APSiswaNavbarV2

redesain-navbar Portlet

BelajarPintarV3

Peta Belajar Bersama

Hallo Sobat Pintar, sebelum kita bahas lebih lanjut mengenai materi Ragam Gejala Sosial, mari kita simak peta belajar terlebih dahulu agar lebih mudah memahami materi. 

 


 

Gejala Sosial


Gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat dapat diartikan sebagai fenomena yang menandai munculnya permasalahan sosial di masyarakat. Fenomena sosial merupakan gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dapat diamati dalam kehidupan sosial. Munculnya fenomena sosial di masyarakat berawal dari adanya perubahan sosial. Perubahan sosial itu tidak dapat kita hindari, namun kita masih dapat mengantisipasinya. Perubahan sosial akan mengakibatkan beberapa dampak baik itu positif maupun negatif. Fenomena sosial yang ada dalam kehidupan sehari-hari dapat menimbulkan masalah sosial. Adapun beberapa contoh fenomena sosial seperti munculnya kesenjangan sosial, demam musik luar (boyband/girlband), pencemaran lingkungan, dan lain sebagainya. Gejala sosial juga diartikan sebagai suatu peristiwa yang sering terjadi pada lapisan masyarakat, baik masyarakat tradisional maupun masyarakat modern.

Faktor Penyebab Gejala Sosial
Adanya berbagai gejala sosial di masyarakat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
a. Faktor kultural
Kultural/budaya merupakan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat/komunitas. Ada beberapa contoh gejala sosial berdasarkan faktor kultural, antara lain kemiskinan, kerja bakti, perilaku menyimpang.
b. Faktor struktural
Struktural merupakan suatu keadaan yang mempengaruhi struktur, struktur yang dimaksud adalah sesuatu yang disusun oleh pola tertentu. Faktor struktural dapat dilihat dari pola-pola hubungan antar individu dan kelompok yang terjalin di lingkungan masyarakat. Contoh gejala sosial yang dipengaruhi oleh faktor struktural seperti penyuluhan sosial dan interaksi dengan orang lain.  

Ragam dan Contoh Gejala Sosial
a. Ekonomi
Ekonomi merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pendapatan. Tingkat pendapatan yang dimiliki individu dapat menimbulkan gejala sosial di masyarakat. Gejala sosial yang dilihat dari aspek ekonomi sangat berkaitan dengan perekonomian masyarakat. Bila ada seseorang yang kurang dapat mencukupi kebutuhan, maka akan terjadi beberapa gejala sosial di lingkungan sekitarnya. Dilihat dari segi ekonomi, gejala sosial yang terjadi di masyarakat dapat meliputi kemiskinan, pengangguran, dan masalah kependudukan lainnya.
b. Budaya
Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam sehingga kita harus saling menghormati budaya yang berbeda tersebut. Adanya perbedaan jangan dijadikan sebagai alat pemecah persatuan, melainkan kita harus bersyukur karena keanekaragaman tersebut dapat menambah kekhasan budaya Indonesia. Keanekaragaman budaya tidak hanya ada di Indonesia, tetapi setiap negara juga memiliki budaya dengan karakteristik yang berbeda-beda. Kita juga harus menghormati budaya asing. Keanekaragaman budaya di sekitar kita juga dapat menimbulkan gejala sosial, misalnya tindakan peniruan budaya asing yang negatif, kenakalan remaja dll.
c. Lingkungan alam
Karakteristik gejala sosial dalam bidang lingkungan alam menyangkut aspek kondisi kesehatan. Seseorang yang terkena penyakit dapat menimbulkan gejala sosial di lingkungannya sekitarnya. Contoh gejala yang ditimbulkan seperti munculnya penyakit menular, pencemaran lingkungan dll.
d. Psikologis
Perilaku seseorang/individu dalam kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh aspek psikologisnya. Bila seseorang mengalami gangguan kejiwaan dapat menimbulkan gejala sosial di masyarakat, misalnya disorganisasi jiwa, aliran ajaran sesat, dll.

Contoh-Contoh Gejala Sosial di Masyarakat
a. Kemiskinan
1) Kemiskinan absolut, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan minimum hidupnya. Dalam sosiologi,kemiskinan merupakan suatu gejala sosial yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Gejala sosial ini terjadi di berbagai negara di dunia termasuk Indonesia.
2) Kemiskinan relatif, yaitu seseorang atau sekelompok orang dapat memenuhi kebutuhan minimum hidupnya, namun dirinya masih merasa miskin bila dibandingkan dengan orang lain atau kelompok lain. Kemiskinan terjadi dikarenakan ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer. Namun dalam sosiologi, salah satu faktor penyebab munculnya masalah tersebut karena lembaga kemasyarakatan tidak berfungsi dengan baik, yaitu lembaga kemasyarakatan di bidang ekonomi. Permasalahan tersebut dapat menyebar ke bidang lainnya, seperti pendidikan dan sosial.
b. Masalah remaja
Masa remaja adalah masa pencarian jati diri sehingga banyak remaja yang meniru tingkah laku orang lain. Tindakan remaja meniru orang lain bila tidak terkontrol dapat menjadi suatu masalah sosial yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Masalah remaja ini ditandai oleh adanya keinginan untuk melawan ataupun sikap apatis. Pada masa ini seharusnya mereka mengenal nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dengan mempelajari nilai dan norma di masyarakat, diharapkan mereka dapat berperilaku sesuai dengan nilai dan norma masyarakat tersebut dan tidak melakukan perilaku atau perbuatan yang menyimpang. Faktanya perilaku menyimpang masih terjadi di kalangan remaja, seperti tawuran antarpelajar, membolos, mencontek, pelanggaran lalu lintas dan lain sebagainya.
c. Masalah kependudukan
Indonesia adalah negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Penduduk merupakan sumber penting bagi pembangunan. Hal ini dikarenakan penduduk menjadi subjek dan objek pembangunan. Dengan adanya pembangunan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk disuatu negara. Kependudukan juga dapat menimbulkan masalah, seperti kepadatan penduduk, pemerataan penduduk, ledakan penduduk dsb. Masalah-masalah diatas perlu adanya penanggulangan, karena dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan penduduk. Adapun beberapa cara untuk mengatasi permasalahan kependudukan diantaranya:
1) Melalui program keluarga berencana (KB) 2) Transmigrasi 3) Mengatur pertumbuhan jumlah penduduk
 

