redesain-navbar Portlet

null

Blog

Battle Pintar: IPA atau IPS? Aku Pilih yang Mana?

Memilih jurusan/kelas IPA dan IPS bukan perkara yang gampang bagi Sobat dan Ortu Pintar.

IPA atau IPS, photo by Pixabay on Pexels

Battle Pintar pada 21 Mei 2021 mendiskusikan pertanyaan yang cukup penting buat kita semua, khususnya Sobat Pintar yang saat ini duduk di kelas IX. Apa pertanyaan itu? Iya, betul sekali. Baiknya Sobat Pintar pilih mana saat masuk SMA, kelas IPA atau IPS?

Di Battle Pintar kali ini ada Cindy Stefania Teo Filos, Sobat Pintar kelas IX, dan Ibu Yanti Antariani Kasih, Ortu Pintar dengan dua anak yang telah melewati masa-masa penjurusan di SMA. Siapa psikolog yang hadir di Battle Pintar? Ada Kak Yusandi Rezki Fadhli, M.Psi., Psikolog, Konselor Psikologi Aku Pintar.

Membuka Battle Pintar, Kak Pebri Lutvianto H. menyinggung stereotipe kebanyakan orang bahwa IPA itu jurusan yang bergengsi karena menjadi pilihan anak-anak yang smart. Orang tua juga lebih suka anak masuk kelas IPA karena beranggapan bahwa masuk kuliahnya akan lebih mudah.

Benarkah begitu? Nah, mari simak apa kata Sobat Pintar, Ortu Pintar, dan Psikolog.

 

Apa Kata Sobat Pintar?

Cindy dengan percaya diri mengatakan bahwa ia ingin masuk kelas IPS sejak kelas VII. Ia berpendapat bahwa tak ada keharusan bagi seseorang untuk masuk kelas IPA atau IPS. Lagipula, orang tua memberinya kebebasan untuk memilih.

Cindy bercerita bahwa ia pernah mempertimbangkan untuk masuk Jurusan Akuntansi di SMK. Orang tua pun mengarahkan untuk memilih Akuntansi karena prospek kerjanya yang bagus. Namun kemudian ia merasa bahwa dirinya kurang berbakat di bidang hitungan sehingga urung niatnya untuk masuk Jurusan Akuntansi.

Menyadari kelemahan dan kekuatan dirinya, Cindy berubah pilihan. Ia ingin kuliah Hukum. Maka Cindy memutuskan, didukung oleh orang tuanya, untuk masuk SMA di kelas IPS.

Bagaimana dengan mereka yang ingin masuk IPA? Bagi Cindy, setiap orang berhak menentukan masa depannya masing-masing. Mungkin saja mereka masuk kelas IPA karena kemauannya sendiri. Namun Cindy menegaskan pentingnya konsisten dengan pilihan yang diambil. "Jangan lintas jalur saat masuk kuliah," ujarnya.

Itulah sebabnya, Cindy berpendapat pentingnya Sobat Pintar memikirkan masak-masak pilihan jurusan di SMA. "Jangan dibawa santai karena masuk jurusan SMA itu seperti mengembangkan bakat masing-masing," kata Cindy.

Sebagai pelajar, Cindy mengingatkan pentingnya menemukan jati diri dan mengetahui minat bakat masing-masing. Menurut Cindy, keduanya sama-sama penting dalam memilih jurusan sekolah agar tak sampai menyesal gara-gara salah pilih jurusan.

Cindy pun berbagi tips agar Sobat Pintar bertanya kepada orang tua, teman, maupun orang-orang lain di sekitar tentang bakat yang dimiliki. Cindy sendiri terus mengembangkan minat dan bakatnya dengan mengikuti berbagai event secara online, seperti public speaking maupun debat. Dengan begitu, bakat minatnya takkan pupus meskipun ia di rumah.

 

Apa Kata Ortu Pintar?

Ibu Yanti berbagi pengalaman ketika mendampingi dua anak beliau memilih jurusan sekolah. Ibu Yanti sendiri dulunya memang menyukai Matematika, Fisika, Kimia sejak SMP. Materi-materi non-hafalan lebih beliau sukai karena dengan latihan maka rumus-rumusnya akan hafal dengan sendirinya. Bagi Ibu Yanti, terlalu banyak ketidakpastian dalam ilmu-ilmu Sosial.

