redesain-navbar Portlet

Blog

Tips Merantau: Suka Duka Hidup Jadi Mahasiswa Rantau

Di mana pun universitasnya, jurusan apa pun, dan di tingkatan mana pun, mahasiswa rantau akan ditemukan disana.

tips merantau, Photo by Dino Reichmuth on Unsplash

Melanjutkan kuliah, bahkan tak jarang harus berstatus sebagai mahasiswa rantau, menjadi keinginan banyak orang. Pergolakan batin terjadi ketika kita dihadapkan dengan pilihan kuliah di universitas yang satu daerah dengan kampung halaman atau pergi merantau untuk kuliah di universitas yang jauh dari tempat tinggal.

Ketika ternyata diterima di universitas luar kota yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat tinggal, mau tak mau kamu harus hidup di perantauan dan menyandang gelar sebagai mahasiswa rantau. Tentu tidak mungkin kamu pulang ke rumah setiap hari setelah selesai kuliah dengan jarak ratusan kilometer. Berat di ongkos, berat di badan juga ya, Sobat.

Kehidupan di kota perantauan membuatmu harus siap mengalami berbagai hal pedih dan merasa homesick karena jauh dari orang tua, keluarga, bahkan teman satu geng. Namun sebagai anak rantauan, kamu bisa mendapat pengalaman menarik yang tidak akan didapatkan kecuali hanya dengan pergi merantau.

Salah satu pengalaman menarik itu adalah menunggu transferan bulanan yang tak kunjung datang. Dijamin, perasaan ini pasti cuma dirasakan mahasiswa rantau. Kamu juga harus mengerjakan banyak hal seorang diri, yang membuatmu lebih mengenal siapa dirimu, menjadi lebih handal dalam melihat masalah dan menyelesaikannya.

Masih banyak suka duka yang dialami mahasiswa rantau. Yuk, kita intip bareng serba-serbi hidup di perantauan, termasuk juga tips merantau yang penting buat kamu sebagai calon mahasiswa rantau.

 

Pergi Merantau, Persiapannya Gak Main-Main

anak rantau
Photo by Monstera on Pexels

Menjadi mahasiswa rantau itu butuh banyak persiapan. Pertama, kita harus menentukan di daerah mana akan menetap. Biasanya indekos yang dekat dengan kampus dan bisa ditempuh dengan jalan kaki adalah pilihan terbaik. Tinggal di indekos dengan kriteria seperti ini membuatmu lebih mudah ke kampus. Kalau bisa dekat, apa gunanya cari indekos yang jauh?

Pilihan tempat tinggal buat anak rantau enggak hanya indekos, Sobat. Kamu bisa juga memilih untuk tinggal di kontrakan. Bahkan, kontrakan menjadi pilihan yang pas jika kamu pergi merantau bersama teman-teman dari kampung halaman. Relasi yang telah terjalin akan memudahkanmu untuk hidup di perantauan bersama mereka di satu kontrakan.

Mahasiswa rantau juga harus menentukan fasilitas apa yang dibutuhkan di tempat tinggalnya yang baru. Apakah perlu AC,WiFi, kamar mandi dalam atau luar, butuh fasilitas dapur atau mau order makanan saja, fasilitas laundry, atau bahkan butuh supir (ini ngelunjak namanya), semua perlu dipikirkan. Enggak berhenti sampai situ saja, mahasiswa rantau juga perlu merancang barang apa saja yang akan mengisi kamarnya, akankah ada kulkas, meja belajar, lemari, atau printilan lain untuk menunjang kebutuhannya.

Saking banyaknya hal yang harus dipikirkan, Sobat Pintar yang akan menjadi mahasiswa rantau harus menyiapkan satu kunci utama. Apa itu? Yup, benar sekali, mental. Mental menjadi kunci penting yang harus dimiliki sebelum kita memutuskan untuk merantau. Punya mental yang kuat akan memudahkanmu beradaptasi dan berjuang di tanah rantau.

Perbedaan budaya di kota perantauan menuntutmu untuk agile, mudah dan cepat menyesuaikan dengan kebiasaan orang-orang di sekitar tempat tinggal barumu. Setiap daerah pasti punya larangan atau pantangan yang berbeda-beda. Nah, setiap anak perantauan harus tahu apa saja larangan di tempat baru itu dan menjauhinya agar dapat diterima dengan baik oleh lingkungan sekitar.

 

Hidup di Perantauan, Tekanannya Banyak

mahasiswa rantau
Photo by PDPics on Pixabay

Kamu sebagai mahasiswa rantau harus memulai kehidupan kuliah dengan tekanan yang jauh lebih berat daripada mereka yang tidak pergi merantau. Beradaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, kebiasaan baru, dan budaya baru membuat mahasiswa rantau harus pandai menyusun strategi agar bisa bertahan hidup di perantauan seorang diri. Emang tekanan seperti apa saja sih, yang sering dirasakan mahasiswa rantau?

