APSiswaNavbarV2

redesain-navbar Portlet

kampus_pintar_v3

Informasi Seputar Berita Kampus

Informasi spesial untuk menambah wawasan Sobat Pintar tentang Universitas Gadjah Mada (UGM)

Berita Kampus

Kartika Putri, 19 April 2024

QS WUR by Subjects 2024, Lima Bidang Ilmu UNAIR Duduki Peringkat Satu Nasional

 Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mendapatkan pengakuan di tingkat internasional. Baru-baru ini, Quacquarelli Symonds (QS) World University Rankings (WUR) merilis pemeringkatan perguruan tinggi berdasarkan Narrow Subjects dan Broad Subjects. Menurut pemeringkatan itu, UNAIR berhasil mencatatkan namanya ke dalam jajaran perguruan tinggi terbaik nasional maupun internasional. Lima Bidang dan Peringkat Nasional Dalam pemeringkatan Narrow Subjects, sebanyak lima bidang keilmuan UNAIR menempati posisi 300 hingga 200 dunia. Posisi ini sekaligus menjadikan lima bidang keilmuan itu sebagai peringkat satu nasional. Kelima bidang tersebut di antaranya adalah accounting and finance (#101-150), modern languages (#151-200), economics and econometrics (#151-200), law (#151-200), dan pharmacy and pharmacology (#301-350). Tidak hanya itu, beberapa bidang ilmu lainnya juga berhasil menempati posisi top 350-200 dunia atau setara dengan peringkat dua nasional. Bidang tersebut yakni medicine (#301-350), sociology (#251-300), dan linguistics (#301-320). Untuk posisi selanjutnya, UNAIR menempatkan tiga bidang keilmuannya pada posisi ketiga dan keenam. Business and management studies (#251-300) dan biological sciences (#601-650) menempati posisi ketiga, sementara computer science and information systems (#651-700) berada pada posisi keenam. Sementara itu, UNAIR juga unggul pada kategori Broad Subjects. UNAIR menduduki posisi #401-450 atau setara dengan peringkat dua nasional pada subjek life sciences and medicine. Kemudian, pada subjek social sciences and management serta arts and humanities masing-masing berada pada posisi #244= dan #451-500. Terakhir, rumpun engineering and technology berada pada posisi #501-550 atau setara dengan peringkat empat nasional. Prestasi yang UNAIR raih dalam pemeringkatan kali ini tentu merupakan buah dari kerja keras, dedikasi, dan kolaborasi seluruh civitas academica. Pasalnya, peringkat yang UNAIR peroleh ini dinilai berdasarkan kinerja dari berbagai pihak. Sebagai informasi, QS WUR menilai kinerja tersebut berdasarkan lima indikator, yakni reputasi akademik, reputasi alumni, sitasi dari hasil publikasi, H-Index, dan jejaring penelitian internasional. Tahun ini, penilaian QS WUR didasarkan pada 55 subjek dengan total 1.559 perguruan tinggi terlibat. Penulis: Yulia Rohmawati    Sumber : Berita terkini UNAIR

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

Kartika Putri, 03 April 2024

Dies Natalis Ke-69, Perpustakaan UNAIR Sajikan Beragam Acara Edukatif

Perayaan Dies Natalis Ke-69 Perpustakaan UNAIR merupakan momen penting untuk merefleksikan perjalanan dan prestasi Perpustakaan UNAIR sejauh ini. Mengusung tema “Fiesta UNAIR Library 69”, acara tersebut berlangsung mulai tanggal 1 April hingga 2 Mei 2024 dengan menawarkan lima kegiatan utama.  Opening Ceremony di Perpustakaan UNAIR Kampus Dharmawangsa-B sukses dimeriahkan oleh penampilan band 12 am. Menariknya, band 12 am merupakan jebolan program musikustik yang digagas oleh Perpustakaan UNAIR bersama BEM UNAIR dan akustik mahasiswa.  Suguhan opening ceremony pada rangkaian kegiatan Fiesta UNAIR Library berhasil menghibur para pengunjung. Bahkan tidak sedikit yang membagikan keseruan momen tersebut di media sosial.  Fokus ke Internal Staf Humas Perpustakaan UNAIR Shiefti Dyah Alyusi S IIP menjelaskan, fokus rangkaian dies natalis kali ini sedikit berbeda dengan tahun kemarin. “Pada tahun ini, kita tidak mengundang pihak eksternal secara besar-besar seperti perayaan sebelumnya. Kalau sekarang kita fokuskan ke sivitas akademika UNAIR,”  ungkapnya. Itu sebabnya, Perpustakaan UNAIR menjalin kerja sama dengan komunitas ManifesTHINK dari FISIP UNAIR sebagai pemantik diskusi kebijakan publik. Termasuk mengadakan peresmian mini museum Airlangga serta seminar Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dengan pembicara Koko Srimulyo, Sri Fajar, dan perwakilan BEM UNAIR. Selain itu, terdapat acara donor darah dan meet and greet bersama seluruh sivitas akademika UNAIR. “Kalau dirangkum, kegiatan utama Festival Library UNAIR 69 ini ada lima. Pertama, diskusi kebijakan publik bersama ManifesTHINK tanggal 24 April. Kedua, Meet and Great tanggal 29 April. Ketiga, peresmian dan sarasehan mini museum Airlangga tanggal 30 April. Keempat, Seminar Hardiknas tanggal 2 Mei. Terakhir, donor darah di tanggal 2 Mei juga,” imbuhnya. Museum Mini Airlangga  Lebih lanjut, Shiefti menjelaskan perihal peresmian dan sarasehan mini museum Airlangga yang tidak ada pada acara dies natalis ke-38. Inovasi tersebut bertajuk Launching Galeri Airlangga dan Sarasehan Mengenang Kejayaan Prabu Airlangga di Lantai 3, Perpustakaan UNAIR Kampus Dharmawangsa-B. “Mini museum ini akan membahas seluk-beluk Prabu Airlangga dan sejarahnya. Makanya waktu peresmian di tanggal 30 April nanti kami mengundang sejarawan dari FIB,” kata Shiefti.   Sebagai penutup, Shiefti berharap Perpustakaan UNAIR senantiasa berbenah dan meningkatkan kualitasnya setiap tahun. Dengan demikian, perpustakaan tidak lagi dianggap sebagai tempat membosankan yang hanya berisi kumpulan buku.  “Perpustakaan tidak sekadar untuk mencari koleksi, tapi research support-nya. Perpustakaan juga bisa menjadi collaboration space sebagai sarana mewadahi mahasiswa untuk berkreasi. Selain itu, perpustakaan bisa juga sebagai tempat rekreasi melepas penat dengan seminar, talkshow, acara musikustik, atau apapun yang melibatkan mahasiswa,” pungkasnya. Penulis: Diana Febrian Dika Editor: Feri Fenoria Sumber : UNAIR News

