APSiswaNavbarV2

CssBlog

redesain-navbar Portlet

metablog-web Portlet

CssBlog

Blog

Pertemanan Toxic: Manual Survival di Sekolah

Dampak dari toxic friendship bisa sangat destruktif.

Photo by Beth Jnr on Unsplash

Pertemanan toxic itu benar-benar ada. Sayangnya, terkadang kita enggak sadar sedang berada dalam circle pertemanan toxic. Banyak juga yang bahkan tak menyadari betapa dampak dari toxic friendship itu sudah menghancurkan dirinya.

Nah, bagaimana denganmu, Sobat Pintar? Apa kamu punya teman-teman yang toxic? Kalau iya, bagaimana caranya keluar dari pertemanan toxic? Yuk merapat! Kita ulas perkara toxic relationship ini.

 

Apa itu Teman yang Toxic?

ciri ciri teman toxic
Photo by Askar Abayev on Pexels

Kata toxic, yang cukup sering berseliweran di media sosial ini, diadopsi dari bahasa Inggris. Merujuk kamus, arti toxic sebagai kata sifat adalah beracun, sedangkan sebagai kata benda adalah racun. Secara istilah, arti toxic yaitu sesuatu yang berbahaya, beracun, atau merusak, baik secara fisik, emosi, ataupun sosial.

Kata toxic sering digunakan untuk menggambarkan perilaku, hubungan, atau lingkungan yang berdampak merugikan. Dari sini kita bisa menarik arti toxic pada pertemanan.

Teman toxic adalah seseorang dalam circle kita yang punya perilaku atau sikap yang merugikan atau berpotensi merugikan. Berada dalam pertemanan toxic lambat laun akan berdampak buruk bagi kita, baik secara emosional, mental, bahkan fisik.

 

Apa Dampaknya Punya Teman yang Toxic?

cara menghadapi teman yang toxic
Photo by Levi Guzman on Unsplash

Mau tau seperti apa dampak dari toxic friendship itu? Ada beberapa akibat yang mesti kita waspadai, Sobat. Di bawah ini adalah dampak dari toxic friendship yang mungkin akan dirasakan oleh seseorang yang berada dalam circle pertemanan toxic selama beberapa waktu, baik disadari atau tidak.

1. Merasa Stres atau Cemas

Interaksi yang terus-menerus dengan orang yang toxic bisa memicu tingkat stres dan kecemasan yang tinggi. Si toxic ini biasanya bikin kita merasa tegang, tidak nyaman, atau bahkan takut.

2. Kesehatan Mental Rendah

Pertemanan toxic berpotensi menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi, anxiety, atau self-esteem yang rendah. Saking seringnya berhadapan dengan perilaku yang merusak atau menghina, kepercayaan diri kita bisa hancur.

3. Merasa Terasing dan Sendiri

Saat berada dalam pertemanan toxic, kita biasanya merasa sulit mencari dukungan atau bantuan dari teman-teman yang lain. Pertemanan yang toxic itu pelan-pelan melumpuhkan kemampuan kita untuk menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain. Akibatnya, kita merasa terasing dan kesepian.

4. Produktivias dan Kualitas Hidup Turun

Stres sebagai dampak dari toxic friendship dapat berpengaruh terhadap produktivitas dan kualitas hidup. Kita menjadi susah fokus, merasa lelah secara emosional, atau bahkan sampai mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

5. Kesehatan Fisik Menurun

Siapa bilang dampak dari toxic friendship cuma pada kesehatan mental? Enggak, Sobat Pintar! Dampak dari toxic friendship bisa sampai memengaruhi kesehatan fisik kita. Stres kronis, yang terus-menerus berlangsung dalam waktu lama, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, dan masalah kesehatan lainnya.

6. Menyalahkan Diri Sendiri

Berada dalam circle pertemanan toxic bisa menumbuhkan kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri atas setiap masalah yang timbul. Ada banyak hal dalam hidup yang sebenarnya berada di luar kendali kita, tetapi pertemanan toxic bisa bikin kita merasa bertanggung jawab atas berbagai hal yang terjadi dalam hubungan tersebut.

7. Ketergantungan Emosional yang Tidak Sehat

Pertemanan toxic sering kali didasarkan pada ketergantungan emosional yang tidak sehat. Kita tergantung secara emosional pada orang lain ketika tidak mampu merasa bahagia atau lengkap tanpa kehadiran atau persetujuan orang tersebut. Rasa ketergantungan seperti ini membuat kita sulit keluar dari pertemanan toxic meskipun sebenarnya merugikan.

Dampak dari toxic friendship yang paling buruk adalah kehilangan identitas diri sendiri lantaran kita terlalu fokus pada kebutuhan dan keinginan teman yang toxic itu. Kita merasa terikat untuk selalu memenuhi harapan atau tuntutannya, menyesuakan diri dengannya, sampai kita kehilangan arah, tidak puas, dan bingung dengan hidup kita sendiri.

