redesain-navbar Portlet

Blog

Cara Mengajar Berbasis Konten atau Kompetensi, Guru Pintar Pilih Mana?

Perbedaan Mengajar konten dan pembelajaran berbasis kompetensi

Foto oleh Christina Morillo dari Pexels

Akhir semester sudah di depan mata. Banyak terdengar keluhan dari beberapa guru, “aduh, materinya belum habis!” atau “capek, sibuk mengejar materi supaya habis sebelum Penilaian Akhir Semester (PAS) tiba.” Apalagi pada saat pembelajaran saat ini, meskipun beberapa sekolah sudah menerapkan pertemuan tatap muka terbatas (PTMT) lama waktu belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi. Nah, jika Guru Pintar merasa kebingungan menuntaskan materi sebelum ujian artinya tujuan pembelajaran hanya sebatas materi saja. 

Pada saat ini dalam dunia pendidikan banyak digaungkan implementasi pembelajaran berbasis kompetensi. Penasaran perbedaan pembelajaran berbasis konten dan pembelajaran kompetensi?

Pembelajaran berbasis konten adalah pembelajaran yang hanya berpusat pada konten pembelajaran atau materi pelajaran. Jadi dalam pembelajaran konten, Guru Pintar fokus untuk siswa dapat memiliki pengetahuan seputar tema atau materi yang diajarkan. Sedangkan pengajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang menekankan pada keterampilan/kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dari pengetahuan yang didapatkan. Kesimpulannya, dalam pembelajaran berbasis kompetensi, siswa tidak hanya sekedar tahu atau paham materi tetapi juga aksi nyata dan sikap apa yang dapat siswa lakukan dengan pengetahuan yang dimilikinya itu.

Dalam sebuah video obrolan yang bertajuk obrolan #GuruMerdekaBelajar menyatakan dalam suasana PJJ seperti sekarang cara mengajar berbasis konten dikatakan lebih mudah. Tinggal tinggal menjelaskan materi kemudian meminta siswa mengerjakan soal-soal untuk mengukur pengetahuan siswa. Sedangkan pengajaran berbasis kompetensi memiliki tantangan tersendiri yaitu bagaimana Guru Pintar tetap dapat membekali siswa dengan kemampuan atau keterampilan tidak hanya sekedar tahu materi saja.

Perbedaan antara mengajar berbasis konten dan berbasis kompetensi


Foto oleh nappy dari Pexels

Pembelajaran berbasis konten

1.  Pembelajaran berpusat pada materi pembelajaran.

2. Siswa belajar untuk cakupan materi tertentu.

3. Siswa dituntut untuk menjawab serangkaian pertanyaan tes berdasarkan topik.

4. Pembelajaran kurang terkait atau tidak terkait dengan konteks kehidupan nyata.

5. Pembelajaran berorientasi pada nilai akhir.

Pembelajaran berbasis konten adalah suatu proses belajar yang dilakukan oleh guru kepada siswa-siswanya supaya mahir dalam pelajaran yang bersifat konten atau mengutamakan kognitif siswa (kemampuan otak). Produk yang dihasilkan dari pembelajaran seperti ini adalah siswa-siswa mampu menjadi penghafal yang handal jika ditanyakan tentang pelajaran yang diterima.

Pembelajaran berbasis kompetensi

Mengajar berbasis kompetensi
Foto oleh Edmond Dantès dari Pexels

1. Pembelajaran berpusat pada kebutuhan.

2. Siswa belajar untuk memahami konsep pembelajaran dan juga keterampilan.

3. Siswa dituntut untuk menunjukkan kinerja dalam penerapan konsep yang telah dipelajari.

4. Pembelajaran sangat terkait dengan kehidupan nyata siswa.

5. Pembelajaran berorientasi pada proses dan penguasaan kompetensi.

Dalam sistem pembelajaran berbasis kompetensi ini, siswa akan melakukan pembelajaran sesuai dengan tahapan penguasaan kompetensinya hingga tuntas sebelum akhirnya mampu untuk melanjutkan pada tahap penguasaan kompetensi selanjutnya. Sebagai sebuah pembelajaran proses, pembelajaran berbasis kompetensi ini membutuhkan waktu sehingga sedikit demi sedikit siswa mampu menunjukan penguasaan pengetahuan, konsep dan keterampilan untuk memecahkan masalah. Termasuk juga siswa dapat menunjukan karakter yang ingin dicapai. Tidak hanya sekedar menguasai konten pembelajaran semata.

Kekuatan pembelajaran berbasis kompetensi adalah fleksibilitasnya. Siswa dapat bergerak dengan kecepatan belajar mereka sendiri. Hal ini mendukung siswa dengan latar belakang pengetahuan yang beragam, tingkat literasi yang berbeda dan bakat terkait lainnya.

Tidak ada salahnya meningkatkan kemampuan menghafal tentang konsep atau konten pembelajaran. Namun yang menjadi masalah adalah tidak terjadinya pendidikan yang menyeluruh/utuh/holistik. Dalam taksonomi Bloom, dapat dilihat bahwa dalam pembelajaran khususnya pada ranah kognitif terdapat tingkatan yaitu remembering (mengingat/menghafal), understanding (memahami/mengerti), applying (menerapkan), analyzing (menganalisa), evaluating (mengevaluasi), dan creating (membuat/menciptakan). Ke enam tahapan ini sangatlah penting untuk diketahui oleh seluruh pendidik/guru. Taksonomi Bloom menunjukkan bahwa kemampuan tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia adalah "menciptakan" atau membuat sesuatu, sedangkan hal yang paling rendah adalah mengingat/menghafal. Bertolak dari penjelasan tersebut maka dapat dikatakan, selama ini sebagian besar siswa di Indonesia hanya dididik untuk menggunakan kemampuan mereka yang paling rendah yaitu remembering (mengingat/menghafal). Ketika Guru Pintar mengajar untuk menghabiskan materi pelajaran saja, tingkatan ranah kognitif hanya sampai tahap remembering (mengingat/menghafal) saja. Sedangkan untuk kompetensi, siswa dituntut untuk mencapai tingkatan lebih dari hanya sekedar mengingat dan menghafal saja. 

Sebuah pendidikan idealnya akan memberikan dampak atau perubahan pada diri siswa. Jangan sampai siswa belajar tapi tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Dari ulasan di atas, mana yang ingin Guru Pintar lakukan di kelas, mengajar untuk menyelesaikan konten atau mengajar untuk membekali siswa dengan kompetensi? 

00

Entri Blog Lainnya

thumbnail
thumbnail
Menambah Komentar

CssBlog

metablog-web Portlet