APSiswaNavbarV2

CssBlog

redesain-navbar Portlet

metablog-web Portlet

CssBlog

Blog

Mau Jadi Dokter? Pinter Aja Enggak Cukup!

Tahukah Kamu?

photo via www.utahpeoplespost.com

"Sekolah mau jadi apa?"

"Mau jadi dokter."

Tanya jawab seperti ini mungkin terjadi jutaan kali, apalagi saat kita masih kecil. Beranjak pada masa sekolah, cita-cita jadi dokter sepertinya semakin dekat tergapai, terutama buat kamu-kamu yang punya otak super encer. Tapi bila kamu termasuk super jenius, ternyata otak brilian itu tak cukup untuk mengantarkanmu jadi dokter. Kenapa? Karena dibutuhkan kualitas luar biasa di bawah ini supaya kamu bisa lolos tes masuk Sekolah Kedokteran, menyelesaikan seluruh proses pendidikan doktermu, dan kemudian menjadi seorang dokter yang profesional.

 

Persiapan Ujian Masuk Sekolah Kedokteran yang Tak Mengenal Lelah

Passing grade Sekolah Kedokteran pada semua PTN rata-rata cukup tinggi. Ini berarti, kamu enggak bisa leha-leha dalam persiapan SNMBTN, SBMPTN, bahkan ujian Mandiri. Tekun melahap buku-buku latihan soal pada semua matapelajaran hanyalah secuil perjuangan yang mulai kamu jalani.

Bagaimana dengan PTS? Sama saja, kamu tetep akan melalui ujian masuk, jadi jangan tergoda saat teman-temanmu tampaknya lebih santai. Tabahkan hatimu dan kuatkan tekadmu!

 

Riset dan Bikin PR-mu

Riset? PR? Apaan sih? Maksudnya, carilah info sebanyak-banyaknya tentang Sekolah Kedokteran yang kamu taksir. Setiap PTN dan PTS punya kriteria persyaratan mahasiswa barunya sendiri-sendiri, jangan sampai kamu terlewat informasi yang penting.

Kemudian, bikin prioritas PTN pilihanmu – terurut dari passing grade tertinggi sampai terendah. Daftar seperti ini akan membuatmu merasa punya arah yang lebih jelas. Bikin urutan prioritas PTS juga. Bukannya berburuk sangka kamu bakalan gagal sih, tapi enggak ada ruginya punya back-up plan B, C, D, E, hingga rencana darurat. Seandainya nanti dibutuhkan, perencanaan yang baik dapat mengurangi stresmu.

 

Jangan Mudah Menyerah

Tabah, sabar menjalani, dan jangan mudah menyerah. SNMPTN, SBMPTN, jalur Mandiri, atau ujian-ujian yang lain, jalani dengan baik dan jangan mudah patah semangat. Mungkin kamu bisa lolos dalam satu kali seleksi, mungkin butuh dua kali, atau mungkin lebih. Dijalani saja, ya.

 

Kualitas Logika dan Kemampuan Analisis yang Sistematis

Apa gunanya kamu digembleng dengan matapelajaran IPA bila tak mampu mengubah logika dan cara berpikirmu? Bukan sekedar mampu menghafal fungsi dan penyakit Sistem Reproduksi Manusia pada pelajaran Biologi, tapi kemampuan Kimia, Fisika, dan Matematika juga sama-sama dibutuhkannya di Sekolah Kedokteran. Tahukah kamu kalau banyak proses biologi dalam tubuh kita yang melibatkan reaksi kimia? Kamu juga butuh konsep Fisika dalam menangani kasus pasien patah tulang, misalnya. Bahkan kamu musti bisa menghitung denyut nadi dengan tepat dan cepat.

Selain itu, kamu dituntut untuk dapat memahami kompleksnya sistem kerja tubuh manusia. Contoh sederhananya, telinga-hidung-tenggorokan – kenapa ketiga organ ini berada dalam satu bidang spesialisasi kedokteran? Karena ketiganya bekerja dalam satu sistem yang saling terkait satu sama lain. Saat seorang pasien mengeluhkan nyeri telinga, bisa jadi sumber masalahnya berasal dari hidung – terpikir nggak, olehmu?