Tekanan mahasiswa rantau tidak hanya tugas kuliah yang semakin lama semakin enggak masuk akal jumlahnya, tetapi juga tekanan pergaulan. Bertemu teman dari daerah lain menjadi tekanan baru bagi mahasiswa rantau. Perbedaan bahasa dan cara berkomunikasi yang tak jarang menimbulkan salah paham menjadi keluh kesah anak rantau yang sering terjadi. Oleh karenanya, kamu sebagai mahasiswa rantau harus berhati-hati saat berkomunikasi dengan teman dari daerah lain, ya.

Mahasiswa rantau juga paling tahu rasanya kesepian, yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Apalagi, medsos dapat membuat rasa kesepian, atau istilah kerennya homesick, datang kapan saja. Misalnya, enggak sengaja pas tengah malam ngeliat Instagram Story teman yang lagi dinner bareng mama papanya. Beeuuhhauto nangis! Mau pulang, tapi jauh. Enggak pulang, tapi kangen. Pergolakan seperti ini biasa dirasakan mahasiswa rantau.

Belum lagi, tekanan keuangan yang enggak kalah seremnya. Anak perantauan yang jauh dari orang tua tahu betul bagaimana beratnya berjuang di tanah rantau dengan jatah bulanan yang sangat terbatas. Nah, gimana tipsnya mengendalikan keuangan bulanan ala anak rantau?

Program penghematan yang biasanya dilakukan mahasiswa rantau adalah dengan makan di warteg tiap hari. Sebenarnya boleh aja kamu makan di resto bintang lima sekali-kali, tetapi jangan keterusan sampai jadi kebiasaan, ya. Kalau keterusan, uang jajanmu pasti akan habis sebelum akhir bulan. Terus, kamu pun akan ditemani mie instan setiap hari sambil nungguin transferan.

Tips berhemat berikutnya adalah dengan mencatat pengeluaranmu sehari-hari. Pencatatan ini dilakukan agar kamu tahu dana bulanan dihabiskan untuk apa saja. Buat anak rantauan, aplikasi pencatatan keuangan bisa membantu mengelola uang bulanan, loh.

 

Jauh dari Orang Tua, Harus Bisa Proteksi Diri

anak rantauan
Photo by Thao Le Hoang on Unsplash

Jauh dari orang tua dan keluarga menuntut mahasiswa rantau harus bisa menjaga dirinya secara mandiri. Jangan karena alasan menghemat akhirnya memilih makanan murah yang tidak memprioritaskan kebersihan. Penting bagi mahasiswa rantau untuk tetap aware atas kesehatannya. Kalau sampai jatuh sakit, entar siapa yang repot?

Bukan hanya kamu yang repot, tetapi orang tua dan keluargamu di kampung halaman bakal berkali-kali lipat repotnya. Kamu yang sakit dan jauh dari orang tua pasti membuat mereka sedih dan tersiksa. Jadi, penting banget untuk menjaga tubuh agar tetap fit. Jangan menambah beban pikiran orang tua dan keluarga di kampung halaman dengan lalai akan kesehatan.

Tidak hanya menjaga kesehatan, tetapi kamu juga harus menjaga keamanan diri. Yang namanya anak rantau, siapa lagi yang menjaga keamananmu kalau bukan dirimu sendiri? Kenali dengan baik siapa temanmu dan siapa orang-orang di sekitarmu. Sudah banyak kejadian kriminal dengan mahasiswa yang menjadi korban. Jadi kamu harus selalu berhati-hati di mana pun dan kapan pun ya, Sobat.

 

Jadi Anak Rantau, Komitmen dan Tanggung Jawab Harus Kuat

pergi merantau
Photo by cottonbro on Pexels

Hidup jauh dari orang tua bukan berarti kita bisa seenaknya bertindak. Jangan semata-mata tak ada lagi yang bisa nyiram air waktu bangun molor, malah bikin kamu bangun seenaknya. Saat jauh dari orang tua inilah sebenarnya komitmen kita sedang diuji. Apakah kamu sungguh-sungguh ingin berkuliah atau hanya ingin hura-hura?

Bermain bersama teman itu boleh, asal tidak setiap hari. Rebahan sambil scroll medsos juga boleh, tetapi jangan kelamaan atau sampai lupa waktu. Kalau mau tahu cara merantau agar sukses, kamu harus bisa kontrol diri dan jangan sampai lepas kendali. Tetap ingat kapan waktu makan, saat belajar, waktu me time, serta saat istirahat.

 

Tapi ada juga kok, sukanya menjadi anak rantau. Apa aja sih, hal yang bisa dibanggakan dari mahasiswa rantau? Yuk, simak bersama, Sobat.