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

Kartika Putri, 25 March 2024

Refleksi Daerah Plampitan dalam Lokakarya Ritus Liyan

Lokakarya “Ritus Liyan” Airlangga Institute for Indian Ocean Crossroad (AIIOC) telah memasuki penghujung kegiatan, yakni Jumat (22/3/2024). Berlangsung di Kampung Plampitan, Kelurahan Peneleh, Surabaya, program itu kembali mengulas perkembangan metodologi penelitian. Kembali hadir dalam kegiatan, Bintang Putra selaku Direktur Operation for Habitat Studies bersama Aarti Kawlra selaku Direktur Akademis Humanities Across Borders. Latar Belakang Penelitian Dalam pemaparannya, Bintang mengutip pernyataan dari Kepala Bappedalitbang, “Semoga cepat lulus dari kampung dan pindah ke hunian yang lebih layak.” Ia mengatakan, keadaan negara berkembang saat ini sebenarnya telah berkaca pada negara-negara maju. Fokus yang tertanam tentang bagaimana negara tampil dan membawa masyarakat berkembang menuju spektakuler, pertumbuhan ekonomi yang tidak terbatas. Padahal, kata Bintang, negara-negara maju justru seringkali menjadi penyumbang kerusakan. “Padahal di balik negara-negara yang maju, justru menjadi penyumbang kerusakan misalnya saja climate change,” ujar Bintang.  Sangat terlihat jelas keadaan kesenjangan atau kontras dalam sebuah kota, sebagai contoh pada daerah Tunjungan Plaza yang juga berjejer berbagai apartemen dengan Kampung Ketandan. Gambaran kontras itu menunjukkan bahwa terdapat permasalahan dalam perkampungan tersebut. Oleh karena itu, perlu solusi serta ilmu untuk mengatasi masalah tersebut. “Padahal sebenarnya yang perlu diberikan solusi, diajari justru gedung-gedung itu. Dan perkampungan malah ramah lingkungan dengan sedikit memberi limbah,” tambahnya.  Apresiasi Aarti Kawlra Di sisi lain, Aarti Kawira, sangat bersyukur atas proses penelitian yang berjalan dengan baik. Minggu yang sangat produktif baik bagi tim juga para partisipasi dalam penelitian ini. Melalui itu, para peneliti dapat mengetahui tentang kisah di balik suatu tempat, dengan saling berbagi, bercerita, sehingga akan mendapatkan informasi. “Dari kegiatan-kegiatan tersebut kita bisa tahu bahwa bercerita dapat menjadi bagian dari strategi penelitian,” ujar Aarti.  Dari gambar, percakapan, pengalaman, pemandangan, suara, rasa mengungkap suatu tatanan mendasar dan membentuk dasar dari suatu wawasan. Produksi kreatif, momen-momen penelitian serta keterlibatan yang dinamis membawa pada pengetahuan tentang tempat beserta rasa kepemilikannya. “Bahkan pada aspek-aspek seperti mitos, atau norma-norma sosial keseharian, aturan-aturan pemerintah bersatu untuk dibaca ulang dengan mempertimbangkan masa kini dan yang akan datang,” terangnya. Kegiatan ditutup dengan pemberian apresiasi berupa hadiah oleh Lina Puryanti S S M Hum Ph D selaku Wakil III Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Aarti KawIra. Lina memberikan kain ecoprint pada Aarti KawIra dan dibalas dengan kain berbentuk selendang yang berasal dari Mali, Afrika.  Penulis: Annisa Nabila Editor: Yulia Rohmawati Sumber : UNAIR News