 

Bahasa Inggris Akademik untuk Menopang Studimu

Kuliah kedokteran di Indonesia, dosennya berbahasa Indonesia, teman-temannya semua berbahasa Indonesia – bahkan ada yang berbahasa daerah, tapi kenapa kudu jago Bahasa Inggris? Karena kamu harus melahap buku-buku teks kedokteran yang tebel-tebel dan bejibun jumlahnya, belum lagi jurnal-jurnal riset internasional, yang sebagian besar berbahasa Inggris. Emang buku dan jurnal terjemahan dalam Bahasa Indonesia enggak ada?

Proses penerjemahan dan produksi buku medis memerlukan waktu tahunan. Disisi lain, perkembangan riset dunia kedokteran melaju pesat sekali. Buku teks atau jurnal yang kamu baca berulang kali gara-gara enggak paham-paham juga, barangkali telah disanggah oleh hasil riset terbaru di Eropa atau di Amerika Serikat. Kebayang bengongnya kamu kalau bertemu sama dokter-dokter dari negara maju?

 

Komitmen pada Perjalananmu Menjadi Seorang Dokter

Sekali lagi, memang dibutuhkan otak encer untuk jadi mahasiswa kedokteran, tapi itu tak cukup. Rajin belajar mandiri dan banyak membaca hanya sebagian dari syarat kelangsungan hidupmu di Sekolah Kedokteran. Sistem perkuliahan Sekolah Kedokteran cukup berat, tak cukup perkuliahan tatap muka tapi juga ada diskusi terarah, ujian praktikum, ujian klinis, skills lab, presentasi, dan lain-lain – ujian tulis pilihan ganda saja bisa sampai ratusan soal.

Untuk melewati beragam ujian tersebut, lagi-lagi dibutuhkan karakter yang tangguh dan tak mudah menyerah. Bagaimanapun juga, sebagai mahasiswa kedokteran, rutinitas berat yang kamu jalani itu akan berlangsung selama setidaknya empat tahun – sampai disinipun, kamu masih bergelar S.Ked dan belum bisa praktek dokter. Perjalananmu masih panjang!

 

Memiliki Karakter Pribadi yang Tak Sembarangan

Selain komitmen tinggi, calon dokter juga musti memiliki karakter peka dan peduli pada sesama. Bukankah nantinya kamu akan merawat pasien? Bagaimana bisa bekerja kalau sedari asalnya kamu tipe orang yang cuek-cuekan?

Menangani pasien juga membutuhkan keterampilan berkomunikasi yang baik. Sebagai dokter, kamu kan enggak bisa pilih-pilih pasien. Akan ada banyak orang dari latar belakang ekonomi dan pendidikan berbeda yang datang padamu dengan beragam masalah kesehatannya masing-masing. Bagaimana kamu bisa menyampaikan informasi tentang keadaan tiap pasien, penatalaksanaan atau treatment yang akan kamu ambil, hingga menjelaskan frekuensi konsumsi obat yang kamu resepkan?

Kamu juga musti cekatan sambil tetap sanggup bekerja dengan detail, seperti saat kamu harus bertugas di Instalasi Gawat Darurat, menakar dosis obat, menjahit bedah atau luka, dan lain sebagainya. Kalau kamu lemot, pasien lambat ditangani. Kalau ceroboh, kamu bisa dituntut malpraktek.

Dan yang jelas, kamu kudu punya perut yang kuat. Loh loh, maksudnya? Enggak gampang mules lihat darah atau potongan tubuh, dan masih tetep bisa makan tanpa kehilangan selera. Kira-kira, bisakah kamu melakukannya?

0
60

Entri Blog Lainnya

thumbnail
thumbnail
Menambah Komentar

ArtikelTerkaitV3

Artikel Terkait

download aku pintar sekarang

BannerPromoBlog