 

Keberagaman gejala sosial di dalam kehidupan masyarakat melahirkan konsep-konsep dasar sosiologi. Konsep dasar tersebut akan memberikan gambaran tentang gejala sosial, penyebab, dan cara untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Konsep-konsep dasar yang berkembang pada ilmu sosiologi, diantaranya sosialisasi, kelompok sosial, stratifikasi sosial, lembaga sosial, perubahan sosial, dan konflik sosial. (Wibowo, S:Academia.edu)

a. Sosialisasi adalah seluruh proses seorang individu sejak masa kanak-kanak sampai dengan dewasa, berkembang, berhubugan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-idividu yang hidup dalam masyarakat di sekitarnya.
b. Kelompok sosial adalah sekumpulan individu dengan karakteristik tertentu dan kesamaan identitas yang saling berinteraksi bersama serta memiliki kesadaran kolektif sebagai satu kesatuan.
c. Stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.
d. Lembaga sosial adalah sistem tata kelakuan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan khusus masyarakat.
e. Perubahan sosial adalah perubahan nilai-nilai, norma-norma, pola sikap serta perilaku yang terjadi pada lembaga sosial dan memengaruhi sistem sosial.
f. Konflik sosial adalah keadaan masyarakat yang ditandai pertentangan akibat hubungan yang tidak serasi antara tindakan, norma, dan nilai sosial dalam interaksi sosial
 

Dampak Gejala Sosial di Masyarakat

a. Dampak Positif
Gejala sosial yang ada di masyarakat harus kita sikapi dengan baik. Bila kita dapat terbuka dan mengimbangi perubahan sosial-budaya yang ada, maka perubahan tersebut akan berdampak positif dan memberikan manfaat. Hal ini dapat dilihat dengan kemajuan bidang teknologi. Dalam bidang teknologi kita mengenal teknologi komunikasi, seperti telepon, handphone, telegram, email, dsb. Dengan adanya alat komunikasi yang modern, maka kita dapat melakukan interaksi jarak jauh tanpa harus bertemu secara langsung.
b. Dampak Negatif
Seseorang yang tidak dapat menerima perubahan yang terjadi akan mengalami kegoncangan budaya (culture shock). Ketidaksanggupan seseorang dalam menghadapi gejala sosial akan membawa ke arah perilaku menyimpang.

Cara Mengatasi Dampak Gejala Sosial
Dampak yang ditimbulkan dari gejala sosial di masyarakat sangat beragam, mulai dari dampak positif maupun negatif. Adanya dampak negatif di masyarakat harus menjadi perhatian khusus bagi kita, karena dapat merugikan orang lain. Untuk itu perlu adanya pengendalian sosial. Pengendalian sosial merupakan suatu proses yang dilakukan oleh individu maupun kelompok, sehingga anggotanya dapat bertindak sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat. Dengan adanya pengendalian sosial, diharapkan masyarakat dapat memahami mengenai norma. Norma menjadi aturan-aturan yang bertujuan untuk mendorong individu atau kelompok dalam mencapai nilai-nilai sosial.

Pihak-pihak yang ikut berperan untuk mengatasi gejala sosial yang ada di lingkungan masyarakat, antara lain:
Keluarga
Sekolah
Masyarakat
Polisi
Media massa

 

Latihan 1

Jawablah pertanyaan ini!

Tomi merupakan siswa SMA yang telah kecanduan narkoba. Perbuatan Tomi yang berlawanan dengan norma dan nilai-nilai sosial termasuk dalam gejala sosial yang menjadi objek kajian sosiologi yaitu... 

A. kemiskinan

B. kebodohan

C. kenakalan remaja

D. kesenjangan sosial

E. disorganisasi keluarga

Latihan 2

Jawablah pertanyaan ini!

Menurut Durkheim, gejala sosial harus dipahami sebagai fakta objektif di luar kehidupan subjektif individu, artinya ….

A. gejala sosial merupakan suatu kondisi yang sebenarnya terjadi di masyarakat

B. gejala sosial merupakan suatu rekayasa yang dilakukan oleh individu

C. gejala sosial merupakan suatu kondisi yang dipengaruhi oleh pandangan pribadi

D. gejala sosial tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi karena dibentuk oleh suatu kelompok tertentu

E. gejala sosial di masyarakat tidak terjadi sesuai dengan fakta di masyarakat

Latihan 3

Jawablah pertanyaan ini!

Raina merupakan anak perempuan dari keluarga sederhana. Ia duduk di kelas 11 SMA. Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia membuat Raina harus mengalami berbagai kesulitan dalam bertahan hidup. Ayah dan Ibunya tidak memiliki pekerjaan. Raina pun memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah karena tidak memiliki biaya. Contoh permasalahan sosial dalam teks diatas adalah…….

A. Kenakalan remaja

B. Kejahatan

C. Tawuran pelajar

D. Kemiskinan

E. Pengangguran

Latihan 4

Jawablah pertanyaan ini!

Salah satu gejala sosial budaya dari masyarakat majemuk yang kurang menguntungkan adalah...

A. banyak struktur budaya dan seni

B. memiliki solidaritas yang tinggi

C. terjadi persaingan hidup dan pertikaian

D. sering terjadi perubahan progresif

E. mengalami proses perubahan yang lebih cepat

Pengertian Nilai

Nilai sosial adalah ukuran-ukuran, patokan-patokan, anggapan-anggapan, keyakinan-keyakinan, yang hidup dan berkembang dalam masyarakat serta dianut oleh banyak orang dalam lingkungan masyarakat mengenai apa yang benar, pantas, luhur, dan baik untuk dilakukan. Nilai-nilai sosial merupakan aktualisasi dari kehendak masyarakat mengenai segala sesuatu yang dianggap benar dan baik. Pada intinya, adanya nilai sosial dalam masyarakat bersumber pada tiga hal yaitu dari Tuhan, masyarakat, dan individu.