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

Kartika Putri, 05 March 2024

FTMM Kenalkan Produk Buatannya ke Peserta SEGTA

Program SEGTA (Sustainable Energy and Green Technology Applications) yang diusung oleh Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga menginjaki hari keempat. SEGTA sendiri merupakan program student inbound tahunan yang dikemas dengan kegiatan kelas serta pengabdian masyarakat untuk mengeksplorasi sumber energi. Pada Senin (4/3/2024) , sebanyak 78 peserta dari 9 negara (Malaysia, Bangladesh, Nigeria, Tanzania, Gambia, Malawi, Sudan, Yaman, dan Afghanistan) diajak mengunjungi lima laboratorium milik FTMM. Lima laboratorium yang dikunjungi adalah Research Center Nanotechnology Engineering, lab RCeNREE , lab Rasena, lab EV-OS (Electric Vehicle on Study), dan lab Kombo (komunitas robotika UNAIR). Agenda Destinasi pertama mereka adalah Research Center Nanotechnology Engineering, sebuah laboratorium yang berfokus pada teknologi nano. Salah satu alat yang ditampilkan oleh FTMM adalah SEM atau scanning electron microscope. Sebuah alat yang dapat mengkarakterisasi material nano.  “Alat ini termasuk langka, karena hanya beberapa negara saja yang punya. Selain untuk melihat permukaan material nano (kasar atau halus, Red), ada juga fitur EDS (energy dispersive spectroscopy) yang dapat menganalisis unsur kimia dalam material,” jelas Farras selaku LO SEGTA. Peserta kemudian dibawa ke laboratorium RCeNREE, alat-alat yang dipamerkan adalah wind turbine simulator yang menjelaskan cara turbin angin bekerja, solar tracker (alat untuk mengikuti cahaya), AirFeel (perangkat monitoring cuaca dan kualitas udara dengan sistem internet of things (IoT) buatan civitas akademika FTMM), hingga drone untuk 3D mapping.  Laboratorium Rasena membawa rasa keingintahuan peserta naik, pasalnya yang ditampilkan adalah mobil listrik dengan charging station-nya. “Mobil yang ditampilkan itu hasil dari kompetisi Shell Eco-marathon 2023 lalu,” ucap Fisco selaku ketua Rasena UNAIR. Kembali diajak bersenang-senang, para peserta mencoba kendaraan listrik ESA (Electric Scooter Airlangga) dan SAGA (Sport Ability in Green Advantage) milik EV-OS UNAIR. ESA bermodel motor scooter namun dengan tenaga listrik. Sedangkan SAGA merupakan motor listrik bermodel motor trail.  Terakhir, destinasi kunjungan peserta SEGTA berlabuh pada laboratorium Kombo. Peserta diberi kesempatan untuk mengontrol robot humanoid buatan Kombo UNAIR. “Selain itu, ada robot penanam padi, robot pelempar barang, robot pemilah sampah, robot bawah air, robot terbang (drone), robot pesawat cepat, dan robot pesawat sayap tetap,” ujar Hilmi selaku ketua Kombo UNAIR. Testimoni Dalam wawancara eksklusif tim UNAIR NEWS kepada salah satu peserta dari Universiti Teknologi Malaysia, Muhammad Daniel bin Mohd Zulkepli. Menurutnya, pengalaman yang diberikan oleh SEGTA ini sangatlah menarik. Selain berkunjung ke Pulau Madura, SEGTA ini berguna bagi studinya.  “Saat di Madura, saya dapat mengaplikasikan ilmu saya untuk mengajar anak-anak. Saya juga exited dengan teknologi solar yang ada di FTMM, berhubung saya sedang membuat tesis master tentang energi solar,” katanya.  Penulis: Muhammad Naqsya Riwansia Editor: Feri Fenoria Sumber : UNAIR News

Baca Selengkapnya

Berita Kampus

Jadi Tuan Rumah, UNAIR Siap Sambut Gelaran PIMNAS Ke-37

Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) Ke-37 akan segera berlangsung. Kompetisi ilmiah bergengsi besutan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) itu akan terselenggara di Universitas Airlangga (UNAIR) sebagai tuan rumah. Ribuan peserta dari ratusan perguruan tinggi di Indonesia akan mengikuti gelaran PIMNAS 37 pada 16-22 Oktober 2024 mendatang. Terpilihnya UNAIR sebagai tuan rumah PIMNAS 37 tentu menjadi kebanggan tersendiri. Pasalnya, PIMNAS merupakan sebuah kompetisi nasional bereputasi tinggi yang mempertemukan mahasiswa berprestasi di seluruh Indonesia. “PIMNAS ini merupakan acara yang sangat bereputasi. Kita bisa saling terhubung dan berkolaborasi dengan mahasiswa hebat dari seluruh Indonesia,” ujar Prof Dr Bambang Sektiari Lukiswanto DEA Drh selaku penanggung jawab PIMNAS 37 UNAIR, Selasa (20/2/2024).   Kesiapan Fasilitas Sebagai tuan rumah, UNAIR telah melakukan persiapan secara bertahap. Persiapan itu mulai dari lokasi, konsep acara, akomodasi, hingga fasilitas penunjang lainnya.   “Kita sudah mempersiapkan secara bertahap berbagai hal terkait penyelenggaraan, mulai lokasi acara, fasilitas, akomodasi, serta berbagai aspek terkait PIMNAS lainnya,” terangnya. Seluruh rangkaian acara PIMNAS, lanjut Prof Bambang, akan berlangsung di Kampus MERR-C UNAIR. Mulai acara pembukaan, pameran, presentasi, hingga penutup akan menyebar di berbagai lokasi. “Jadi, kita akan ada lokasi masing-masing untuk pembukaan, penutup, pameran, dan presentasi, seperti di Airlangga Convention Center (ACC), sepanjang jalan (Malioboro, Red) UNAIR, hingga GOR. Kita juga melibatkan semua fakultas yang memenuhi syarat untuk mendukung jalannya PIMNAS ini,” ujar Prof Bambang.   Siap Sejak Lama Senada dengan Prof Bambang, Direktur Direktorat Kemahasiswaan UNAIR, Prof Dr M Hadi Subhan SH MH CN menyebut bahwa UNAIR telah siap secara teknis maupun sarana dan prasarana. Terlebih lagi, UNAIR sejak lama telah menjadi kandidat tuan rumah gelaran akbar tersebut. “Persiapan kita sudah seratus persen karena sebenarnya kita sudah siap jadi tuan rumah PIMNAS sejak beberapa tahun lalu. Akan tetapi, karena pandemi kemudian beralih ke perguruan tinggi lain yang mungkin lebih mudah untuk koordinasi dan lain-lain,”  kata Prof Hadi. UNAIR juga telah menerima peninjauan rutin dari Puspresnas terkait kesiapan gelaran PIMNAS. Peninjauan itu bertujuan untuk memastikan kesiapan seluruh aspek untuk mendukung jalannya PIMNAS di UNAIR. “Puncaknya Oktober nanti juga akan ada visitasi lagi dari tim Puspresnas maupun tim PIMNAS pusat terkait sarana dan prasarana apakah sudah layak,” jelasnya. Prof Hadi berharap, dengan kesiapan yang matang, PIMNAS 37 UNAIR dapat berjalan dengan lancar dengan hasil yang maksimal. Penyelenggaraan PIMNAS itu harapannya juga dapat menunjukkan eksistensi UNAIR sebagai perguruan tinggi yang mumpuni dalam menyelenggarakan kegiatan nasional. “Harapannya semoga PIMNAS berjalan dengan lancar dan kita bisa menunjukkan bahwa UNAIR menjadi perguruan tinggi yang mumpuni dalam menyelenggarakan acara kemahasiswaan seperti PIMNAS,” tegasnya. Sebagai salah satu bukti kesiapan, UNAIR juga telah menyelenggarakan sayembara logo dan maskot PIMNAS 37. Sayembara tersebut melibatkan seluruh civitas akademika UNAIR. Informasi lebih lengkap terkait sayembara tersebut dapat diakses melalui media sosial instagram @univ_airlangga. Penulis: Yulia Rohmawati Editor: Feri Fenoria Sumber : UNAIR News