 

Apa Ciri-Ciri Teman yang Toxic?

dampak dari toxic friendship
Photo by Pete Linforth on Pixabay

Wah, serem juga ya, dampak dari toxic friendship itu, Sobat! Makanya, penting banget mengenali ciri-ciri teman toxic itu seperti apa. Nah, ini dia sederet ciri-ciri teman toxic yang wajib kamu perhatikan.

1. Vibe-nya Negatif

"Duh, kok panas, sih!" atau "Duh, kok hujan, sih!" Dari sejak bertemu, orang yang toxic itu ngeberebet terus dengan keluhannya. Mengeluhkan satu-dua hal yang benar-benar penting, atau bahkan genting, tentu boleh-boleh saja. Namun beda cerita kalau mengeluh tanpa henti lantaran melihat segalanya dari sudut pandang yang serba negatif.

Sudut pandang negatif itu juga yang bikin si toxic meremehkan, mencemooh, mengkritik, atau mengomentari pilihan hidup, keputusan, atau keadaan kita – bahkan yang ga penting dan tanpa diminta sekalipun. Cara menyampaikannya bisa berbeda-beda, terkadang cukup kasar seperti "Kamu ga cocok pakai warna pink cerah, kontras banget sama kulitmu" atau sambil bercanda yang menyinggung seperti "Ingat waktu kamu gagal SNBT tahun lalu? Hahaha konyol, kok bisa sih!"

2. Self-Centered

Bagi si toxic yang self-centered, satu-satunya pusat galaksi Bima Sakti adalah dirinya. Egoisnya bisa enggak ketulungan, tak peduli dengan perasaan atau kebutuhan kita. Segala hal hanyalah tentang dirinya dan keinginannya. Kita harus ada dan siap kapanpun si toxic ini menginginkan. Bisa-bisa dia kecewa sampai murka kalau kita punya prioritas lain.

Si toxic yang seperti ini biasanya enggak peduli-peduli amat dengan keadaan atau masalah yang kita alami. Terkadang dia dijuluki ratu drama, yang cukup caper dan lebay dengan apapun yang bikin dia merasa kesal, marah, sedih, atau kecewa.

3. Manipulatif

Si toxic yang manipulatif akan melakukan berbagai upaya, dari kata-kata sampai tindakan, untuk memengaruhi perilaku, sikap, atau pendapat kita sampai mendapatkan apa yang diinginkannya. Dampak atau risiko – bisa fisik, psikis, finansial, atau lainnya – yang kita tanggung tak jadi soal baginya. Parahnya lagi, tindakan manipulasi ini sering kali tidak kita sadari.

Contoh sederhana dari sikap manipulatif antara lain teman yang muncul setiap kali ada maunya, tetapi lenyap ditelan bumi saat kita sedang butuh bantuan. Contoh tindakan manipulatif lainnya adalah menggosip atau menghasut, yang merugikan seseorang lantaran dapat memengaruhi atau mengubah sikap orang lain terhadap seseorang tersebut.

4. Dengki dan Iri Hati

Betul, mengetahui isi hati orang itu enggak mudah. Namun teman yang tulus akan turut senang saat kita senang, ikutan sedih bila kita sedih. Sebaliknya, teman yang toxic cenderung mengabaikan, bahkan merendahkan kesuksesan kita. Rasa iri dengki yang dipendamnya membuat si toxic tidak bisa mendukung pencapaian atau keberhasilan kita.

Berada dalam circle pertemanan toxic dengan orang berciri-ciri di atas bisa sangat melelahkan, Sobat Pintar. Kecenderungannya, si toxic ini mendominasi hubungan dan berakibat orang lain merasa tidak dihargai. Pertemanan toxic biasanya penuh konflik, perdebatan, atau perubahan suasana yang mendadak, sehingga mood kita menjadi tidak stabil.

 

Contoh Pertemanan Toxic di Sekolah

keluar dari pertemanan toxic
Photo by Oscar Keys on Unsplash

Biasanya kita butuh waktu untuk mengenali ciri-ciri pertemanan toxic. Tak apa-apa, Sobat. Itu lumrah saja. Biar kamu ada gambaran, di bawah ini ada dua ilustrasi pertemanan toxic yang dapat kita jumpai di sekolah.

Pertama, ada si A yang selalu mencemooh nilai ujian si B. Si A sering mengejek si B di depan teman-teman yang lain dan membuat si B merasa rendah diri. Si B diam saja karena takut diasingkan jika menentang atau menjauhi si A. Si B ini terjebak dalam circle pertemanan toxic.