Berikut ini adalah definisi nilai menurut beberapa ahli:
a. Kimball Young: nilai sosial adalah asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang baik dan apa yang benar, dan apa yang dianggap penting dalam masyarakat
b. Robert M. Z. Lawang: nilai sosial adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, yang pantas, yang berharga, dan memengaruhi perilaku orang yang memiliki nilai itu.
c. A. W. Green: nilai sosial adalah kesadaran yang secara efektif berlangsung disertai emosi terhadap objek, ide, dan individu.
 

Ciri-ciri dan jenis Nilai Sosial

Ciri-ciri nilai sosial diantaranya :
a. Nilai merupakan sesuatu yang abstrak, yang ada dalam pikiran atau perasaan manusia.
b. Nilai tidak dibawa sejak lahir melainkan dipelajari manusia.
c. Nilai merupakan ciptaan masyarakat yang tercipta melalui interaksi warga masyarakat.
d. Nilai sosial dapat diteruskan atau dipindahkan diantara individu, satu kelompok ke kelompok lain maupun satu masyarakat ke masyarakat lain.
e. Sistem nilai dapat berbeda-beda antara satu individu dengan individu lain, antara satu masyarakat dengan masyarakat lain.
f. Tiap nilai dapat memberikan pengaruh berbeda terhadap individu maupun masyarakat secara keseluruhan.

Nilai sosial diklasifikasikan dalam berbagai macam antara lain:
a. Nilai Material
Nilai material adalah nilai yang berguna bagi jasmani manusia atau benda nyata yang dimanfaatkan bagi kebutuhan fisik manusia
b. Nilai Vital
Nilai vital adalah nilai yang berguna bagi untuk melakukan aktivitas atau kegiatan dalam dalam hidupnya.
c. Nilai Rohani
Nilai rohani adalah nilai yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan rohani (spiritual) manusia yang sifatnya universal. Nilai rohani dibedakan menjadi
beberapa macam antara lain sebagai berikut:
1) Nilai kebenaran dan nilai empiris, adalah nilai yang bersumber dari proses berpikir teratur yang menggunakan akal manusia (logika, rasio) dan diikuti dengan fakta-fakta yang telah terjadi.
2) Nilai keindahan, adalah nilai yang berhubungan dengan ekspresi perasaan atau isi jiwa seseorang mengenai keindahan. Nilai keindahan disebut juga dengan nilai estetika.
3) Nilai moral, adalah segala sesuatu mengenai perilaku terpuji dan tercela atau nilai sosial yang berkenaan dengan kebaikan dan keburukan. Nilai moral disebut juga dengan nilai etika.
4) Nilai religius, adalah nilai ketuhanan yang berisi keyakinan/kepercayaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Jenis-jenis Nilai Sosial Berdasarkan Ciri-cirinya
a. Nilai dominan
Nilai dominan adalah nilai yang dianggap lebih penting dibandingkan dengan nilai yang lainnya. Ukuran dominan atau tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut:
1) Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut. Contoh: sebagian besar masyarakat menghendaki perubahan ke arah perbaikan (reformasi) di segala bidang kehidupan, seperti bidang politik, hukum, ekonomi, dan sosial.
2) Berapa lama nilai tersebut dianut atau digunakan. Contoh: sejak dahulu hingga sekarang tradisi sekaten di Surakarta dan Yogyakarta dalam kerangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dilaksanakan di alun-alun keraton dan di samping masjid besar.
3) Tinggi rendahnya usaha orang untuk memberlakukan nilai tersebut. Contoh: menunaikan ibadah haji merupakan kewajiban bagi umat Islam. Oleh karena itu, umat Islam selalu berusaha untuk dapat melaksanakannya.
4) Prestise/kebanggan orang-orang yang menggunakan nilai di masyarakat. Contoh: memiliki mobil atau barang lain yang bermerek terkenal dapat memberikan kebanggaan/prestise tersendiri.
b. Nilai yang mendarah daging (internalized value)
Nilai yang mendarah daging adalah nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan sehingga ketika seseorang melakukannya kadang tidak melalui proses berpikir atau pertimbangan lagi, melainkan secara tidak sadar.
 

Fungsi dan Sumber Nilai Sosial

Fungsi Nilai Sosial
Secara umum nilai sosial memiliki beberapa macam fungsi antara lain:
a. Menyumbangkan seperangkat alat untuk menetapkan harga sosial dalam suatu kelompok.
b. Mengarahkan masyarakat untuk berfikir dan bertingkah laku.
c. Penentu dalam memenuhi suatu peran sosial manusia.
d. Alat solidaritas yang terdapat di kalangan anggota kelompok masyarakat.
e. Alat pengawas atau pengontrol perilaku manusia.

Sumber Nilai Sosial
Nilai sosial di dalam masyarakat bersumber dari tiga hal, yakni bersumber dari Tuhan, masyarakat, dan individu. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a. Nilai yang bersumber dari Tuhan
Sumber nilai ini dapat diketahui seseorang melalui ajaran agama yang tertulis di dalam kitab suci. Terdapat nilai yang dapat memberikan pedoman atau petunjuk dalam berperilaku atau bersikap dengan sesama di dalam ajaran agama. Contoh: Nilai kasih sayang, ketaatan atau kepatuhan, hidup sederhana, jujur, dan sebagainya. Nilai yang bersumber dari Tuhan ini dikenal dengan nilai theonom.
b. Nilai yang bersumber dari masyarakat 
Masyarakat bersepakat mengenai hal-hal yang dianggap benar dan luhur, kemudian dijadikan sebagai pedoman dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari. Contoh: Sopan dan santun kepada semua orang baik muda maupun tua. Nilai yang bersumber dari hasil kesepakatan banyak orang disebut dengan nilai heteronom.
c. Nilai yang bersumber dari individu
Pada hakikatnya memang setiap individu memiliki suatu hal yang baik, penting, dan luhur. Contohnya giat dalam bekerja. Seseorang menganggap bahwa kerja keras menjadi hal yang penting untuk meraih keberhasilan.
 