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

FISIP UNAIR Terima Kunjungan dari Akademisi Prince of Songkla University Terkait Pemilu

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP UNAIR) menerima kunjungan akademisi dari Prince of Songkla University (PSU) di ruang Adi Sukadana pada Selasa (13/02/2024). Mereka membahas proses pemilihan umum yang akan dilaksanakan di Indonesia besok melalui program acara Election Watch. Para dosen dan mahasiswa aktif dari PSU berkunjung ke Indonesia untuk mengamati langsung dinamika politik Indonesia. Acara Election Watch yang diselenggarakan oleh FISIP UNAIR menjadi platform penting bagi para akademisi PSU untuk mendapatkan wawasan yang mendalam tentang sistem pemilu dan politik Indonesia. Asst Prof Dr Anwar Koma, dosen dari PSU, mengatakan bahwa sebelum kedatangannya ke Indonesia, ia melakukan riset melalui artikel, tayangan YouTube, dan email mengenai program Election Watch. “Sebelum datang, saya membaca email dan mendengarkan analisis pemilu di Indonesia secara sekilas melalui media online,” ujarnya. Acara Election Watch ini memberikan kesempatan kepada para dosen untuk mengamati langsung proses pemilu yang berlangsung setiap lima tahun sekali di Indonesia. Dalam kunjungannya, Prof Anwar menjelaskan tentang keterlibatan langsung antara dosen dan mahasiswa yang terjun ke lapangan dengan pembentukan study group. Proses itu diterapkan untuk mempermudah diskusi antara mahasiswa dan dosen PSU dalam mengobservasi pemilu. Kegiatan ini menjadi ajang timbal balik dari kunjungan program studi ilmu politik yang mengobservasi pemilihan di Thailand pada tahun 2023. “Para dosen sebelum datang ke sini memutuskan menerapkan kelompok studi di mana anggotanya terdiri dari dosen dan mahasiswa. Hal ini dipilih untuk mempermudah kami dalam berpendapat,” jelasnya. Kedatangan para dosen dan mahasiswa PSU bertujuan untuk memahami lebih dalam sistem pemilihan umum yang akan dilaksanakan di Indonesia. Dari kunjungan mereka, para dosen ingin mengetahui secara langsung pengetahuan para mahasiswa dari praktik lapangan di Indonesia. Dosen yang ikut mendampingi ingin melihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki mahasiswa dapat diterapkan dalam praktik lapangan. Selain itu, melalui Election Watch yang diselenggarakan di FISIP UNAIR, diharapkan akan memberikan wawasan baru bagi para mahasiswa. Terutama dalam konteks pemilihan umum, dan memahami teori-teori baru yang langsung diterapkan di lokasi. FISIP UNAIR, terutama Program Studi Ilmu Politik, berhasil memberikan ruang bagi akademisi internasional untuk memahami politik Indonesia. Para akademisi internasional terkesan dengan keramahan dan kemahiran mahasiswa dalam berbahasa Inggris.   Sumber : Fisip UNAIR