Ibu Yanti sendiri tidak memaksakan anak harus memilih kelas IPA atau IPS. Akan tetapi, beliau menjelaskan, "Kebanyakan anak masuk SMA belum tahu mau ke arah mana kuliahnya." Jika demikian, beliau berpendapat bahwa sebaiknya anak masuk kelas IPA karena pilihan jurusan kuliahnya nanti lebih banyak. "Ada waktu tiga tahun berpikir mau kuliah di mana," lanjut Ibu Yanti. Anak IPA bisa memilih kuliah Kedokteran, bisa juga memilih kuliah Ekonomi. Sebaliknya, anak IPS tak bisa menjadi dokter atau engineer.

Namun, Ibu Yanti mengingatkan agar Ortu Pintar tidak memaksakan anak masuk kelas IPA kalau kemampuan hitungannya kurang baik. Beliau berpendapat bahwa kelas IPS lebih banyak hafalan, seperti pada mata pelajaran Sosiologi ataupun Geografi. Memaksakan anak masuk kelas IPA (jika kemampuan hafalannya lebih baik) hanya akan membuat anak stres.

Bagi anak yang sudah tahu jurusan kuliah yang diinginkan sejak dari kelas IX, tak apa masuk kelas IPS "Daripada ngabisin waktu maksain diri masuk IPA," lanjut Ibu Yanti. Ibu Yanti sendiri dulu sudah punya pilihan jurusan kuliah sejak SMP, yaitu Farmasi, Teknik Elektro, dan Teknik Industri.

Karena latar belakang IPA tersebut, Ibu Yanti dapat membiasakan anak-anak beliau belajar Matematika dan pelajaran-pelajaran IPA yang lain sejak kecil. Meskipun tak memaksakan, kebiasaan sejak kecil tersebut mendekatkan anak-anak Ibu Yanti dengan ilmu-ilmu Alam. Ibu Yanti berpendapat bahwa "Kalau pintar di situ, orang cenderung lebih menghargai."

Ibu Yanti pun memperhatikan potensi tiap anak. Beliau menyadari bahwa si sulung lebih tertarik dengan ilmu-ilmu eksak sejak kecil, tampak dari kebiasaannya mengamati hewan sampai membuat koloni baru. Karakter anak tersebut pun tidak mudah stres dan sanggup mengatasi tekanan. Sementara itu, si bungsu lebih tertarik dengan seni.

Maka, Ibu Yanti memilih sekolah yang sesuai dengan pontensi setiap anak. Beliau mengajak mereka berdiskusi dan mencari sekolah terbaik untuk mengembangkan potensinya masing-masing.

Ibu Yanti mengingatkan agar Ortu Pintar mampu melihat potensi anak. Seorang anak dikatakan kuat masuk IPA jika ia bisa mengikuti pelajaran tanpa les. Bagaimana jika memaksakan anak masuk kelas IPA? "Jangan paksa anak (masuk) IPA kalau eksaknya ngga kuat dan dihajar les. Kasihan masa mudanya," kata Ibu Yanti. Beliau melanjutkan, "Jangan sok-sokan biar dibilang pinter tapi susah payah les dari pagi sampai malam."

Sebaliknya, jika kemampuan eksak anak bagus dan belum menemukan pilihan jurusan kuliah, masuk kelas IPA di SMA dapat memberi waktu berpikir yang cukup.

 

Apa Kata Psikolog?

Dari sisi Psikologi, Kak Sandi menjelaskan bahwa tak ada keharusan untuk masuk kelas IPA di SMA. Keharusan cenderung identik dengan superioritas, sedangkan pilihan IPA atau IPS tidak ada yang lebih superior maupun inferior.

"Tiap ilmu pengetahuan punya landasan berpikirnya masing-masing dan bisa saling terintegrasi," lanjut Kak Sandi. Setelah menyinggung tentang tingkatan belajar dalam Taksonomi Bloom, Kak Sandi menegaskan bahwa IPA dan IPS bukan sekedar hitungan dan hafalan. Matematika, sebagai ilmu abstrak yang bisa berdiri sendiri, menopang baik bidang IPA maupun IPS. Bahkan, perhitungan Matematika digunakan di bidang IPS, seperti pada Geografi maupun Akuntansi. Belajar Matematika dibutuhkan untuk menguatkan penalaran sebab akibat.

Maka, tak perlu mengedepankan gengsi atau memedulikan stereotipe. Yang lebih penting adalah proses diskusi antara orang tua dan anak serta pemahaman orang tua atas bakat minat anak. Kak Sandi mengingatkan pentingnya orang tua memantau anak sedari kecil sampai masuk remaja sehingga orang tua lebih tahu tentang bakat minat anak daripada orang lain (guru).