Pengertian dan Bentuk Norma Sosial

Pengertian Norma Sosial

Norma sosial dapat diartikan sebagai seperangkat aturan atau panduan hidup yang biasanya tak tertulis dan berlaku di masyarakat. Norma mempengaruhi tindakan dan kehidupan sosial secara luas. Tanpa norma, kehidupan masyarakat bisa kacau dan semrawut. Norma sosial adalah patokan perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Fungsinya adalah untuk memberi batasan berupa perintah atau larangan dalam berperilaku, memaksa individu untuk menyesuaikan diri dengan nilai yang berlaku di masyarakat dan menjaga solidaritas antaranggota masyarakat. Oleh karena fungsi-fungsi tersebut, maka sosialisasi norma memiliki peran yang penting dalam mewujudkan ketertiban sosial. Norma adalah petunjuk tertib hidup sosial untuk melangsungkan hubungan sosial dalam masyarakat yang berisi perintah, larangan, dan anjuran agar seseorang dapat bertingkah laku yang pantas guna menciptakan ketertiban, keteraturan, dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat. Perlu diketahui bahwa di masyarakat, banyak pekerjaan sehari-hari yang motif-motifnya merupakan keharusan alam yang tidak disadari seperti: makan, minum, tidur, buang air, istirahat, dan lain-lain. Pekerjaan sehari-hari tersebut termasuk cabang yang dipelajari ilmu biologi. Hal yang kita selidiki dalam sosiologi di sini bukanlah seperti pada biologi, tetapi bagaimana caranya atau waktunya makan menurut kebiasaan dan kelaziman pada suatu kelompok masyarakat tertentu. Seperti di masyarakat Jawa dan Tapanuli, apabila datang waktunya makan maka semua keluarga duduk menghadap makanan. Kepala keluarga ayah atau nenek, tetap duduk pada tempat tertentu dengan alat-alat spesial seperti piring, gelas tertentu, dan sebagainya. Sebelum kepala keluarga mempersilakan makan, semua anak-anaknya tidak boleh mendahuluinya.

Jenis Norma Berdasarkan Tingkat Daya Ikatnya
1) Norma Tidak Resmi (Nonformal)
Norma tidak resmi ialah patokan yang dirumuskan secara tidak jelas di masyarakat dan pelaksanaannya tidak diwajibkan bagi warga yang bersangkutan. Norma tersebut tumbuh dari kebiasaan bertindak yang seragam dan diterima oleh masyarakat. Meskipun tidak diwajibkan, tetapi semua anggota sadar, bahwa patokan tidak resmi itu harus ditaati dan mempunyai kekuatan memaksa yang lebih besar daripada patokan resmi. Patokan tidak resmi dijumpai dalam kelompok primer seperti keluarga, kumpulan tidak resmi, dan paguyuban.

2) Norma Resmi (Formal)
Norma resmi ialah patokan yang dirumuskan dan diwajibkan dengan jelas dan tegas oleh yang berwenang kepada semua warga masyarakat. Keseluruhan norma formal ini merupakan suatu tubuh hukum yang dimiliki masyarakat modern. Jalan untuk memperkenalkan kaidah formal/peraturan-peraturan yang telah dibuat harus disebarluaskan. Pembuatan peraturan tersebut tidak semata-mata didasarkan pada kebiasaan yang sudah ada, tetapi lebih sesuai dengan prinsip susila (etika) dan prinsip ”baik dan buruk”. Dari sumber moral itu dibuatlah perundang-undangan, keputusan, peraturan, dan sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan rasional yang masak mengenai tujuan yang hendak dicapai dan faktor-faktor yang dapat menghalangi keberhasilannya.

Norma - norma Utama

a. Usage
Merupakan suatu bentuk perbuatan atau cara melakukan sesuatu. Norma ini memiliki sanksi yang lemah. Artinya, jika melanggar tidak apa-apa, palingan hanya mendapatkan celaan dari masyarakat. Sebagai contoh, cara kita makan biasanya dengan mengeluarkan suara ting ting ting ketika pake sendok. Kebetulan masyarakat melihat cara makan seperti itu tidak elok dan terdengar berisik. Maka orang akan mencela cara kita makan seperti itu.
b. Folkways
Folkways merupakan norma yang berasal dari dan mengatur interaksi kasual dan muncul dari pengulangan dan rutinitas. Folkways disebut juga sebagai norma kebiasaan. Norma kelaziman, yaitu norma yang diikuti tanpa berpikir panjang, melainkan hanya didasarkan atas tradisi atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Folkways ini, lebih luas dari Custom. Custom, yaitu cara-cara bertindak yang telah diterima oleh masyarakat, misalnya: cara mengangkat topi, cara duduk, cara makan, cara-cara peminangan, dan lain-lainnya. Sebagai contoh, menghormati orang yang lebih tua dengan cara cium tangan ketika bertemu. Kalau kita bertemu orang yang lebih tua tetapi bersalaman saja tidak, kita akan dinilai sebagai orang yang tidak punya kebiasaan baik. Hukuman yang kita terima biasanya berupa teguran.
c. Mores
Dalam sosiologi disebut sebagai tata kelakuan atau kesusilaan. Tata kelakukan adalah kebiasaan masyarakat yang telah menjadi norma pengatur. Sebagai contoh, kita memanggil orang tua dengan sebutan ibu atau bapak, tidak langsung namanya. Ketika kita memanggil namanya saja, kita akan dianggap sebagai anak kurang waras. Masyarakat terutama orang tua kita akan melarang perbuatan seperti itu. Mereka menuntut kita untuk menyesuaikan dengan tata kelakukan yang berlaku.
d. Custom
Custom diidentikkan dengan adat-istiadat. Norma sosial ini memiliki ikatan paling kuat dibanding empat norma sebelumnya. Anggota masyarakat yang melanggar adat akan mendapat sanksi keras. Sebagai contoh, nembung (melamar) sebagai salah satu adat dari perkawinan di suatu desa. Ketika orang menikah tanpa nembung, masyarakat akan memandang aneh. Bisa juga perkawinan dianggap tidak sah karena tidak sesuai adat.
 