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

Rektor UNAIR Paparkan Kuota Penerimaan dan Sistem Seleksi Camaba

Rektor Universitas Airlangga (UNAIR), resmi membuka gelaran Airlangga Education Expo (AEE) 2024 pada Kamis (1/2/2024). Bertempat di Airlangga Convention Center, AEE merupakan gelaran pameran pendidikan tahunan yang diadakan secara rutin oleh UNAIR. Hadir pada kesempatan ini Rektor UNAIR beserta jajaran pimpinan. Prof Dr Mohammad Nasih SE MT Ak, mengatakan bahwa pada 2024 UNAIR akan menerima jumlah mahasiswa baru jenjang D3, D4, dan S1 sebanyak 9000 orang. Nantinya akan ada tiga jalur yang dapat calon mahasiswa baru (Camaba) ikuti. Jalur tersebut antara lain SNBP, SNBT, dan Mandiri. Prof Nasih menuturkan bahwa AEE merupakan bagian dari upaya UNAIR dalam memberikan transparansi pada sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru. “Hari ini kami buka AEE sebagai ikhtiar untuk memberikan informasi sejelas-jelasnya dan selengkap-lengkapnya kepada camaba. Sehingga siswa yang mendaftar sebagai camaba tidak salah pilih,” tuturnya. Kuota Penerimaan Lebih lanjut, UNAIR telah menetapkan jumlah kuota setiap jalur penerimaan mahasiswa baru. Kuota sebanyak 20 persen akan diperuntukan bagi jalur SNBP. Jumlah ini akan bertambah dengan adanya golden ticket. “Akan ada tambahan 2 sampai 5 persen melalui jalur golden ticket,” kata Prof Nasih.  Golden ticket terdapat beberapa kriteria yaitu prestasi akademik, ketua umum OSIS, dan prestasi keagamaan. Nantinya pada golden ticket, camaba akan terbagi menjadi beberapa nominasi. Sementara untuk jalur SNBT, UNAIR akan menerima mahasiswa baru dengan proporsi 30 persen. Lalu pada jalur mandiri sebanyak 50 persen. Seleksi mandiri ini terbagi menjadi beberapa bagian seperti mandiri prestasi, mandiri UTBK, mandiri ujian tulis, dan mandiri kemitraan.  Kriteria Penilaian Kriteria penilaian dalam SNBP berupa indeks siswa dan indeks sekolah. Nilai raport siswa yang bersangkutan akan dikonversi menjadi indeks siswa. Ranking siswa sekolah juga menjadi salah satu penentunya. Kendati demikian mata pelajaran pendukung tak luput dari penilaian. “Misal memilih jurusan kedokteran maka mata pelajaran pendukung yang kami perhatikan adalah biologi dan kimia,” terang Prof Nasih.   Indeks sekolah yang menjadi poin penilaian salah satunya keikutsertaan pada acara AEE. Selanjutnya, kualitas lulusan sekolah yang bersangkutan ketika menjadi mahasiswa di UNAIR. “Penilaiannya juga seperti mengikutsertakan siswa pada olimpiade sains yang kita miliki. Semakin banyak mereka mengirimkan siswa untuk mengikuti olimpiade milik kami dan hasilnya baik maka indeks sekolah semakin baik,” ungkapnya.  Pada jalur seleksi SNBT, hasil skor SNBT yang menjadi penentunya. Prof Nasih berpesan kepada para camaba untuk memperhatikan kemampuannya. “Sesuaikan pilihan dengan kemampuannya, karena hal ini akan memperbesar peluang lolos menjadi mahasiswa UNAIR,” paparnya.    Sumber : Berita UNAIR

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

Psikolog UNAIR Tekankan Pentingnya Pendidikan Pemimpin Visioner di Universiti Malaya

Dosen Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mendapatkan kehormatan untuk menjadi pembicara di salah satu kampus ternama di Asia. Kali ini, Dr Nur Ainy Fardana Msi selaku dosen Pendidikan Psikologi UNAIR menjadi guest lecture di Malaysia.  Acara ini berlangsung di Ruang BSEC 206, Faculty of Education, University Malaya pada Kamis (3/1/2024). Dengan mengusung tema besar Educational Forum Leadership & Early Childhood Management, Nany berkesempatan untuk memaparkan materi seputar mengenai The Role of Visionary Leadership in Educational Transformation. Dalam pemaparannya, Nany menyampaikan bahwa pendidikan adalah salah satu faktor terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu negara. Menurut Nany, transformasi pendidikan mengacu pada perubahan sistemik dalam model pendidikan yang berlaku.  Lebih lanjut, Nany menyampaikan bahwa transformasi pendidikan harus dilakukan oleh sistem pendidikan untuk menjawab tantangan abad ke-21 menjadi lebih relevan karena keadaan global.  “Semua pemimpin abad ke-21 harus melihat ke depan dan memiliki kemampuan yang berkembang dengan baik untuk mengantisipasi atau membayangkan masa depan. Mereka harus memiliki kebijaksanaan dan kemampuan untuk berpikir di luar kebiasaan serta memiliki kemampuan untuk mengubah krisis dan ancaman menjadi peluang,” jelasnya.  Alih-alih membutuhkan pemimpin yang memberikan pengetahuan dan inspirasi perubahan, menurut Nany di era transformasi ini institusi pendidikan lebih membutuhkan pemimpin yang dapat menavigasi dan mengarahkan evolusi ini menjadi semakin penting.  “Tanggung jawab para pemimpin tersebut tidak hanya terbatas pada tugas-tugas administratif, namun juga mencakup pandangan ke depan untuk mengantisipasi dan beradaptasi dengan kebutuhan yang muncul dari para pelajar dan pendidik di masa depan,” pungkasnya.  Selain itu, Nany mengungkapkan bahwa terdapat empat pilar yang harus diterapkan dalam kepemimpinan pendidikan visioner. Yaitu, visi pendidikan kepemimpinan  harus berorientasi pada masa depan dan inklusif serta mencerminkan pemahaman mendalam tentang perubahan global. Memiliki misi seorang pemimpin pendidikan adalah mengimplementasikan visi ini dengan kejelasan dan tujuan, mempertahankan fokus di tengah banyaknya trend dan permasalahan yang muncul di bidang pendidikan, serta kemampuan mengubah tantangan menjadi batu loncatan untuk kemajuan. Nany juga menyebutkan beberapa karakteristik yang biasanya dimiliki oleh para pemimpin visioner. “Idealnya biasanya mereka memiliki kemauan untuk terus belajar, berorientasi pada pelayanan, memancarkan energi positif, mempercayai orang lain, hidup seimbang, memandang hidup sebagai sebuah petualangan, bersinergi, selalu berlatih untuk meningkatkan diri guna mencapai prestasi yang tinggi,” paparnya.  Di akhir materi, Nany menyampaikan urgensi dari pemimpin visioner dalam transformasi pendidikan. Di antaranya, menetapkan visi yang menarik, menginspirasi dan memotivasi pemangku kepentingan, mendorong inovasi dan kemampuan beradaptasi, beradaptasi dengan kemajuan teknologi, merangkul keberagaman dan inklusivitas, memberdayakan pendidik, kolaborasi dan kemitraan, perbaikan dan evaluasi berkelanjutan.  Penulis: Lady Khairunnisa Adiyani Editor: Khefti Al Mawalia

