PinpointBlog

website-baru-feed-banner Portlet

Informasi Terkini Seputar Dunia Pendidikan

Informasi terbaru

website-baru-navbar Portlet

Blog

5 Faktor Penyebab Mahasiswa Drop Out Kuliah

Tips Kuliah

Kuliah dan berstatus sebagai mahasiswa mungkin nggak cuma impianmu semata, tapi juga harapan orang tua. Hanya saja, terkadang menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa tuh adakalanya penuh onak dan duri hingga event wisudapun tinggal mimpi yang tak terwujud. Nah, apa aja sih, yang kudu diwaspadai agar kamu nggak sampai drop out kuliah?

 

1. IP Tak Memenuhi Syarat

Pada umumnya emang jarang banget ada mahasiswa yang IP-nya sampai bikin nggak layak kuliah semester depan. Kecuali kamu males banget ngurus cuti kuliah, trus tak satupun kelas dalam daftar KRS yang kamu hadiri, maka pintu drop outpun akan terbuka lebar. Tapi masih ada teguran, surat peringatan (SP) berkali-kali, atau apapun itu yang dapat mengingatkan bahwa kamu udah melenceng dari jalur yang benar. Baru kemudian, ada keputusan dan pernyataan bahwa kamu udah drop out.

Beda cerita kalau kamu kuliah di kampus yang udah bikin peraturan jelas bahwa ada nilai IP minimal setiap semester – biasanya di sekolah kedinasan. Jenis sekolah dengan ikatan dinas seperti PKN STAN akan menetapkan nilai minimal Indeks Prestasi 2,40 atau 2,75.

 

2. Salah Jurusan

Sebenarnya nggak susah-susah banget kok, untuk dapat IP 3.00 atau lebih – apalagi kalau kamu belajar tentang sesuatu yang sudah menjadi minatmu selama ini. Pasti kamunya semangat-semangat aja walaupun harus begadang ngerjain tugas, kerja kelompok, nyari referensi di perpustakaan selama berjam-jam, atau kerja keras yang lain.

Tapi kalau nggak suka sama apa yang tengah kamu pelajari – misalnya minatmu pada bidang bisnis tapi kuliah dibidang medis, tentu makin terasa berat saja setiap usaha yang harus kamu lakukan. Entah itu jurusan kuliah pilihan orang tua atau pilihanmu sendiri, tapi selama kamu nggak enjoy disitu, maka IP dan IPK yang dihasilkan juga biasanya nggak memuaskan.

 

3. Salah Kampus

Pada dasarnya, sama seperti perguruan tinggi di luar negeri, di dalam negeripun ada kampus yang berorientasi riset ada pula yang berorientasi terapan. Kalau minatmu memang lebih pada riset, pilihlah universitas yang punya jurusan pilihanmu dengan ranking atau akreditasi terbaik. Misalnya, kamu ingin kuliah di Jurusan Arkeologi, pilihlah Universitas Gadjah Mada atau Universitas Indonesia.

Tapi jika kamu lebih tertarik pada ilmu terapan, nggak perlu melirik iri pada teman-temanmu yang mengejar gelar sarjana karena kuliah di politeknik bisa jadi lebih sesuai buatmu. Bukankah pada akhirnya lulusan pendidikan tinggi diharapkan mampu memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain – dengan bekerja dan menjadi produktif, misalnya? Lagipula, buat apa mengikuti pola pikir mainstream kalau kamu lebih tau mana yang terbaik buat dirimu sendiri?

 

3. Rendah Hingga Hilangnya Motivasi Belajar

Siapa sih, yang mau menghabiskan masa mudanya untuk rajin datang kuliah, belajar, ngerjain tugas, ke perpustakaan, dan berbagai hal membosankan lainnya? Apalagi kalau kamu sudah melakukannya selama belasan tahun di sekolah, kebebasan yang ditawarkan oleh status mahasiswa bisa terasa bagai surga dunia.

Yup, melupakan tugas akademik dan memilih hura-hura adalah kebiasaan mahasiswa baru hingga mahasiswa tanggung (tingkat dua atau tiga). Tak selalu bermakna kegiatan senang-senang tanpa manfaat, tapi bisa juga berarti mahasiswa lebih memilih sibuk berorganisasi ketimbang menyelesaikan tanggungan akedemiknya.

Selain itu, bisa jadi mahasiswa kehilangan minat untuk melanjutkan kuliah karena berkali-kali gagal lulus pada satu atau beberapa matakuliah. Untuk mahasiswa tua (maksudnya, yang udah ditingkat empat), menjaga semangat untuk tetap stabil saat menyelesaikan skripsi juga bisa jadi perjuangan yang tak mudah. Jadi pada intinya, memelihara motivasi untuk terus belajar tuh penting banget selama kuliah ya, Sobat Pintar.

 

4. Tuntutan Finansial

Sebagian mahasiswa harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, bahkan ada pula yang menjadi tulang punggung keluarga. Memang, kesibukan kuliah dan bekerja tak bisa dihindari oleh sebagian orang, dan menjaga keseimbangan keduanya juga bukan hal yang mudah.

Bila kamu termasuk pada kategori ini, tetaplah berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan kuliahmu. Bagaimanapun juga, pegang duit tuh godaan besar kalau fokusmu pada jangka pendek – bedakan mana alat dan mana tujuan.

 

5. Jauh dari Keluarga

Namanya juga hidup, ada mahasiswa yang harus banting tulang kuliah dan kerja, ada pula mahasiswa yang bergantung banget sama keluarga – apa-apa keluarga, dikit-dikit keluarga. Eitts, tapi jangan salah, ya. Memiliki kedekatan emosi dengan keluarga tuh bagus banget. Tapi kalau kedekatan dengan keluarga sampai bikin kamu nggak bisa mandiri, menjadi ketergantungan, itu yang namanya berabe.

Ya abisnya, kamu udah berusia 18 tahun lebih. Masak bagaimana cara mengatur cucian baju kotor aja, masih nanya orang tua? Masih nggak bisa ngatur jadwal pribadi kapan hang out, jam berapa bangun, dan sebagainya?Gimana skripsimu bisa kelar kalau perkara remeh-temeh begitu masih nggak beres?

 

Sebagai mahasiswa, idealnya lulus kuliah ya dalam empat atau lima tahun. Jangan sampai perkara sepele seperti pengaturan waktu, kurang atau salah fokus, buta cara belajar yang efektif, hingga gagal paham standar tanggung jawab sebagai mahasiswa menjadikanmu cemas dan frustasi sampai mengabaikan kuliah – bahkan DO.

Lebih masukan Blog

8 Negara Ini Pilihan Favorit Pelajar Indonesia untuk Kuliah

Kenapa kuliah di dalam negeri kalau kamu bisa kuliah di luar negeri? Sekalipun tak terlahir...

5 Karir Cemerlang bagi Alumni Jurusan Administrasi Bisnis

Administrasi Bisnis, atau sering juga disebut sebagai Administrasi Niaga, adalah jurusan...

metablog-web Portlet

popular-post-web Portlet

Terpopuler

Terbaru