin kamu tertarik dengan kampus dan jurusan kuliah dibawah ini.

Aku pintar logo

Aku Pintar adalah perusahaan teknologi informasi yang bergerak dibidang pendidikan. Nama perusahaan kami adalah PT. Aku Pintar Indonesia

Kontak Kami

+62 812 2000453
info@akupintar.id

Ikuti

Facebook Instagram Youtube WhatsApp Line
Logo Aku Pintar

Daftar Beasiswa Kuliah di Aplikasi Aku Pintar

Buka