Intelegensi – Cerdas yang Bagaimana?
APSiswaNavbarV2
Tesssss Tesssss
CssBlog
redesain-navbar Portlet
metablog-web Portlet
Blog
Intelegensi Cerdas yang Bagaimana, photo via www.thoughtco.com
Sobat Pintar tak asing lagi dengan tokoh Charles Darwin, bukan? Iya, Darwin dikenal dengan Teori Evolusinya. Namun ternyata, Darwin juga memperkenalkan Teori Inteligensi. Nah, tentang hal ini Sobat sudah tahu apa belum? Well, let's read on and find out more.
Intelegensi, Bagaimana Kita Memahaminya?
Apa sebenarnya intelegensi? Menurut KBBI, intelegensi merupakan daya reaksi atau penyesuaian yang cepat dan tepat, baik secara fisik maupun mental, terhadap pengalaman baru, membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta atau kondisi baru.
Menurut Darwin, intelegensi juga terkait dengan insting dan respons cepat – yang dapat ditimbulkan dari latihan atau kejadian berulang. Contoh sederhananya, sering tertangkap basah makan di kantin sekolah, maka lama-kelamaan Sobat seakan dapat mengetahui ketika guru Tatib masih di ujung lorong menuju kantin.
Intelegensi, Bagaimana Kaitannya dengan IQ?
IQ merupakan akronim dari Intelligence Quotient – Sobat Pintar juga tak asing dengan istilah ini, bukan? Nah, IQ merupakan istilah yang lebih spesifik dibanding pengertian intelegensi secara umum. Kepribadian seseorang dapat dinilai dari intelegensinya, sedangkan prestasi akademik hanya dapat ditentukan oleh IQ-nya.
Kecakapan khusus seseorang pada bidang tertentu juga dapat dinilai dari intelegensinya. Adakah temanmu yang dapat mendendangkan sebuah lagu dengan tepat setelah mendengarnya sekali saja? Barangkali kita hanya menilainya suka menyanyi, padahal sebenarnya ia memiliki intelegensi musikal yang lebih baik dibanding orang-orang lain disekitarnya.
Perbedaan intelegensi dan IQ adalah pada pengukurannya. IQ seseorang dapat diukur melalui tes yang hasilnya dapat diwujudkan dalam bentuk angka, namun tidak demikian halnya dengan intelegensi. Setidaknya, sejauh ini masih sulit mengukur intelegensi dengan hasil yang akurat.
Intelegensi, Dimana Kekuatan dan Spesialisasimu?
Salah satu sebab sulitnya mengukur intelegensi adalah karena banyaknya ragam intelegensi pada tiap individu. Howard Gardner memperkenalkan sebuah teori tentang tipe-tipe intelegensi manusia, yang kita kenal sebagai multiple intelligence atau kecerdasan (intelegensi) majemuk.
Pada awalnya, Gardner menyebutkan delapan macam intelegensi majemuk, yaitu verbal-linguistik, logika-matematika, visual-spasial, musikal, naturalistik, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal. Kemudian, pada tahun 2009 Gardner menambahkan dua macam intelegensi lagi, yaitu eksistensial dan moral.
Wah, banyak juga ya, Sobat? Itulah sebabnya, mengukur intelegensi seseorang tak dapat dilakukan semudah mengukur IQ-nya. Namun menurut sebuah penelitian pada tahun 2006, masing-masing tipe intelegensi Gardner tersebut dipengaruhi oleh kecerdasan umum (general intelligence) – istilah yang juga mengacu pada IQ atau kemampuan kognitif.
Edutopia menyebutkan bahwa setiap orang memiliki kedelapan macam intelegensi Gardner (intelegensi/ kecerdasan majemuk) tersebut. Akan tetapi, masing-masing orang memiliki kadar bakatnya yang berbeda dari orang lain – seperti pada pada contoh teman dengan intelegensi musikal diatas.
So, what intelligence that you think the strongest in you? Is it musical-rhytmic, visual-spatial, verbal-linguistic, logical-mathematical, bodily-kinesthetic, interpersonal, naturalistic, existential, or moral?
Intelegensi, Bagaimana Kita Menyikapinya?
Alih-alih untuk mengelompokkan setiap orang kedalam tipe-tipe intelegensi, teori intelegensi Gardner sebenarnya justru memberi keleluasaan kita dalam belajar. Artinya, wajar saja bila Sobat Pintar punya nilai Matematika lebih tinggi dibanding Bahasa Inggris, atau sebaliknya. You don't have to score perfect at all subjects – and it's okay!
Menurut Gardner, intelegensi atau kecerdasan merupakan proses biologi dan psikologi yang kita alami dalam mencerna suatu informasi. Nantinya, informasi tersebut berguna untuk memecahkan masalah atau menciptakan produk yang bermanfaat.
In other words, it takes both intelligence during the information processing and creativity for executing for us to succeed. Therefore, we can't stop at and be satisfied by our IQ score only. Instead, how we use our intelligence matters as well.
ArtikelTerkaitV3
Dari Bangku Kuliah ke Ruang Operasi: Begini Perjalanan Seru
Halo, Sobat Pintar! Punya mimpi jadi dokter? Atau sekadar penasaran dengan perjalanan panjang yang harus dilalui sebelum bisa memakai jas putih dan stetoskop? Yuk, simak cerita seru tentang perjalanan pendidikan dan karier menjadi dokter, mulai dari kulia...
Baca Selengkapnya
4 Bulan Menuju SNBT-UTBK 2026: Strategi Belajar Kilat yang B
Hai, Sobat Pintar! Ujian SNBT-UTBK 2026 sudah di depan mata, dan kamu hanya punya waktu sekitar 4 bulan untuk mempersiapkannya. Jangan panik! Dengan strategi yang tepat, waktu 4 bulan ini bisa kamu manfaatkan sebaik mungkin untuk meraih nilai tinggi. Yuk,...
Resolusi 2026: Rahasia Sukses Siswa Pintar untuk Gapai Targe
Hai, Sobat Pintar! Sudah punya rencana buat tahun 2026? Jangan cuma jadi penonton, yuk jadi pemain utama di hidupmu dengan menyusun resolusi yang smart! Buat kamu yang masih duduk di bangku sekolah, ini saatnya mempersiapkan diri untuk kuliah dan karir im...
Hai Sobat Pintar,
Yuk Cobain Aplikasi Aku Pintar Sekarang Juga!
Jutaan siswa sudah menemukan minat, bakat dan kampus impian bersama Aku Pintar. Sekarang giliran kamu Sobat!
BannerPromoBlog