PinpointBlog

website-baru-feed-banner Portlet

Informasi Terkini Seputar Dunia Pendidikan

Informasi terbaru

website-baru-navbar Portlet

Blog

photo via english.swps.pl

IPA atau IPS? Lihat 4 Perbandingan Ini

IPA IPS

Tahukah kamu apa yang paling nyebelin tentang stereotipe anak IPA (MIA) sama IPS (IIS)? Yak, mereka bilang anak IPA lebih pinter dari anak IPS. Ya iyalah, anak IPA bisa kuliah di Kedokteran – salah satu jurusan yang tertutup untuk anak IPS. Trus apa kabar kamu-kamu yang ada dikelas IPS? Jangan berkecil hati kalau kamu masuk kelas IPS, dan jangan dulu berbangga hati kalau kamu berada dikelas IPA. Tahukah kenapa? Berikut ini alasan-alasannya.

 

1. IQ versus EQ

Mereka yang bilang anak IPA lebih pintar dibanding anak IPS biasanya berpatokan pada IQ (Intelligence Quotient) saja. Selama ini memang nilai IQ terukur melalui tes, jadi mudah saja bikin kategori siapa lebih pintar dari siapa sesuai dengan besaran nilainya. Tapi ada juga metode pengukuran yang lain, yaitu EQ (Emotional Quotient). Walaupun tes EQ masih belum sepopuler tes IQ, seseorang dengan EQ yang baik biasanya dapat mengendalikan dirinya sendiri serta memiliki empati dan keterampilan sosial – yang biasa tampak pada anak IPS.

 

2. Otak Kiri versus Otak Kanan

Ada teori tentang pemisahan fungsi sisi otak sebelah kiri dan kanan. Orang dengan belahan otak kiri yang lebih aktif cenderung berpikir dalam logika yang runtut – teknik yang banyak digunakan dikelas IPA. Sementara itu, orang dengan belahan otak kanan yang lebih aktif biasanya memiliki ide-ide kreatif, lebih intuitif, sehingga sering dikatakan logika berpikirnya melompat-lompat.

Kenyataannya, metode pembelajaran di dunia secara umum lebih sesuai untuk orang-orang dengan sisi otak kiri yang dominan – lebih terorganisir, lebih sistematis. Makanya, anak IPA dianggap lebih pintar karena lebih mudah menyesuaikan dengan sistematika pembelajaran konvensional. Disisi lain, anak IPS dianggap lebih bermasalah karena kreativitasnya yang kurang terwadahi oleh cara belajar di dalam kelas.

 

3. Hitungan versus Hafalan

Anak IPA dianggap lebih pintar karena lebih pintar menghitung daripada anak IPS yang cuma menghafal. Oh, ya? Sejak kapan hitung-menghitung jadi tolok ukur kecerdasan? Sejak dulu. Yup! Karena itulah, ada yang perlu diluruskan disini.

Masing-masing rumpun ilmu pengetahuan alam dan sosial punya porsi hitungan dan hafalannya sendiri-sendiri. Biologi, contohnya, adalah salah satu matapelajaran IPA yang membutuhkan keterampilanmu dalan menghafal. Sebaliknya, Akuntansi memerlukan ketelitian hitungan tingkat tinggi – apa nggak pusing tuh, udah bikin deret angka di lembar pembukuan yang gede, tapi nggak balance?

Ada alasannya kenapa dalam Bahasa Inggris, IPA disebut Natural Science dan IPS disebut Social Science. Yak, karena keduanya adalah science atau ilmu konkrit – dua-duanya ilmu pengetahuan! Tahukah kamu apa yang terkategorikan sebagai ilmu abstrak? Matematika. Banyak konsep dasar Matematika yang diterapkan pada perkembangan cabang-cabang ilmu lain – tak hanya Fisika dan Kimia, tapi juga Ekonomi dan Akuntansi. Bahkan, kamu nggak akan bisa jadi pakar Ekonomi dunia tanpa menguasai Matematika. Karena itulah Matematika dipelajari baik dikelas IPA maupun IPS – masih yakin anak IPA lebih pinter daripada anak IPS?

 

4. Pengetahuan, Pemahaman, dan Pemikiran Kritis

Mengacu pada Bloom's Taxonomy, sebuah teori pendidikan yang cukup populer, kemampuan kognitif manusia terbagi kedalam tiga tingkat. Pertama, pengetahuan – saat kamu mengetahui fakta, teori, prinsip, atau metode tertentu. Misalnya, kamu mengetahui tentang prinsip gravitasi atau hukum permintaan dan penawaran. Kedua, pemahaman – ketika kamu dapat memahami, membandingkan, dan membuat interpretasi tentang suatu konsep, bahkan membuat kesimpulan sendiri. Misalnya, kamu dapat membandingkan gravitasi bumi dan bulan atau membandingkan antara sistem ekonomi kapitalis dan sosialis.

Kamu dianggap memiliki kemampuan kognitif baik bila mencapai level ketiga, yaitu dapat berpikir kritis. Misalnya, pada sistem ekonomi, kamu dapat menganalisa penyebab suatu negara mengadopsi sistem ekonomi kapitalis atau sosialis dan bagaimana dampaknya. Kemudian, kamu bisa menilai apakah sistem ekonomi tersebut berjalan baik bila mengacu pada tingkat ekonomi kehidupan warganya. Dan terakhir, kamu bahkan bisa menawarkan solusi bila ternyata sistem tersebut gagal, atau menambahkan gagasan untuk meningkatkan efektivitasnya.

Nah, proses belajarmu dikatakan berhasil saat kamu sudah sampai pada tahap ujung berpikir kritis seperti pada contoh diatas. Kompleks gak, tuh? Masih yakin, masuk kelas IPA berarti lebih pintar dari IPS? Yup, memang nggak sesederhana itu.

Asal kamu tahu nih, ya. Tak jarang anak IPS dikemudian hari menjadi bos atau pimpinan karena kemahirannya dalam berkomunikasi dan kreativitasnya. Sementara itu, banyak pula anak IPA yang berakhir mengejar karir sebagai karyawan atau pegawai karena lebih terlatih untuk menyelesaikan pekerjaan secara sistematis.

Lebih masukan Blog

Jangan Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu (Kuliah Pulang) Karena 5 Alasan Ini

Menjadi mahasiswa mungkin adalah impianmu selama ini. Bayangin aja, kamu bisa pergi kuliah...

Kenali 3 Organisasi Utama Mahasiswa di Kampus

Saat sekolah, kamu aktif di OSIS? Bagaimana dengan Pramuka? Barangkali kegiatan...

metablog-web Portlet

popular-post-web Portlet

Terpopuler

Terbaru