Lantas apa yang harus dipertimbangkan sebelum memilih jurusan? Sobat Pintar Pintar perlu mengenal diri sendiri sebelum masuk SMA. Ketahui apa bakat dan minat saat masih di SMP sehingga bisa mengeksplor bakat minat tersebut saat di SMA. Kak Sandi mengingatkan bahwa orang lain pun punya bakat yang sama dengan bakat yang kita miliki. Latihan lah yang membedakan bakat kita dengan orang lain.

Itulah sebabnya, penting agar Sobat Pintar dapat menentukan goals, seperti ingin bekerja atau menjalani profesi apa. Menentukan jurusan banyalah bagian awal dari perencanaan cita-cita atau goals tersebut. "Ngga boleh milih jurusan karena gengsi, mitos (IPA begini, IPS begitu). Semua punya kelebihan," tegas Kak Sandi.

Di satu sisi, Sobat Pintar harus memutuskan tempat (IPA atau IPS) yang sesuai bakat minatnya. Namun jangan lupa, diskusi dengan orang tua juga penting. Di sisi lain, Ortu Pintar sebaiknya tidak melepas pilihan pada anak begitu saja. Orang tua berfungsi sebagai fasilitator dan supervisi anak, dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih baik. "Kuliah di mana dan prospek kerja juga harus dipertimbangkan. Anak-anak harus tahu profil IPA dan IPS seperti apa sebelum menentukan pilihan," pesan Kak Sandi.

 

Q&A

Ada tiga pertanyaan dari Sobat Pintar yang mengikuti Battle Pintar di IG Live @akupintar.id. Pertanyaan pertama dari Sobat Pintar yang berada di jurusan IPA, tapi memiliki minat pada pelajaran IPS. Dalam hal ini, Kak Sandi menyarankan agar Sobat mengeksplor lagi. Apakah sebenarnya sudah di tempat yang tepat, tapi belum mengenali diri? Coba ikuti pelatihan, webinar, atau kegiatan-kegiatan lain.

Pertanyaan kedua tentang pengaruh IQ dan EQ dalam memilih jurusan. Kak Sandi menjawab bahwa pemilihan jurusan lebih didasarkan pada kemampuan. Akan tetapi, seseorang dengan IQ superior mungkin dapat melangkah lebih laju daripada teman-temannya dengan IQ rata-rata. Sedangkan EQ, menurut Kak Sandi, penting dalam pemilihan jurusan karena terkait dengan karakter.

Pertanyaan ketiga dari Sobat Pintar mengusik tentang pelajaran IPS yang dirasa lebih mudah daripada pelajaran IPA. Kak Sandi menegaskan bahwa hal tersebut merupakan pandangan awam saja. Atau mungkin Sobat yang berkata seperti itu memiliki potensi di bidang IPS. "Kalau belajar sesuai dengan bakat minat, akan terasa lebih mudah. Bertemu hambatan pun akan lebih mudah mengatasi," lebih lanjut Kak Sandi menjelaskan. Beliau pun berpesan agar Sobat tak menggampangkan jurusan (IPS).

Menutup Battle Pintar, Ibu Yanti berpesan kepada Sobat Pintar yang sudah duduk di kelas IPA tapi merasa tidak sesuai atau tidak mampu, "Coba ngomong ke guru untuk pindah IPS." Beberapa sekolah ada yang mengizinkan siswanya pindah kelas. Ibu Yanti mengingatkan bahwa dua tahun di kelas XI dan XII akan lebih berat. "Bilang ke orang tua atau guru, minta boleh ngga pindah ke IPS. Ngga perlu malu. IPA dan IPS, masing-masing ada yang sukses," tutup Ibu Yanti.

Cindy pun berpesan kepada Sobat Pintar, "Untuk yang bingung milih jurusan, aku harap kalian cepat menemukan jati diri masing-masing dan dapat milih jurusan secepat mungkin. Semangat!"

Ingin menyaksikan Battle Pintar, IPA atau IPS? Aku Pilih yang Mana? Jangan lewatkan penayangannya di IG TV Aku Pintar.

60

Entri Blog Lainnya

thumbnail
thumbnail
1 Comment
apakah video ini bisa siaran ulang di IGTV?
00

CssBlog

metablog-web Portlet