Dampak Positif dan Negatif Pergantian Kurikulum Baru
APSiswaNavbarV2
Tesssss Tesssss
CssBlog
redesain-navbar Portlet
metablog-web Portlet
Blog
Foto oleh Katerina Holmes dari Pexels
Di akhir tahun 2021, kabar pergantian kurikulum hangat diperbincangkan. Kurikulum 2013 dan kurikulum darurat yang selama ini diterapkan di sekolah akan digantikan dengan kurikulum paradigma baru atau disebut sebagai kurikulum prototipe (2022).
Alasan perubahan kurikulum dalam pendidikan biasanya didasarkan pada evaluasi kurikulum yang telah diterapkan sebelumnya. Munculnya kurikulum baru 2022 ini dipicu oleh kondisi pandemi dan juga kritik terhadap kurikulum 2013. Penasaran dengan kurikulum [paradigma baru 2022?
Berikut ini akan dipaparkan secara singkat karakteristik kurikulum paradigma baru atau kurikulum prototipe 2022:
1. Pada kurikulum baru, pembelajaran dirancang berbasis project untuk pengembangan soft skills dan karakter siswa (iman, taqwa, dan akhlak mulia; gotong royong; kebhinekaan global; kemandirian; nalar kritis; dan kreatifitas).
2. Pembelajaran berfokus pada materi esensial supaya alokasi waktunya cukup untuk melakukan pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.
3. Guru mengajar sesuai dengan kemampuan siswa atau dikenal dengan istilah teaching at the right level dan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal dapat dilakukan dengan lebih fleksibel.
Terdapat beberapa perbedaan antara kurikulum 2013 dan kurikulum 2022 atau kurikulum prototipe, yaitu:
1. Level TK
Pendekatan pembelajaran yang awalnya berbasis tema, akan berubah menjadi lebih fokus pada literasi.
2. Level SD
Pada kurikulum 2013, pelajaran IPA dan IPS dipisah. Pada kurikulum prototipe pelajaran IPA dan IPS digabung.
3. Level SMP
Pada Kurikulum 2013 mata pelajaran Informatika merupakan mata pelajaran pilihan. Sedangkan pada kurikulum prototipe Informatika menjadi mata pelajaran wajib.
4. Level SMA
Pada kurikulum baru ini, siswa SMA akan menentukan jurusan di kelas XI. Di kelas X merupakan masa persiapan termasuk pemantauan dari guru BK dan wali kelas untuk melihat proses peminatan siswa termasuk hasil berkonsultasi dengan orang tua.
Perubahan kurikulum di Indonesia sudah mengalami pergantian kurang lebih 10 kali yang dilatar belakangi beberapa sebab tertentu sehingga ada kebijakan untuk menerapkan kurikulum yang baru. Setiap pengambilan keputusan pasti memiliki kelemahan dan kelebihan. Berikut ini adalah plus minus dari pergantian kurikulum baru:
1. Kurikulum baru melengkapi kekurangan yang ada pada kurikulum sebelumnya
Kurikulum yang baru yang akan dilaksanakan, telah didesain dengan menelaah lebih lanjut apa saja yang menjadi kendala pada kurikulum sebelumnya. Dari sini dapat dikatakan bahwa salah satu tujuan perubahan kurikulum adalah untuk melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada pada kurikulum sebelumnya. Harapannya, dampak positif dari kurikulum baru dapat lebih meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
2. Terdapat Penyesuaian dengan tuntutan perubahan zaman
Zaman berkembang dengan sangat. Berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan membutuhkan adanya perubahan-perubahan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan yang muncul. Fungsi kurikulum inilah yang akan menjawab untuk menghadapi tantangan masa depan akibat tuntutan perubahan zaman tersebut dan tetap mampu merealisasikan tujuan pendidikan.
1. Tidak tercapainya target pendidikan di awal penerapan
Hal ini biasanya disebabkan karena guru sebagai pendidik belum mampu menerapkan kurikulum baru secara menyeluruh. Guru harus benar-benar memahami kurikulum baru beserta komponen-komponennya jika ingin menerapkannya dengan hasil yang diharapkan. Sebaik apapun kurikulum baru yang dikembangkan, jika ujung tombaknya yaitu guru tidak mampu mengejawantahkannya dalam proses belajar mengajar dengan baik maka kurikulum tersebut tidak bisa berjalan lancar.
2. Fasilitas yang kurang memadai
Di beberapa daerah, kadang-kadang fasilitas yang dimiliki sekolah menjadi kendala tidak berhasilnya penerapan kurikulum baru. Fasilitas yang dimiliki oleh masing-masing sekolah di Indonesia masih belum merata. Sekolah-sekolah yang ada di kota besar kemungkinan mampu memenuhi tuntutan dari perubahan kurikulum. Bagaimana dengan sekolah di tempat terpencil yang serba terbatas?
3. Sosialisasi penerapan kurikulum baru membutuhkan waktu
Perubahan kurikulum tentu saja membutuhan sosialisasi kepada guru-guru yang merupakan pelaksana di lapangan. Kurikulum baru harus mampu membuat semua guru memahami kurikulum baru supaya penerapan kurikulum baru itu berhasil. Sosialisasi sangat penting untuk memberikan pemahaman tentang tujuan, capaian yang ingin diraih, dan lain sebagainya dari kurikulum baru. Jika sosialisasi gagal, maka harapan kurikulum akan berhasil juga sangat kecil.
Demikian tadi sekilas paparan tentang kurikulum paradigma baru yang akan dilaksanakan pada tahun 2022 dan juga plus minus dari pergantian kurikulum baru. Semoga bermanfaat!
ArtikelTerkaitV3
Dari Bangku Kuliah ke Ruang Operasi: Begini Perjalanan Seru
Halo, Sobat Pintar! Punya mimpi jadi dokter? Atau sekadar penasaran dengan perjalanan panjang yang harus dilalui sebelum bisa memakai jas putih dan stetoskop? Yuk, simak cerita seru tentang perjalanan pendidikan dan karier menjadi dokter, mulai dari kulia...
Baca Selengkapnya
4 Bulan Menuju SNBT-UTBK 2026: Strategi Belajar Kilat yang B
Hai, Sobat Pintar! Ujian SNBT-UTBK 2026 sudah di depan mata, dan kamu hanya punya waktu sekitar 4 bulan untuk mempersiapkannya. Jangan panik! Dengan strategi yang tepat, waktu 4 bulan ini bisa kamu manfaatkan sebaik mungkin untuk meraih nilai tinggi. Yuk,...
Resolusi 2026: Rahasia Sukses Siswa Pintar untuk Gapai Targe
Hai, Sobat Pintar! Sudah punya rencana buat tahun 2026? Jangan cuma jadi penonton, yuk jadi pemain utama di hidupmu dengan menyusun resolusi yang smart! Buat kamu yang masih duduk di bangku sekolah, ini saatnya mempersiapkan diri untuk kuliah dan karir im...
Hai Sobat Pintar,
Yuk Cobain Aplikasi Aku Pintar Sekarang Juga!
Jutaan siswa sudah menemukan minat, bakat dan kampus impian bersama Aku Pintar. Sekarang giliran kamu Sobat!
BannerPromoBlog