Norma Aspek-aspeknya

 a. Norma Agama
Merupakan norma yang berfungsi sebagai petunjuk dan pegangan hidup bagi umat manusia yang berasal dari Tuhan yang berisikan perintah dan larangan. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapatkan sanksi sesuai dengan ketentuan yang ada pada agama masing-masing.
b. Norma Hukum
Adalah suatu rangkaian aturan yang ditunjukkan kepada anggota masyarakat yang berisi ketentuan, perintah, kewajiban, dan larangan, agar dalam masyarakat tercipta suatu ketertiban dan keadilan yang biasanya dibuat oleh lembaga tertentu. Aturan ini lazimnya tertulis yang diklasifikasikan dalam berbagai bentuk kitab undang-undang atau tidak tertulis berupa keputusan hukum pengadilan adat. Karena sebagian besar norma hukum adalah tertulis maka sanksinya adalah yang paling tegas jika dibandingkan dengan norma lain dari mulai denda sampai hukuman fisik (penjara atau hukuman mati).
c. Norma Kesusilaan
Adalah peraturan sosial yang berasal dari hati nurani yang menghasilkan akhlak sehingga seseorang dapat membedakan apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Pada dasarnya norma ini merupakan norma untuk melaksanakan nilai moral yaitu dalam rangka menghargai harkat dan martabat orang lain.
d. Norma Kesopanan
Adalah petunjuk hidup yang mengatur bagaimana seseorang harus bertingkah laku dalam masyarakat. Sebagai contoh: meludah di depan orang, menyerobot antrean, membuang sampah sembarangan, dan lain-lain.
e. Norma Kebiasaan
Adalah sekumpulan peraturan yang dibuat bersama secara sadar atau tidak menjadi sebuah kebiasaan. Sebagai contoh: menengok teman yang sakit, melayat, menghadiri undangan pernikahan, dan lain-lain.
 

 

Latihan 1

Jawablah pertanyaan ini!

Sebagai anggota masyarakat, individu harus patuh kepada norma. Hal ini karena norma merupakan ….

A. pola perilaku masyarakat

B. tujuan perilaku masyarakat

C. penerapan perilaku masyarakat

D. patokan perilaku masyarakat

E. ukuran perilaku masyarakat

Latihan 2

Jawablah pertanyaan ini!

Perhatikan norma-norma berikut!
1) adat istiadat (custom)
2) cara (usage)
3) kebiasaan (folkways)
4) tata kelakuan (mores)
Urutan tingkatan norma tersebut berdasarkan norma yang memiliki daya ikat yang lemah hingga yang paling kuat adalah ….

A. 1), 3), 2), 4)

B. 3), 2), 4), 1)

C. 2), 4), 3), 1)

D. 4), 2), 1), 3)

E. 2), 3), 4), 1)

Latihan 3

Jawablah pertanyaan ini!

Seorang pria mencuri dan membobol sebuah toko emas di Bandung, ia pun dijatuhkan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku. Hukuman yang dijatuhkan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku merupakan sanksi norma ....

A. Peraturan

B. Adat

C. Sosial

D.

Hukum

E. Kelaziman

Jawablah pertanyaan ini!

Fungsi umum nilai sosial di masyarakat adalah ….

A. pedoman manusia untuk bertingkah laku

B. alat pengawas/kontrol perilaku manusia

C. alat ukur mengukur perilaku individu

D. alasan manusia untuk berinteraksi sosial

E. perbandingan perilaku individu di kelompoknya

Pengertian dan Jenis Sosialisasi


Pengertian Sosialisasi
Pengertian sosialisasi menurut beberapa ahli:
a. Soerjono Soekanto, sosialisasi sebagai proses sosial dimana individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai perilaku orang-orang di sekitarnya.
b. Peter L. Berger, sosialisasi sebagai proses individu menjadi anggota masyarakat yang partisipatif.
c. Horton dan Hunt, sosialisasi adalah proses seseorang menghayati norma norma kelompok dimana ia hidup sehingga timbul kepribadian yang unik.
d. Edward Shils, sosialisasi sebagai proses sosial seumur hidup seseorang yang dijalani sebagai anggota kelompok dan masyarakatnya melalui pembelajaran kebudayaan.

Sosialisasi merupakan proses penghayatan nilai dan norma sosial ke dalam individu dalam rangka penyesuaian diri sebagai anggota kelompok atau masyarakat. Proses penghayatan menunjukkan adanya internalisasi nilai dan norma dari luar masuk ke dalam diri. Nilai dan norma inilah yang pada akhirnya memengaruhi pembentukan kepribadian. Di sini, pengertian sosialisasi dan prosesnya melekat erat dengan pembentukan kepribadian.

Tujuan Sosialisasi
Tujuan sosialisasi adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di dalam suatu masyarakat sebagai keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melangsungkan kehidupan seseorang kelak di tengah-tengah masyarakat di mana individu tersebut sebagai anggota masyarakat.
b. Mengetahui lingkungan sosial budaya baik lingkungan sosial tempat individu bertempat tinggal termasuk juga di lingkungan sosial yang baru agar terbiasa dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang ada pada masyarakat.
c. Membantu pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
d. Menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien serta mengembangkan kemampuannya seperti membaca, menulis, berekreasi, dan lain-lain.
e. Membantu individu untuk mengetahui identitas dirinya baik secara fisik maupun mental.
f. Memberikan keterampilan yang dibutuhkan individu dalam kehidupannya di tengah masyarakat.
g. Menanamkan nilai dan kepercayaan pokok yang telah ada di masyarakat.
h. Mengembangkan kemampuan individu agar dapat berkomunikasi secara efektif.
i. Mengajarkan cara introspeksi diri yang tepat agar ia dapat mengembangkan fungsi organiknya.