 

Skill Mengatur Waktunya Enggak Perlu Diragukan

berjuang di tanah rantau
Photo by Free-Photos on Pixabay

Mahasiswa rantau pinter banget kalau urusan ngatur waktu karena banyaknya urusan yang harus dikerjakan. Mahasiswa rantau sudah terbiasa membagi waktunya untuk belajar, bersihin kamar indekos atau kontrakan, cuci baju, masak, mengerjakan tugas, mengurus organisasi, dan kegiatan lainnya setiap hari.

Beda banget sama mahasiswa yang tak harus berjuang di tanah rantau. Setelah selesai urusan kuliah dan organisasi, mereka bisa nyantai rebahan di kamar karena semua urusan telah dibantu atau disiapkan oleh orang tua dan keluarga.

 

Punya Waktu Fleksibel Untuk Bermain

cara merantau agar sukses
Photo by Scott Webb on Unsplash

Ini nih, salah satu motivasi merantau yang paling didemenin oleh kalian yang punya strict parents. Bener nggak, Sobat? Sebagai mahasiswa rantau, kamu bebas mempergunakan waktu sesuai keinginanmu. Kamu bisa menentukan sesukamu kapan bermain dan melepas penat, tanpa harus disuruh cepat pulang atau ditelepon, “Cepet pulang, nanti dikunci di luar!”

Tetapi kebebasan hidup di perantauan dan jauh dari orang tua seperti ini harus dipergunakan dengan bijaksana ya, Sobat. Sebagai mahasiswa, seharusnya kamu sudah tahu batas mana yang tidak boleh dilewati dalam urusan bermain ini.

 

Bisa Belajar Mandiri selama Hidup di Perantauan

hidup di perantauan
Photo by Vlada Karpovich on Pexels

Kamu tak perlu lagi menyisihkan uang untuk mengikuti seminar melatih kemandirian. Menjadi anak rantau membuatmu belajar menjadi mandiri setiap harinya. Mahasiswa rantau harus berusaha mencari solusi atas permasalahannya sendiri, bahkan terkadang tanpa bantuan orang lain. Sebagai anak perantauan, kamu terlatih mencari jalan keluar yang terbaik hingga akhirnya berhasil keluar dari situasi runyam yang mengintai.

 

Anak Rantauan Mentalnya Kuat

anak perantauan
Photo by Anthony Fomin on Unsplash

Seperti yang banyak orang bilang, “Anak perantauan biasanya mentalnya kuat.” Benar sekali. Mahasiswa rantau juga kuat, kuat nahan laper pas akhir bulan (anak sultan can’t relate).

Enggak gitu, canda kok, Sobat. Sebagai mahasiswa rantau, kamu sering menghabiskan waktu sendiri, sehingga kamu lebih mengenal pribadimu dengan baik. Lambat laun, kamu punya kontrol yang handal untuk merespon perkataan dunia luar terhadap dirimu. Kamu pun jadi enggak mudah overthinking!

 

Ada banyak keluh kesah anak rantau selama hidup di perantauan, jauh dari orang tua dan keluarga. Meskipun kedengarannya seram dan memprihatinkan, kamu wajib berbangga diri karena sejatinya kamu sudah selangkah lebih maju dibanding mereka yang tak harus berjuang di tanah rantau.

Ketika kamu merasa sudah ingin menyerah saat jauh dari orang tua dan hidup di perantauan, selalu ingat alasan pertama kenapa kamu memutuskan untuk merantau. Dengan begitu, kamu akan teringat kembali masa-masa ketika kamu berjuang untuk berada di titik ini sehingga kamu pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan beri hari ini.

Hidup di perantauan seperti yang kamu jalani sekarang dapat menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya kelak. Siapa tahu nantinya kamu diterima kerja di tempat yang jauh dari kampung halaman? Bila hari itu tiba, kamu sudah terbiasa hidup di perantauan.

Nah, bagi Sobat Pintar yang berencana jadi mahasiswa rantau, ulasan di atas bisa jadi pertimbangan. Ikuti juga Ngopi Bareng Kak Sandi di hari Jumat nanti, tanggal 5 November 2021, pukul 20.00 WIB – 20.50 WIB. Ngobrol-ngobrol santuy yang live di Instagram @akupintar.id ini bakal ngomongin Suka Duka Si Anak Rantau. Jangan sampai terlewat, ya!

© Aku Pintar

Sukanya hidup di perantauan akan menjadi kenangan manis, sedangkan dukanya menjadi pelajaran menuju masa depan yang lebih baik. Teruntuk Sobat Pintar yang sudah official jadi anak rantau, tips merantau di atas bisa dipakai agar kamu makin betah hidup di perantauan. Semangat, Sobat!

 

 

Penulis: Chatarina

Penyunting: Deni Purbowati

40

Entri Blog Lainnya

thumbnail
thumbnail
Menambah Komentar

CssBlog

metablog-web Portlet