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

Mahasiswa UNAIR Ciptakan Aplikasi Bantu Pengobatan Paliatif Pasien HIV/AIDS

Riwayat tindakan medis sangat penting terutama bagi perawat residen untuk memberikan perawatan selanjutnya kepada pasien. Hanya saja, tidak semua perawat dapat melacaknya, seperti halnya perawat residen RSUD Dr. Soetomo yang kesulitan melacak tindakan medis untuk pasien HIV/AIDS. Dari masalah tersebut, Hendriyan Ogivano mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (FST UNAIR) bersama dengan tim menciptakan aplikasi untuk membantu pengobatan paliatif pasien HIV/AIDS yang diberi nama “Med Buddies HIV/AIDS Medication Partner”. Aplikasi tersebut dapat membantu pasien untuk menjadwalkan minum obat secara teratur. “Kami membuat suatu aplikasi untuk membantu pengobatan paliatif pasien HIV/AIDS karena seringkali teman-teman penderita HIV/AIDS tidak minum obat secara rutin,” jelas mahasiswa Sistem Informasi tersebut. Tim Hendriyan antara lain Najibullah Ulul Albab mahasiswa FST, Rizki Jian Utami mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp), Rahmatul Habibah (FKP), dan Asih Parama Anindhia (FKP). Menurut Hend, sapaan akrabnya, ada beberapa tahap yang dilakukan dalam penelitian tersebut. Di antaranya yakni brainstorming, mencari solusi dan implementasi ke dalam sistem aplikasi. Tahap brainstorming, lanjutnya, dilakukan untuk mencari akar permasalahan. “Tahap awal yaitu melakukan brainstorming berulang kali untuk menemukan pokok masalah, lalu melakukan solusi dari permasalahan tersebut secara tepat. Setelah itu baru implementasi ke dalam sistem aplikasi,” jelas mahasiswa angkatan akhir tersebut. Hend menyampaikan bahwa dalam prosesnya, waktu menjadi salah satu kesulitan. Hal tersebut karena sulitnya mencari waktu yang tepat untuk melakukan brainstorming yang dilakukan secara berkali-kali. “Kesulitannya mungkin masalah mencari waktu yang tepat karena kan brainstorming dilakukan berkali-kali dan teman-teman juga waktu kosongnya tidak sama,” tuturnya. Hend juga mengungkapkan bahwa aplikasi tersebut telah melalui proses pengembangan dan telah diuji coba bersama tim. Tidak hanya itu, aplikasi tersebut juga dapat diunduh melalui play store. Dengan adanya aplikasi tersebut, Hend berharap ke depan aplikasi tersebut dapat berkembang lebih luas lagi tidak hanya masalah HIV/AIDS tetapi juga untuk penyakit-penyakit yang lain. Aplikasi tersebut menghantarkan Hend mendapatkan Silver Award kategori Best Project dalam ajang Management & Science University on Idea Regeneration Expo 2019 (MSU iREX 2019), pada 16-17 Desember 2019, di Chancellor Hall, Management & Science University, Malaysia. Selain itu, aplikasi tersebut juga mendapatkan gold award dalam ajang International Exhibition of Research, Idea & Innovation on Creative and Humanizing pada (16-18/12/19) bertempat Convention Hall, Level 5 E-Learning , Sultan Abdul Jalil Shah Campus (KSAJS), Sultan Idris Education University (UPSI), Malaysia. Aplikasi tersebut dalam diunduh melalui laman Play Store berikut ini https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ulul.medbuddies (news.unair.ac.id)

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

Mahasiswa FK UNAIR Masuk Top 5 Program Pertukaran dan Beasiswa Literasi Rotary ke Malaysia

Hanif Maulana Ibrahim Mahasiswa Kedokteran UNAIR angkatan 2019 berkesempatan mewakili Indonesia untuk mengikuti kegiatan Literacy Visit and Fellowship Programme atau Program Pertukaran dan Beasiswa Literasi Rotary ke Malaysia. Ia terpilih salah satu dari lima peserta yang telah mengikuti seleksi program kolaborasi Rotaract dan Rotary Surabaya. Program bertajuk “Rotary Connects The World-Literacy Visit and Fellowship Program to Malaysia” itu dibuka untuk mengembangkan kemampuan literasi generasi muda. Program tersebut diadakan di Malaysia mulai 29 Januari hingga 2 Februari 2020. Hanif sapaan akrabnya, menceritakan perjuangannya mengikuti program tersebut. Sebelumnya, ia harus membuat esai tentang literasi. “Awalnya dari sekian banyak peserta diseleksi esai. Di Indonesia menjadi 20 peserta. Kemudian seleksi wawancara hingga menjadi 5 orang saja. Lalu 5 orang delegasi berangkat menuju Malaysia,” ujar mahasiswa FK kelahiran Surabaya. Setelah di Malaysia, Hanif diharuskan mempresentasikan esai miliknya di University Teknologi Petronas (UTP) dan Taylor University. Esai yang dia buat membahas tentang permasalahan, tantangan, dan solusi dari rendahnya kemampuan literasi bangsa Indonesia. “Kemampuan literasi yang terdiri dari baca dan tulis merupakan modal dasar dari daya pikir dan kritis seorang manusia,” papar Hanif. Hanif mempersiapkan banyak hal sebelum melakukan presentasi esai yang ia buat di hadapan juri dan peserta lainnya. Menurutnya presentasi itu mengembangkan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Latihan berbicara ia lakukan agar tidak gugup saat presentasi esai miliknya. Terdapat pengalaman berharga bagi Hanif di sana, yakni sikap toleransi. Ia dipertemukan dengan orang dari berbagai macam latar belakang. “Karena saat ini hal tersebut terasa langka di Indonesia. Khususnya ketika kita bergaul dengan negara lain,” ucapnya. Di Malaysia, Hanif menjelajahi UTP, kampus yang merupakan salah satu dari 100 universitas terbaik dunia. Di sana ia merasa terbuka wawasannya terkait ilmu pengetahuan. Ia pun terpacu untuk mengembangkan literasi di Indonesia. Ia berharap, UNAIR juga mampu bersaing di kancah internasional. Hanif berharap program ini bisa membuka jalan bagi ia sendiri maupun kepada teman-teman agar bisa berkontribusi semaksimal mungkin bagi bangsa. (news.unair.ac.id)