3. Jenis-jenis Sosialisasi

Menurut Ihromi (2004), terdapat dua macam sosialisasi yaitu:
a. Sosialisasi Primer

Sosialisasi primer adalah sosialisasi yang pertama dijalani oleh individu semasa kecil, dimana ia menjadi anggota masyarakat, dalam tahap ini proses sosialisasi primer membentuk kepribadian anak ke dalam dunia umum dan keluarga yang berperan sebagai agen sosialisasi. Sosialisasi primer berlangsung saat anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga, secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya. Peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting, sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.
b. Sosialisasi Sekunder
Sosialisasi sekunder adalah proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasi ke dalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya. Proses sosialisasi pada tahap ini mengarah pada terwujudnya sikap profesionalisme (dunia yang lebih khusus) dan dalam hal ini yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan, peer group, lembaga pekerjaan, dan lingkungan yang lebih luas dari keluarga. Proses resosialisasi adalah pemberian suatu identitas diri yang baru kepada seseorang, sedangkan dalam proses desosialisasi seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama.
 

Proses dan Media Sosialisasi

Sosialisasi merupakan sebuah proses dimana manusia belajar berinteraksi dengan orang lain, bagaimana cara bertindak, berpikir, dan merasakan. Semua hal tersebut merupakan bagian penting untuk menghasilkan partisipasi sosial yang efektif dalam kelompok masyarakat.

Menurut Lindsley dan Beach proses sosialisasi dalam masyarakat adalah  berikut:
a. Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
b. Tahap Meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai.
c. Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Dalam tahap siap bertindak, peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan peran secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat, sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. kesadaran adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah.
d. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa, dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Individu dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya, dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadikan individu sebagai warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

Media Sosialisasi
Media atau agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada lima agen sosialisasi yang utama, yaitu:
a. Keluarga

Anak yang baru lahir, mengalami proses sosialisasi pertama kali adalah di dalam keluarga. Dari sinilah pertama kali anak mengenal lingkungan sosial dan budayanya. Anak mulai mengenal seluruh anggota keluarganya, yakni ayah, ibu, dan saudaranya sampai anak mengenal dirinya sendiri serta menaati norma-norma yang berlaku dalam keluarga. Dengan demikian, diharapkan akan terbentuk keluarga yang harmonis. Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialisasi manusia.
b. Kelompok Bermain (peer group)
Kelompok bermain merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam membentuk pola perilaku seseorang. Dalam kelompok bermain, seorang anak belajar berinteraksi dengan orang-orang sederajat atau sebaya.
c. Sekolah
Sekolah merupakan agen sosialisasi di dalam sistem pendidikan formal. Di sekolah seseorang mempelajari hal-hal baru yang belum dipelajarinya dalam keluarga ataupun kelompok bermain. Pendidikan formal di sekolah mempersiapkan anak didik agar dapat menguasai peranan-peranan baru yang dapat diterapkan apabila ia tidak lagi tergantung pada orang tua.
d. Lingkungan Kerja
Kelompok lingkungan kerja sangat beraneka ragam, misalnya kelompok pekerja pabrik, kelompok pegawai kantor, kelompok petani, dan kelompok pedagang. Setiap kelompok memiliki aturan-aturan sendiri. Seseorang yang melanggar aturan dapat dikenai sanksi. Melalui peraturan, seseorang mempelajari berbagai nilai dan norma yang harus dipatuhi untuk mencapai tujuan, misalnya meningkatkan disiplin diri dan meningkatkan kerja sama dengan teman. Dalam hubungan sosial di lingkungan kerja, setiap orang harus menjalankan peranan sesuai dengan kedudukannya.
e. Media Massa
Media massa juga merupakan agen sosialisasi yang cukup berpengaruh terhadap perilaku masyarakat. Kehadiran media massa mempengaruhi sikap dan tidakan anggota masyarakat. Nilai dan norma yang disampaikan dan disajikan oleh media massa akan tertanam dalam diri seseorang melalui penghilatan ataupun pendengaran. Informasi melalui media massa dapat bersifat positif atau negatif. Apabila informasi tersebut bersifat positif maka akan terbentuk kepribadian yang positif. Sebaliknya, jika informasi tersebut bersifat negatif maka akan terbentuk kepribadian yang negatif.
 

Peranan Sosialisasi dalam Pembentukan Kepribadian

Pengertian Kepribadian
1) Roucek dan Warren, Kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku seorang individu. 
2) Theodore R. Newcomb, Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
3) Yinger, Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.

Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Warisan Biologis
Semua manusia yang normal dan sehat mempunyai persamaan biologis tertentu, seperti mempunyai dua tangan, panca indera, kelenjar seksual dan otak yang rumit. Setiap warisan biologis seseorang juga bersifat unik, yang berarti bahwa tidak seorangpun (kecuali anak kembar) yang mempunyai karakteristik  fisik yang sama. Untuk beberapa ciri, warisan biologis lebih penting dari pada yang lainnya. Misalnya beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa IQ anak angkat lebih mirip dengan IQ orang tua kandungnya daripada dengan orang tua angkatnya; dan dalam keluarga tertentu anak kandung lebih mengikuti IQ orang tuanya daripada anak angkat.

2) Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepribadian. Bangsa Athabascans memiliki kepribadian yang dominan yang menyebabkan mereka dapat bertahan hidup dalam iklim yang lebih dingin daripada daerah Arctic. Orang pedalaman Australia harus berjuang dengan gigih untuk tetap hidup, padahal bangsa Samoa hanya memerlukan sedikit waktu setiap harinya untuk mendapatkan lebih banyak makanan daripada yang bisa mereka makan. Suku Ik (dibaca “eek”) dari Uganda sedang mengalami kelaparan secara perlahan, karena hilangnya tanah tempat perburuan tradisional dan mereka menjadi sekelompok orang yang paling tamak, paling rakus di dunia; sama sekali tidak memiliki keramahan tidak suka menolong atau tidak mempunyai rasa kasihan, malah merebut makanan dari mulut anak mereka dalam perjuangan mempertahankan hidup. Suku Quolla dari Peru digambarkan oleh Trotter (1973) sebagai sekelompok orang yang paling keras di dunia dan ia menghubungkan hal ini dengan hipoglikemia yang timbul karena kekurangan makanan.