Contoh kedua, ada si C yang terus-menerus memanipulasi si D untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Si C sering memanfaatkan rasa bersalah si D atau mengancam si D untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin dilakukannya, terutama karena hal itu merugikannya. Si D yang berada dalam hubungan ini tidak bisa menghindar dan merasa tidak nyaman, tetapi sulit keluar dari situasi tersebut karena merasa takut atau memiliki ketergantungan secara emosional terhadap si C.

Dalam kedua contoh di atas, hubungan tersebut tidak sehat dan sebenarnya merugikan semua pihak yang terlibat. Kita harus berani keluar dari pertemanan toxic agar hubungan yang terjalin tidak menjadi sumber stres, kecemasan, dan bahkan masalah kesehatan mental.

 

Bagaimana Cara Menghindari Pertemanan Toxic di Sekolah?


Photo by Alex Alvarez on Unsplash

Pertinyiinnyi, kek mana menghindar atau keluar dari pertemanan toxic itu? Lha wong tiap hari ketemu! Jujur deh, pertanyaan kayak gini muncul di benakmu kan, Sobat?

Pelan-pelan pak sopir. Eh, maksudnya, pelan-pelan, Sobat. Di bawah ini ada beberapa macam cara menghadapi teman yang toxic. Kamu bisa pilih salah satu atau gunakan beberapa cara sekaligus.

1. Kenali Tanda-Tandanya

Oke, scroll lagi ke atas buat mengingat-ingat ciri-ciri teman toxic itu seperti apa. Rekam baik-baik dalam memori, dan gunakan common sense-mu saat bergaul. Dalam berteman biasanya kita sama-sama merasakan keseimbangan dalam memberi dan menerima dukungan. Kita juga sama-sama merasa nyaman. Setiap hubungan semestinya sesimpel itu, kan?

2. Bikin Batasan yang Jelas

Punya batasan yang jelas dalam berteman itu enggak sama dengan egois. Sampaikan apa yang bisa kamu terima dan apa yang tidak. Jangan ragu saat harus menolak permintaan atau tuntutan yang di luar nurul. Pastikan juga untuk menghormati dan menjaga batasan orang lain.

3. Ganti Circle

Untuk meng-counter circle pertemanan toxic, cari dukungan dari teman-teman lain di sekolah yang punya vibe positif. Temui mereka secara teratur dan habiskan waktu bersama mereka. Percaya deh, vibe positif itu bakal nular ke kamu!

4. Ungkapkan Uneg-Unegmu

Enggak mau ganti circle pertemanan toxic? Ga apa-apa. Kalau begitu, perbaiki hubungan pertemanan kalian.

Jangan dipendam terus, ungkapkan ganjalan yang kamu rasakan. Sampaikan apa yang bikin kamu merasa ga nyaman dalam pertemanan tersebut. Komunikasi yang terbuka dan jujur dapat membantu memperbaiki masalah dalam sebuah hubungan – atau, sebaliknya, mengakhiri hubungan tersebut jika diperlukan.

5. Temui Guru

Bila di sekolah kamu merasa sangat tertekan, atau bahkan terancam, jangan ragu untuk menemui Bapak/Ibu guru favoritmu, Wali Kelas, atau Guru BK. Beliau dapat memberikan saran dan bantuan yang kamu perlukan untuk mengatasi masalah tersebut.

6. Prioritaskan Kesehatan Mentalmu

Ingatlah bahwa kesehatan mental dan emosionalmu sangat penting. Jika hubungan itu bikin kamu merasa stres atau cemas yang berlebihan, pertimbangkan untuk menjauh atau bahkan mengakhiri hubungan tersebut.

7. Jaga Jarak

Kapan kamu membaca peringatan: Hati-Hati Jaga Jarak? Biasanya kita membacanya tertempel di belakang truk, kan? Peringatan itu enggak sembarangan loh, Sobat. Peringatan itu benar-benar ditujukan demi keselamatan semua pengguna jalan raya. Kali ini, tak ada salahnya menerapkan peringatan itu dalam pertemanan di sekolah.

Akan tetapi, sebaiknya langkah ini menjadi pilihan terakhir jika kamu menyadari bahwa pertemananmu sudah sangat toxic dan tidak mungkin lagi untuk diperbaiki. Jaga jarak bahkan bila perlu keluar dari pertemanan toxic demi kesehatanmu sendiri. Lalu, fokuslah pada hubungan pertemanan yang lebih positif dan suportif.

Keluar dari pertemanan toxic memang tak selalu mudah untuk dilakukan. Terkadang kita bisa sampai merasa bersalah bila harus mengakhiri sebuah hubungan. Namun bukankah kamu seberharga itu untuk berada di tengah-tengah circle yang tulus, Sobat Pintar?

30

Entri Blog Lainnya

thumbnail
thumbnail
Menambah Komentar

ArtikelTerkaitV3

Artikel Terkait

download aku pintar sekarang

BannerPromoBlog