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

Dosen UNAIR Ciptakan Hidrogel Kornea Berbasis Kolagen Glikopolimer Solusi Kebutaan Akibat Ulkus Kornea

Gangguan penglihatan atau kebutaan masih menjadi masalah serius di Indonesia. Tercatat hasil penelitian pada 2014-2016 terdapat 6,4 juta masyarakat dari 15 provinsi di seluruh Indonesia mengalami gangguan mata. Dari 6,4 juta orang di Indonesia yang mengalami gangguan mata, 1,3 jutanya mengalami buta, sementara 5,1 juta sisanya masuk dalam kategori sedang dan berat. Kebutaan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya ulkus kornea. Ulkus kornea merupakan salah satu kelainan pada mata yang dapat mengganggu fungsi penglihatan pada mata. Dari masalah tersebut Dr. Prihartini Widiyanti drg., M.Kes, S. Bio, CCD, berkolaborasi dengan dokter spesialis mata, dan tim PPDS (Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis) Departemen Mata RSU Dr Soetomo – FK Unair menciptakan “Hidrogel Kornea Berbasis Kolagen sebagai Alternatif untuk Kebutaan Akibat Ulkus Kornea”. Dr. Yanti menjelaskan bahwa penelitian yang berlangsung sejak tahun 2015 tersebut terus berkembang dengan memvariasikan material untuk mendapat karakterisitik kornea artificial agar lebih mendekati kebutuhan klinis. Seperti halnya keadaan yang harus lembab yang memfasilitasi pertumbuhan sel untuk mendukung penyembuhan. Bahan yang digunakan Menurut Dr. Yanti, dalam pengembangan hidrogel kornea terdapat beberapa bahan di antaranya kolagen dan kitosan. Kolagen yang digunakan, lanjutnya, merupakan kolagen tipe 1 yang banyak ditemukan di tubuh makhluk hidup dengan mayoritas menggunakan kolagen sapi. “Sumber kolagen ada beberapa macam seperti sisik ikan kakap merah, kolagen sapi dan kaki ayam. Kolagen tipe 1 terdapat di semua vertebrata dan karakteristiknya berbeda-beda,” terangnya. Sementara kitosan yang digunakan berasal dari ekstraksi makhluk hidup yakni cangkang udang dan kepiting. Tidak hanya itu, karena hidrogel kornea tersebut sintetik maka ada campuran dari bahan kimia. “Tergantung karakteristik yang kita tuju kalau misalnya kita menguatkan di kejernihannya akan lebih memerlukan material sintetik, karena bahan alam relatif lebih banyak pengotornya. Tapi kalau kita mau memfokuskan pada biokompatibilitasnya atau tingkat penerimaan dari tubuh ya tentu kita pakai bahan alam,” ungkapnya. Uji coba yang dilakukan Pengujian yang dilakukan, sambungnya, diantaranya uji in vitro dan uji in vivo. Dalam uji in vitro atau uji lab, menurut Dr. Yanti banyak melewati tahapan, mulai dari uji kimia, uji fisika dan uji biologi. Selanjutnya, in vivo atau uji biologis di dalam makhluk hidup dilakukan bersama dengan tim yang terdiri dari dokter spesialis mata dan PPDS mata untuk insersi /mengimplankan ke hewan uji. “Jadi awal uji itu ada stepnya ada uji skala lab yang kita sebut sebagai uji in vitro. Itu banyak sekali mulai dari konfirmasi sifat fisik, sifat mekanik, kimia dan biologi (sitotoksisitas yaitu menguji apakah material aman untuk diaplikasikan ke tubuh) harus kita kawal dulu. Baru kemudian kita akan menuju pada uji in vivo pada makhluk hidup yaitu uji biologis. Jadi penelitian kami sudah sampai ditahap implan ke hewan coba dibantu dengan dokter spesialis mata. Namun kami menyadari masih memerlukan langkah yang panjang untuk dapat diaplikasikan karena masih memerlukan optimasi pada beberapa karakteristik biomaterialnya,” terangnya. Dengan adanya penelitian tersebut, Dr. Yanti berharap, ke depannya akan menjadi benar-benar solusi untuk masalah perlukaan karena ulkus atau trauma pada kornea. (news.unair.ac.id)