3) Kebudayaan
Sejak saat kelahiran, seorang anak diperlakukan dalam cara-cara yang membentuk kepribadian. Setiap kebudayaan menyediakan seperangkat pengaruh umum, yang sangat berbeda dari masyarakat ke masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Linton: “dalam beberapa (masyarakat) bayi-bayi hanya disusui bila mereka menangis. Dalam masyarakat lain mereka diberi minum menurut jadwal yang teratur. Dalam beberapa masyarakat mereka dirawat oleh setiap wanita yang kebetulan siap, dalam masyarakat lain mereka dirawat hanya oleh ibunya sendiri. Dalam beberapa masyarakat, proses perawatan bayi merupakan kegiatan santai yang disertai oleh elusan-elusan dan kenikmatan indrawi yang penuh untuk ibu dan anak. Dalam masyarakat lain perawatan bayi bukan merupakan kegiatan yang memerlukan waktu khusus dan santai. Ibu memandang kegiatan ini sebagai interupsi kegiatan teraturnya dan mendesak anaknya untuk menyelesaikannya secepat mungkin”.

4) Pengalaman Kelompok
Sepanjang hidup seseorang tinggal dalam kelompok-kelompok tertentu, dan hal ini penting sebagai model untuk gagasan atau norma-norma perilaku seseorang. Kelompok semacam itu disebut kelompok referens (reference group). Mula-mula kelompok keluarga adalah kelompok yang terpenting, karena kelompok ini merupakan kelompok satu-satunya yang dimiliki bayi selama masa-masa yang paling peka. Kepribadian dasar dari individu dibentuk pada tahun-tahun pertama dalam lingkungan keluarga. Beberapa tahun kemudian kelompok sebaya (peer group) menjadi penting sebagai suatu kelompok referens. Kegagalan seorang anak untuk mendapatkan pengakuan sosial dalam kelompok sebaya sering diikuti oleh penolakan sosial dan kegagalan sosial seumur hidup. Banyak studi telah menunjukkan bahwa pada usia 15 tahunan kelompok sebaya telah menjadi kelompok referens yang sangat penting dan barangkali merupakan pengaruh yang paling penting terhadap sikap, tujuan serta norma perilaku.

5) Pengalaman Unik
Mengapa anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sama sedemikian berbeda satu dengan yang lainnya. Masalahnya adalah karena mereka tidak mendapatkan pengalaman yang sama; mereka pernah mendapatkan pengalaman yang serupa dalam beberapa hal dan berbeda dalam beberapa hal lainnya. Setiap anak memasuki suatu unit keluarga yang berbeda. Anak yang dilahirkan pertama, yang merupakan anak satu-satunya sampai kelahiran anak yang kedua, kemudian akan mempunyai adik laki-laki atau perempuan dengan siap ia dapat bertengkar. Orang tua berubah dan tidak memperlakukan sama semua anaknya. Anak-anak memasuki kelompok sebaya yang berbeda, mungkin mempunyai guru yang berbeda dan berhasil melampaui peristiwa yang berbeda pula. Sepasang anak kembar mempunyai warisan yang identik dan lebih cenderung memperoleh pengalaman yang  sama. Mereka berada dalam suatu keluarga bersama-sama, seringkali mempunyai kelompok sebaya yang sama dan diperlakukan kurang lebih sama oleh orang lain, akan tetapi bahkan anak kembar pun tidak mengalami bersama seluruh peristiwa dan pengalaman. Pengalaman setiap orang adalah unik dan tidak ada pengalam siapapun yang secara sempurna dapat menyamainya. Suatu inventarisasi dari pengalaman sehari-hariberbagai anak-anak dalam suatu keluarga yang sama akan mengungkapkan banyaknya perbedaan.
 

Internalisasi


 

Pengertian Internalisasi
Internalisasi adalah sebuah proses atau cara menanamkan nilai-nilai normatif yang menentukan tingkah laku yang diinginkan bagi suatu sistem yang mendidik menuju terbentuknya kepribadian yang berakhlak  mulia.

Proses Internalisasi Nilai
Ada tiga tahap yang mewakili proses terjadinya internalisasi, yaitu :
1) Tahap transformasi nilai

Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pendidik dalam menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap ini, hanya terjadi komunikasi verbal antara pendidik dan peserta didik.
2) Tahap transaksi nilai
Tahap transaksi nilai yaitu suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah atau interaksi antara peserta didik dan pendidik yang bersifat interaksi timbal-balik.
3) Tahap transinternalisasi 
Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Tahap ini bukan hanya dilalui dengan komunikasi verbal, tetapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan secara aktif.
 

Perilaku Menyimpang

Perilaku Menyimpang
Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat. Sedangkan pelaku yang melakukan penyimpangan itu disebut devian (deviant). Adapun perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat disebut konformitas.

Ada beberapa definisi perilaku menyimpang menurut beberapa tokoh sosiologi, antara lain:
a. James Vender Zender, perilaku menyimpang adalah perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang.
b. Bruce J Cohen, perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
c. Robert M.Z. Lawang, perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.

Ciri-ciri Perilaku Menyimpang
Menurut Paul B Horton penyimpangan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Penyimpangan harus dapat didefinisikan,
artinya penilaian menyimpang tidaknya suatu perilaku harus berdasar kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.
b. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak.
c. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak, artinya perbedaannya ditentukan oleh frekuensi dan kadar penyimpangan.
d. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal, artinya budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan.
e. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan. Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan secara terbuka.
f. Penyimpangan sosial bersifat adaptif, artinya perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.

Sifat-sifat Penyimpangan
a. Penyimpangan positif, merupakan penyimpangan yang terarah pada nilai-nilai sosial yang didambakan, meskipun cara yang dilakukan
menyimpang dari norma yang berlaku. Contoh seorang ibu yang menjadi tukang ojek untuk menambah penghasilan keluarga.
b. Penyimpangan negatif, merupakan tindakan yang dipandang rendah, melanggar nilai-nilai sosial, dicela dan pelakunya tidak dapat ditolerir masyarakat. Contoh pembunuhan, pemerkosaan, pencurian dan sebagainya.

Jenis-jenis Perilaku Menyimpang
Menurut Lemert (1951) Penyimpangan dibagi menjadi dua bentuk yaitu penyimpangan primer dan sekunder.
a. Penyimpangan primer,
penyimpangan yang dilakukan seseorang akan tetapi si pelaku masih dapat diterima masyarakat. Ciri penyimpangan ini bersifat temporer atau sementara, tidak dilakukan secara berulang-ulang dan masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Contohnya: pengemudi yang sesekali melanggar lalu lintas.
b. Penyimpangan sekunder, penyimpangan yang dilakukan secara terus menerus sehingga para pelakunya dikenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang. Misalnya orang yang mabuk terus menerus. Contoh seorang yang sering melakukan pencurian, penodongan, pemerkosaan dan sebagainya. 
Sedangkan menurut pelakunya, penyimpangan dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Penyimpangan individual,
penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang atau individu tertentu terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Contoh: seseorang yang sendirian melakukan pencurian.
b. Penyimpangan kelompok, penyimpangan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap norma-norma masyarakat. Contoh geng penjahat.

Teori penyimpangan sosial
a. Teori Differential Association.
Menurut pandangan teori ini, penyimpangan sosial bersumber pada pergaulan yang berbeda yang terjadi melalui proses alih budaya.
b. Teori Labeling.
Menurut teori ini seseorang menjadi menyimpang karena proses labeling, pemberian julukan, cap, etiket dan merek yang diberikan masyarakat sehingga menyebabkan seseorang melakukan penyimpangan sosial.
c. Teori Struktur Sosial(Robert K. Merton. )
Teori penyimpangan ini bersumber dari struktur sosial. Menurut Merton terjadinya perilaku menyimpang itu sebagai bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu.
d. Teori Fungsi (Emile Durkheim)
Bahwa kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak mungkin terjadi karena setiap orang berbeda satu sama lainnya tergantung faktor keturunan, lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Menurut Durkheim kejahatan itu perlu, agar moralitas dan hukum itu berkembang secara formal.
e. Teori konflik (Karl Marx) 
Kejahatan erat terkait dengan perkembangan kapitalisme. Menurut teori ini apa yang merupakan perilaku menyimpang hanya dalam pandangan kelas yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka.

Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang
a. Proses sosialisasi yang tidak sempurna
Karena ketidaksanggupan menyerap nilai dan norma yang berlaku di masyarakat ke dalam kepribadiannya, seorang individu tidak mampu membedakan perilaku yang pantas dan yang tidak pantas. Ini terjadi karena seseorang menjalani proses sosialisasi yang tidak sempurna dimana agen-agen sosialisasi tidak mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Contohnya seseorang yang berasal dari keluarga broken home dan kedua orang tuanya tidak dapat mendidik anak secara sempurna sehingga ia tidak mengetahui hak-hak dan kewajibanya sebagai anggota keluarga maupun sebagai anggota masyarakat. Perilaku yang terlihat dari anak tersebut misalnya tidak mengenal disiplin, sopan santun, ketaatan dan lain-lain.
b. Proses sosialisasi subkebudayaan menyimpang
Subkebudayaan menyimpang adalah suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma-norma budaya yang dominan. Unsur budaya menyimpang meliputi perilaku dan nilai-nilai yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok yang bertentangan dengan tata tertib masyarakat. Contoh kelompok menyimpang diantaranya kelompok penjudi, pemakai narkoba, geng penjahat, dan lain-lain.
c. Penyimpangan sebagai hasil proses belajar yang menyimpang
Proses belajar ini melalui interaksi sosial dengan orang lain, khususnya dengan orang-orang berperilaku menyimpang yang sudah berpengalaman. Penyimpangan inipun dapat belajar dari proses belajar seseorang melalui media baik buku, majalah, koran, televisi dan sebagainya.

Bentuk-bentuk Perilaku Menyimpang
a. Penyalahgunaan Narkoba
Merupakan bentuk penyelewengan terhadap nilai, norma sosial dan agama. Dampak negatif yang ditimbulkan akan menyebabkan berkurangnya produktivitas seseorang selama pemakaian bahan-bahan tersebut bahkan dapat menyebabkan kematian.
b. Penyimpangan seksual
Penyimpangan seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan. Penyebab penyimpangan seksual antara lain adalah pengaruh film-film porno, buku dan majalah porno.
c. Alkoholisme
Alkohol disebut juga racun protoplasmik yang mempunyai efek depresan pada sistem syaraf. Orang yang mengkonsumsinya akan kehilangan kemampuan mengendalikan diri, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Sehingga seringkali pemabuk melakukan keonaran, perkelahian, hingga pembunuhan.
d. Kenakalan Remaja
Gejala kenakalan remaja tampak dalam masa pubertas (14 – 18 tahun), karena pada masa ini jiwanya masih dalam keadaan labil sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan yang negatif.

Latihan 1

Jawablah pertanyaan ini!

Proses belajar seorang anggota masyarakat untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan yang berupa cara-cara bersikap, bertindak, dan berinteraksi dalam masyarakat disebut dengan ….

A. motivasi

B. akomodasi

C. sosialiasasi

D. internaslisasi

E. budi pekerti

Latihan 2

Jawablah pertanyaan ini!

Suatu perilaku dianggap menyimpang bila tidak bersesuaian dengan ....

A. nilai dan norma

B. situasi dan kondisi

C. tuntutan dan ketersediaan

D. keinginan dan kebutuhan

E. pengetahuan dan pemahaman

Latihan 3

Jawablah pertanyaan ini!

Sosialisasi primer memiliki fungsi, yaitu ....

A. membentuk manusia yang tahan menderita

B. membekali individu dengan berbagai keterampilan

C. meletakkan dasar kepribadian bagi individu

D. melatih individu untuk menghadapi tantangan

E. mendorong individu untuk selalu berusaha

Latihan 4

Jawablah pertanyaan ini!

Perhatikan hal-hal berikut.
1) Kebudayaan daerah
2) Lingkungan alam
3) Warisan biologis
4) Cara hidup
Unsur kebudayaan yang langsung memengaruhi kepribadian seorang individu pada umumnya adalah ....

A. 1 dan 2

B. 1 dan 3

C. 1 dan 4

D. 2 dan 3

E. 2 dan 4

redesain-navbar Portlet