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

Terobosan Mahasiswa UNAIR untuk Bibir Indah dan Sehat dengan Lipcard

Empat mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya dari Fakultas Sains dan Teknologi berkolaborasi membuat inovasi lipstik yang berbentuk kartu (Lipcard) dari ekstrak buah bit. Lipcard merupakan salah satu proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang berhasil mewakili Universitas Airlangga (UNAIR) sebagai PKM yang didanai Kemristek Dikti (Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi) di bidang Kewirausahaan. Dalam praktiknya, lipstik berbentuk kartu itu diberi nama Funtastis Lipcard. Pencipta lipstik berbentuk kartu atau lipcard itu adalah Eka Putri Armadani, Nurul Istikhomah, Erlyn Narishki, dan Salsa Bila Novita Sari. Ketiganya, dibimbing oleh Dr. Mohammad Imam Utoyo, M.Si. Menurut Eka selaku ketua tim, lipcard tersebut mengandung ekstrak buah bit yang berfungsi menjadi zat warna yang dapat dimanfaatkan untuk pewarna lipstik. Pada buah bit, jelasnya, terdapat betasianin yang merupakan pigmen merah bit yang tersusun oleh dua senyawa pigmen yaitu betasianin berwarna ungu kemerahan dan betaxanthin berwarna kekuningan. “Betasianin bersifat larut air, kaya akan nitrogen dan menghasilkan warna kemerahan sehingga potensial dijadikan sebagai pewarna alami,” imbuhnya. Ide membuat lipcard itu, lanjutnya, dikarenakan lipcard dapat digunakan sebagai alternatif cara berdandan praktis dalam waktu singkat. Terlebih untuk wanita yang sibuk dan kurang memiliki waktu luang. Tidak hanya Eka, Salsa salah satu anggota tim juga mengatakan bahwa, selain dapat digunakan sebagai alternatif cara berdandan praktis dalam waktu singkat untuk wanita yang sibuk dan kurang memiliki waktu luang, lipcard diharapkan bisa bermanfaat bagi banyak orang serta bisa menciptakan lapangan kerja baru. “Hal ini ke depan kami harapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya. “Untuk saat ini, fokus pemasaran melalui media online dan offline, juga harga yang ia pasarkan cukup murah hanya Rp 25.000,” imbuhnya. Pada akhir, ia juga mengatakan bahwa selain harga yang terjangkau, Funtastis Lipcard juga menawarkan tiga varian dalam satu kemasan. Sehingga, lanjutnya, konsumen bisa menyesuaikan warna lipstik dengan warna kulit mereka. “Funtastis Lipcard merupakan terobosan terbaru dalam dunia kosmetik dan juga mudah dalam penggunaannya, terbuat dari bahan-bahan alami, serta tidak mengandung pengawet,” pungkasnya.   source: http://news.unair.ac.id

Baca Selengkapnya
Berita Kampus

Psikolog UNAIR Sodorkan Solusi Pencegahan Pelecehan Seksual

Lima langkah solusi disodorkan oleh Dr. M.G. Bagus Ani Putra, Psikolog., Psikolog Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) untuk menghindari terulangnya kembali kasus pelecehan seksual seperti yang terjadi di sebuah rumah sakit swasta di Surabaya. Kasus yang ramai di media massa dan media sosial tersebut, seorang pasien perempuan mengalami pelecehan seksual oleh seorang perawat laki-laki. Pasien tidak melawan, karena diduga tidak sadarkan diri akibat efek anestesi dalam tindakan medis. Suami korban, yang juga seorang pengacara, melaporkan kejadian ini kepada penegak hukum. Saat ini kasusnya dalam proses yang berwenang. ”Solusi yang pertama, dalam penanganan medis antara pasien dan paramedis hendaknya yang berjenis kelamin sama. Ini untuk menghindari terjadinya pelecehan seksual,” kata Bagus Ani Putra kepada wartawan melalui sebuah media sosial grup, Jumat (26/1) siang. Solusi kedua, dalam penanganan keperawatan seperti itu sebaiknya dilakukan minimal oleh dua orang perawat, sehingga selain ada saksi juga sebagai tindakan pencegahan. Solusi ketiga, korban pelecehan dan lingkungan sosial harus berani melaporkan jika ada pelecehan. Ini untuk menghindari terjadinya pelecehan seksual yang berkelanjutan. Yang keempat, bagi organisasi professi hendaknya wajib menegakkan etika profesi. ”Kemudian, langkah hukum adalah tindakan tepat agar tidak terjadi main hukum sendiri,” kata Bagus Ani Putra, Ketua Pusat Humas dan Informasi (PIH) UNAIR periode 2012-2016. Dijelaskan oleh Dr. M.G. Bagus Ani Putra, ahli Sexual Psychology and Interpersonal Relationships UNAIR ini, mengutip pendapat Sigmund Freud, seorang tokoh psikologi, bahwa setiap manusia itu mempunyai tiga komponen dalam jiwanya yang mempengaruhi perilakunya. Komponen pertama adalah Id, yaitu dorongan, libido, dan keinginan-keinginan yang lain. Komponen kedua adalah Ego yaitu realita yang rasional berdasarkan status individu. Dan ketiga adalah super ego yaitu norma-norma yang ada. ”Menanggapi berita pelecehan seksual oknum perawat kepada pasien itu, dilihat dari analisa psikologi, pelaku pelecehan cenderung mempunyai Id yang tinggi sehingga mengalahkan Ego dan Super Egonya. Libido yang dibiarkan bebas akan mengalahkan realitanya sebagai professi perawat dan norma-norma atau etika professinya,” kata Dr. Bagus. Penyebab (anteseden) pelecehan lainnya bisa juga karena perilaku pelecehan seksual ini karena situasional. Misalnya kondisi korban yang lemah menguatkan perilaku pelecehan, dan umumnya pasien ”menyerahkan” keselamatan jiwa raganya kepada petugas medis. ”Inilah yang terkadang dimanfaatkan sebagai situasi yang melemahkan bagi pasien sebagai korban,” tambah Psikolog Sosial UNAIR ini. Penyebab yang ketiga, perilaku pelecehan seksual bisa diperkuat jika korban dan lingkungan sosial tidak bertindak untuk mencegahnya, misalnya melaporkan kejadian tersebut dan memberi social punishment kepada pelaku. (www.unair.com)

Baca Selengkapnya